Snow-white

Snow-white
Empat Tamparan Sekaligus



Ruangan yang luas itu jadi hening dengan aura yang mencengkram untuk Dabria. Jujur saja ini pertama kalinya Dabria berada dalam situasi seperti ini, berhadapan dengan wanita seperti Jihan. Cantik si, tapi sayang tatapannya itu menusuk.


Dabria sempat menyamakan nya dengan Kennan. Setelah beberapa saat, bi Inem datang dengan secangkir jus ditangannya. Bisa Inem langsung meletakkannya diatas meja, dihadapan Jihan, beliau kemudian mundur beberapa langkah untuk mensejajarkan diri dengan bi Sari.


Bi Inem terkejut mendapati Dabria yang sekarang berdiri dihadapan Jihan dengan kepala yang tertunduk, ia sudah seperti pelaku kejahatan yang siap menerima hukumannya.


Dari raut wajah bi Inem tersirat rasa khawatir pada Dabria, dari lirikan matanya menanyakan apakah Dabria baik-baik saja, Dabria yang mengerti maksudnya pun tersenyum tipis dengan anggukan kepala samar.


..."Kamu bisa buat jus gak si? Kenapa rasanya asam gini? " bentak Jihan setelah mencicipi jus lemon yang disediakan bi Inem. ...


..."Maaf Non, namanya juga jus lemon! " sahut bi Inem dengan kepala tertunduk...


..."Berani kamu jawab ya, " geram Jihan karena ucapan dijawab bi Inem...


Jihan berdiri dari duduknya, matanya menatap ketiga orang yang dihadapannya itu secara bergantian. Tatapan matanya kemudian berhenti di Dabria.


..."Hey kamu, buat kan saya jus yang baru, " perintah Jihan pada Dabria...


..."Ba.. baik! " sahut Dabria hendak melangkah namun langsung ditahan oleh bi Inem. ...


..."Biar bibi saja, Non" pintah bi Inem...


..."Hey pembantu rendahan, aku tidak menyuruh mu tapi dia, " ucap Jihan menghina bi Inem ...


..."Tapi Nona Jihan, Nona Dabria ini... " ucapan bi Inem tertahan saat Jihan mendekatinya...


..."Berani kamu lawan saya... "...


Plak........


..."Masih mau melawan lagi kamu? " bentak Jihan didepan wajah bi Inem...


..."Ya, Nona Jihan yang terhormat, anda cuma tamu di sini tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Tuan Kennan, jadi jangan bertindak seolah anda pemilik rumah ini! " jelas bi Inem membuat Jihan semakin murka...


..."Dasar pembantu rendahan! " hina Jihan...


Plak.......


Satu tamparan lagi berhasil mendarat dipipi bi Inem lagi, Dabria yang melihatnya pun menjadi geram.


Plak.......Plak...... Plak...... Plak


Empat tamparan sekaligus dilayangkan Dabria pada kedua pipi Jihan langsung membuatnya sedikit pusing. Bi Inem dan bi Sari yang melihatnya pun menatap tak percaya.


..."Beraninya kamu.... " teriak Jihan yang hendak melayangkan tangannya untuk menampar Dabria namun dengan cepat Dabria dapat menghentikannya. ...


..."Kenapa? Kamu tidak ada sopan santun nya sama orang yang lebih tua, kamu terus menghina bi Inem, kamu bahkan sampai menampar nya. Dimana hati nurani kamu? Oh, kamu bilang bi Inem pembantu rendahan, tapi kamu sendiri tidak sadar tingkah kamu malah lebih rendah, bisa dibilang murahan, " jelas Dabria membuat Jihan terdiam sekaligus tambah geram dibuatnya. ...


"Gila, aku pikir dia wanita yang polos yang lemah tidak bisa apa-apa sehingga mudah ditindas, nyatanya aku malah ditampar empat kali ditambah lagi ucapannya yang menusuk. " batin Jihan benar-benar tidak menyangka apa yang dilakukan Dabria padanya.


Benar-benar tidak disangka Dabria akan menampar nya. Jihan jadi berpikir, mungkin benar kata pepatah bahwa 'nilai buku jangan dari sampulnya saja' itulah pepatah yang cocok untuk Dabria. Jihan berpikir Dabria itu sosok yang polos dan mudah dimanfaatkan, namun nyatanya tak semudah itu. Mungkin awalnya Dabria hanya diam sehingga Jihan berpikir seperti itu.


*Bersambung.......


Terimakasih semuanya... Love All❤*