Snow-white

Snow-white
Suamiku Sekeren ini!



Setelah hampir empat puluh lima menit perjalanan, Kennan dan sekertaris Rai akhirnya tiba di pelantaran kantor.


Setelah mobil terparkir dengan rapih ditempat parkir, Kennan berjalan dengan gagahnya masuk kedalam gedung kantor.


Para karyawan yang berpapasan dengannya membungkukkan badan sebagai rasa hormat mereka kepada atasannya.


Kennan seperti biasa, hanya menanggapinya dengan anggukan, kadang Kennan juga tidak menunjukkan tanggapan apapun untuk menanggapi salam para karyawannya.


..."Rai, lakukan semuanya sesuai dengan apa yang sudah kukatakan. " Ucap Kennan pada sekertaris nya, Rai....


Keduanya kini telah berada di ruangan Kennan dengan posisi sekertaris Rai berdiri disamping Kennan yang sedang duduk menyandarkan punggungnya disofa.


..."Baik Tuan, saya pastikan semuanya sesuai dengan perintah anda! " sahut sekertaris Rai dengan ditanggapi anggukan oleh Kennan....


...*******...


Di sebuah gedung, tepatnya di sekolahnya Dabria. Semua siswa-siswi kelas dua belas sudah menyelesaikan ujian test nya dengan baik. Nilai yang Dabria, Zain dan juga Annisa raih sangat memuaskan.


..."Eh, Annisa nanti pulangnya bareng aku sama Dea aja, ya! " pintah Zain pada Annisa....


Posisi ketiganya sekarang sedang menikmati bakso di kantin sekolah. Dengan nilai ketiganya yang memuaskan, Zain berniat mentraktir Dabria dan Annisa sebagai rasa syukur.


..."Gak apa-apa, emangnya? " tanya Annisa...


..."Gak apa-apa! " sahut Zain membuat Annisa mengangguk pelan....


Semantara Dabria hanya memerhatikan keduanya sambil menikmati baksonya.


..."Ehmmm Zen, Bria boleh gak sekalian ketemu Ibu? " ucap Dabria penuh harap....


Dabria berharap dirinya bisa bertemu dengan wanita yang sudah menghadirkan nya di dunia ini. Dirinya benar-benar sangat rindu pada sosok yang sudah bertarung nyawa untuknya.


..."Boleh Dea , sekalian aku pengen kenal juga sama ibunya Dea, mertuanya kak Kennan."...


..."Iya Zen, makasih bangat. Akhirnya aku bisa ketemu Ibu lagi. " ucap Dabria dengan senyum bahagia yang ditampilkan di wajah cantiknya....


Mendengar ucapan Dabria, Zain mendongakkan kepalanya. Kembali mencerna ucapan Dabria dengan baik.


..."Maksud Dea? Apa selama dengan kak Kennan, Dea gak pernah ketemu lagi sama... "...


..."Iya, itu benar. Selama Bria mengikat perjanjian pernikahan kontrak dengan Tuan Kennan, Bria gak pernah lagi ketemu sama Ibunya sendiri. " jelas Annisa yang langsung membuat ucapan Zain terhenti....


Mendengar ucapan Annisa membuat Zain terkejut dengan sendirinya.


..."Maksudnya gimana? "...


..."Ya, Tuan Kennan yang sudah melarang Bria untuk ketemu dengan ibunya sendiri, kamu tahu itu. " tambah Annisa...


..."Nis, cukup! "...


..."Tapi Bria... "...


..."Aku mohon, Biar gimanapun Mas Kennan itu suami aku. "...


Memang benar kata Dabria, Kennan adalah suaminya. Walau hanya suami di atas kertas. Dengan status inilah Dabria tidak ingin membuka kelakuan buruk Kennan padanya selama ini, walau Annisa sekalipun.


Itulah sebabnya Dabria selalu memuji Kennan berbanding terbalik dengan sebenarnya setiap kali Annisa menanyakan padanya.


Memang sekarang sifat dan perlakuan Kennan sudah sedikit berubah jauh dari sebelumnya, menjadi orang yang peduli dan perhatian padanya.


Annisa pun menghentikan ucapannya, padahal dirinya ingin sekali menceritakan yang sebenarnya pada Zain dengan tujuan agar Zain dapat membantunya agar Dabria juga lebih sering bertemu dengan ibunya.


...*******...


Sebuah mobil berwarna hitam berhenti disebuah rumah berlantai dua. Setelah mobil yang ditumpangi oleh Dabria, Annisa dan Zain sudah terparkir rapih dihalaman rumah, Dabria langsung bergegas menghampiri Ibu Sarita yang rupanya sedang duduk di emperan rumah sambil menikmati secangkir teh.


..."Ibu... "...


Pelukan hangat membuat Dabria menitikan air matanya.


Dimana pelukan yang selalu membuatnya merasa tenang dan nyaman, sehingga membuatnya menitikan air mata.


Merasa ada yang membasahi pundaknya, Ibu Sarita segera melepaskan pelukannya dan sedikit mundur agar bisa melihat wajah putrinya dengan jelas.


..."Bria sayang, kamu kenapa menagis? " tanya ibu Sarita yang menatap sendu anaknya....


..."Gak Bu, Bria cuma bahagia aja bisa ketemu Ibu lagi, bisa merasakan pelukan hangat ibu lagi. Jujur Bria sangat rindu. " ucap Dabria sambil menghapus air mata yang membasahi pipinya....


..."Ibu juga sama, nak."...


Keduanya kembali berpelukan, ditambah lagi Annisa yang ikut bergabung dalam merasakan pelukan hangat itu. Zain yang sejak tadi melihat pun tak kuasa menahan rasa harunya. Matanya pun mulai berkaca kaca karena ini pertama kalinya Zain melihat kebahagiaan yang besar dari Dabria, seperti saat ini.


..."Kak Kennan keterlaluan, begitu teganya membatasi kedekatan Dea dan ibunya. Dasar manusia egois.Bisa-bisanya memadamkan kebahagiaan Dea hanya karena pernikahan kontrak." Zain merutuki kakaknya dalam hatinya....


..."Bu, kenalin ini Zain adiknya Mas Kennan. " ucap Dabria sambil menatap ke arah Zain setelah melepaskan pelukannya, membuat Zain langsung menghentikan lamunannya....


..."Permisi bu, saya Zain. " ucap Zain memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya....


..."Ah Iya, nak. Saya ibu Sarita , ibunya Bria dan Annisa." sahut Ibu Sarita sambil menerima uluran tangan Zain sembari membalas senyumannya....


Ibu Sarita mengajak ketiganya untuk makan bersama.


Mereka menikmati makan siang bersama-sama. Setelah makan siang, ibu Sarita menyiapkan teh dan cemilan untuk ketiganya diruang tengah.


Mereka saling bercerita dan bercanda bersama menciptakan suasana yang bahagia. Zain yang merupakan tipikal orang yang mudah bergaul dan menyesuaikan diri pun ikut merasakan suasana hangat ini.


Zain yang merupakan adik dari Kennan inipun bahkan menjadi orang yang paling heboh dalam bercerita dan membuat banyak candaan.


Satu jam telah berlalu, Dabria dan Zain pun pamit untuk pulang. Saat hendak pergi, Zain berjanji pada ibu Sarita bahwa ia dan Dabria akan datang lagi, dan din anggukan oleh ibu Sarita. Sarita bahagia mendengarnya.


..."Ibu tunggu ya, nak Zain. " ucap ibu Sarita dengan mata berbinar....


..."Iya bu, pasti! "...


...*******...


..."Zen, makasih ya udah mau ijinin Bria ketemu sama ibu. " ucap Dabria...


Posisi keduanya kini dalam perjalanan pulang setelah berpamitan pada Annisa dan juga ibu Sarita.


..."Iya Dea, kenapa kamu gak bilang si kalau kak Kennan gak pernah ijinin kamu ketemu sama ibu kamu sendiri."...


..."Mungkin mas Kennan punya alasan, aku mohon jangan pernah menyalakan mas Kennan lagi. Zen taukan, biar bagaimanapun juga mas Kennan itu suami Bria. "...


..."Bria..... " belum sempat melanjutkan ucapan, Dabria dengan cepat mengelaknya....


..."Zen.... " Zain pun hanya mengangguk karena tak tega dengan raut wajah memohon Dabria....


Zain menarik napas beratnya.


..."Hah, iya Dea! " Dabria pun tersenyum....


Sisa perjalanan mereka diiringi dengan cerita yang tidak masuk akal hingga mereka tiba di pelataran rumah.


Keduanya terkejut saat hendak melangkahkan kaki masuk kedalam rumah, rupanya Kennan sudah pulang lebih dulu dan sedang duduk santai diruang tengah dengan pakaian rumahan, yakni baju hitam polos dan celana pendek selutut menambah ketampanannya.


Tampilannya benar-benar membuat Dabria terdiam dalam lamunannya.


..."Ternyata suamiku sekeren ini. Ya Tuhan, aku baru menyadarinya. " gumamnya dalam hati....


Sangking asiknya melamun, Dabria bahkan tidak menyadari bahwa Kennan juga menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.Hingga ucapan Kennan yang menyebut namanya membuatnya terhenti dari lamunannya.


Bersambung.......