Snow-white

Snow-white
Bab 2 : Tulisan Darah



Entah sudah berapa lama, akhirnya Dinie kembali siuman dan mendapatkan dirinya sudah terbaring ditempat tidurnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Agnes sepupunya, yang memandangnya dengan wajah cemas.


“Dinie...Akhirnya kamu siuman juga, apa yang terjadi? Aku dengar dari kamar sebelah, kamu menjerit?” buru Agnes langsung.


“Cer...Cermin itu...Cermin itu...” tangan Dinie langsung mengacung ke arah cermin ‘Snow White' nya. Membuat Agnes ikut menoleh ke arah cermin.


“Ya, memangnya kenapa cermin itu?” tanya Agnes tak paham.


“Aku...Aku melihat Bebbi...Keluar dari cermin itu...” seolah kering tenggorokan Dinie ketika mengatakannya, gadis itu tiba – tiba merasa sia – sia mengatakan itu pada sepupunya, karena dilihatnya Agnes hanya tertawa menanggapi kata – katanya.


“Kamu! Masih saja mengingat Bebbi, sudah hampir setengah tahun lho sejak kita liburan ke Padang, masih juga nama itu yang mengganggu pikiranmu, ingat Rikki, Din...Kamu sudah punya Rikki sekarang, nanti Rikki marah lho kamu masih juga menyebut – nyebut Bebbi?” omel Agnes panjang – lebar.


Dinie hanya terdiam mendengar omelan sepupunya. Saat ini masih pukul dua dini hari. Sebenarnya apa yang barusan terjadi? Ketika aku menyisir di depan cermin, melihat betapa Bebbi merayap turun dari cermin...Apakah semua itu hanya mimpi? Mimpi? Aku tidur saja belum? Ta..Tapi?...Dinie menggidik sendiri mengingatnya. Gadis itu memandang cermin ‘Snow White' nya, tak ada yang aneh, kini cermin itu tampak wajar sewajar cermin – cermin ukiran jati biasa yang tergantung di dinding. Oh, entahlah...Hmm...Atau...Atau sebaiknya aku kembalikan saja cermin itu ke bapak tukang loak itu ya? Daripada aku jadi berhalusinasi melihat yang tidak – tidak...Dinie berpikir – pikir, dengan perasaan tidak enak.


*****


Siang itu Dinie pergi ke halte bis yang biasa menjadi tempatnya menunggu bis sepulang dari kampus, tempat kemarin dia bertemu dengan bapak tua tukang loak itu. Ditemani Rikki, gadis itu akhirnya memutuskan untuk mengembalikan saja cermin ‘Snow White’ yang ternyata menakutkan itu pada bapak tua tukang loak yang menjualnya. Rikki adalah teman kampus Dinie, yang baru sebulan ini resmi menjadi kekasih Dinie. Sudah lama Dinie mengenal Rikki, tapi baru sebulan ini dia menerima cinta Rikki, baru sebulan ini akhirnya. Sebelum itu Dinie yang masih belum bisa melepaskan Bebbi dari ingatannya, sangat sulit nenerima kehadiran Rikki, walau waktu sudah setengah tahun berjalan sejak kejadian mistis yang dialami Dinie bersama Agnes saat mereka liburan ke Padang tempat pertemuan dengan Bebbi, walau Dinie sudah berjuang untuk melupakan, tapi masih saja foto Bebbi yang di print dari facebook, tersimpan rapi di laci meja rias Dinie. Rikki cukup sabar menghadapi Dinie yang masih setengah hati menerimanya, pemuda itu terlanjur terpesona akan kesetiaan cinta Dinie pada seseorang yang sudah diyakini tiada, dan berusaha mati – matian merebut kesetiaan cinta itu


Dinie dan Rikki heran melihat halte tampak begitu ramai, ada garis polisi melintang disana, beberapa orang berseragam polisi mondar – mandir memeriksa sesuatu. Sementara yang lainnya, sekelompok warga masyarakat, tampak berkerumun berbisik – bisik dengan wajah gundah. Karena rasa ingin tau, Dinie dan Rikki mendekati kerumunan itu.


“Ada apa ya?” tanya Dinie pada salah satu orang yang berkerumun.


“Ada mayat, mbak...” sahut orang itu membuat Dinie terbelalak, saling berpandangan dengan Rikki.


“Mayat?!” Dinie menyeruak kerumunan karena penasaran. “Astagfirrullah...”


Dinie mendekap mulutnya melihat kondisi mayat yang belum ditutupi oleh polisi. Mayat itu diperkirakan sudah dari tadi malam tersuruk dibawah bangku halte. Mayat itu seorang bapak tua berpakaian lusuh, matanya masih mendelik terbuka, mulutnya ternganga menampakkan sederetan gigi – gigi ompongnya. Kontan mengingatkan Dinie pada seseorang yang sedang dicarinya, oh, tidak! Itu...Itu kan bapak tua tukang loak yang menjual cermin ‘Snow White' kemarin! Batin Dinie lemas Pa...Padahal aku baru saja hendak mengembalikan cermin itu...


Dinie melihat tangan mayat bapak tua itu mengepal kuat seolah baru saja usai menjambak seseorang karena ditangan itu terbelit helai – helai rambut hitam panjang. Apakah itu rambut pembunuhnya? Dinie menggidik ngeri, tak tahan memandangi mayat bapak itu lama – lama, gadis itu buru – buru berpaling dari situ, dan mengikuti saja Rikki yang menarik tangannya untuk segera meninggalkan kerumunan itu.


Sekarang bagaimana aku mengembalikan cermin itu? Bapak tua tukang loak itu sudah tiada. Sedangkan aku tak tau siapa pemilik cermin yang sebenarnya, bapak tua tukang loak hanya mengatakan bahwa dia mengambil cermin itu dari depan rumah orang kaya...Rumah orang kaya yang mana? batin Dinie begitu gundah.


“Memangnya kenapa sih cerminnya harus dikembalikan ke bapak tua tukang loak yang menjual? Kalau kamu mau menyingkirkan cermin ini, bawa saja ke tukang loak yang lain? Atau kalau mau gampang, buang saja ditempat pembuangan sampah, selesai!” Rikki penasaran juga melihat Dinie yang tampak gundah karena tidak bisa mengembalikan cermin itu pada bapak tua tukang loak yang menjual.


“Bukan hanya soal menyingkirkan, tapi cermin itu...” Dinie tak tau harus menjawab apa pada Rikki, gadis itu takut Rikki hanya akan mentertawakannya saja, seperti Agnes, jika dia menceritakan apa yang sudah dilihanya malam itu.


“Cerminnya kenapa? Berhantu begitu?”


“Mungkin...”


“Hah? Please deh?”


“Sudah ah, kita pulang yuk?”


“Pulang? Jadi cermin ini?”


“Bawa saja lagi...”


Rikki mengomel panjang - pendek karena harus membawa kembali cermin ‘Snow White' yang sedari tadi dipanggulnya dalam ransel besarnya, Dinie pura – pura tak mendengarnya.


Ketika sebuah bis trans kota datang, Dinie melompat naik ke dalamnya, yang mau tak mau diikuti oleh Rikki. Dinie merasa lebih baik pulang dulu agar pikirannya bisa jernih memikirkan apa yang harus dilakukan pada cermin ‘Snow White’ yang menakutkan itu.


Siang itu jalanan yang ramai membuat bis itu beringsut perlahan. Dinie meneguk minuman yang dibawanya sambil memandang keluar dari kaca jendela bis, sementara disampingnya Rikki sibuk dengan handsphree nya mendengarkan musik lewat smartphonenya. Dinie tiba – tiba tertegun memandang kaca jendela bis, eh? Kok seperti ada bayangan seseorang? Bayangan seseorang yang sedang menatapnya dengan mata coklat mudanya, rambutnya yang tergerai sampai ke bahu tak bisa menyembunyikan wajahnya yang seperti indo...


“Eh apa aku tidak salah lihat?...Bebbi?” Dinie cepat menoleh ke arah sebaliknya, bayangan itu terpantul seolah sosoknya ada di deretan kursi bis di samping kursi Dinie dan Rikki.


“Apa?” Rikki bertanya karena Dinie tiba – tiba menoleh, membuat gadis itu gelagapan tak tau harus menjawab apa. Sementara sosok bayangan yang hendak dicari Dinie, hampa, tidak ada dimanapun.


‘AGNES’ tulisnya. Tapi setiap goresan tulisan itu penuh darah segar yang meleleh pada kaca bis, seolah Bebbi menulis dengan darahnya sendiri.


Ke..Kenapa Bebbi menulis Agnes? Batin Dinie terkesiap. Apa maksudnya? Apakah ini pertanda?


“Hei, Kok kelihatan kaget?” tegur Rikki yang duduk disebelah Dinie dalam bis itu.


“Eh, nggak...Anu..Ada orang yang menatap aku dari jalan situ, membuat aku kaget...” sahut Dinie berbohong, karena percuma mengatakan yang sebenarnya, Rikki pasti tidak percaya.


“Mana? Naksir kamu kali dia?”


“Ah sembarangan saja kamu!”


“Bisa saja kan? Habis kamu cantik...”


Dinie merengut mendengar kata – kata Rikki yang jelas sedang menggodanya. Si Rikki ini nggak tau orang lagi kaget, malah digoda, gerutu Dinie dalam hati. Tapi kata – kata itu manjur juga mencairkan rasa kagetnya akan kemunculan bayangan Bebbi di kaca bis. Dinie melirik kaca itu, bayangan Bebbi kini tampak sudah raib, begitu juga dengan tulisan darah itu.


Sampai mereka turun dari bis di halte dekat kawasan rumah kost mereka – secara Rikki pun tinggal di rumah kost di kawasan yang sama - Dinie tak habis pikir. Apa maksud Bebbi menulis ‘Agnes'? Apakah ada yang terjadi dengan Agnes? Oh Tuhan, jangan deh...Gadis itu menggidik. Cukup sekali aku melihat hal yang menyeramkan hari ini...Mayat bapak tua tukang loak itu...Jadi jangan sampai ada hal – hal menyeramkan lagi ah...


Rikki mengantarkan Dinie sampai ke depan rumah kostnya dan menyerahkan cermin ‘Snow White' yang dipanggulnya kepada Dinie. Gadis itu menarik nafas lega ketika masuk ke dalam rumah kost nya, dan melihat Agnes baik – baik saja, sedang sibuk menyuap nasi gorengnya sambil duduk di sofa yang ada didepan kamarnya.


“Hai, belum makan kan? Itu masih ada nasi goreng 1 porsi lagi, sengaja kubelikan untukmu.” tawar Agnes berbaik hati.


“Ah tau saja kamu kalau aku belum makan...Thanks yaa sepupuku yang cantik!” kata Dinie dengan hati ringan, sambil meletakkan tasnya dan segera mengambil piring nasi gorengnya.


“Bagaimana? Sudah berhasil membuang cermin ‘Snow White' mu?” tanya Agnes sambil makan.


“Belum...”


“Lagipula kenapa dibuang sih? Cermin itu bagus kok? Antik lagi, sayang lho kalau dibuang...” kata Agnes tak mengerti kenapa Dinie berkeras hendak membuang cermin berukiran jati itu. Dinie hanya diam saja, tak menjawab kata – kata itu, ah kamu tak mengerti, Agnes...batinnya sambil menyuap nasi gorengnya.


Sampai menjelang malam, tidak terjadi apa – apa pada Agnes seperti yang dikuatirkan Dinie. Semua berjalan normal – normal saja. Akhirnya Dinie hanya mengangkat bahu. Mungkin aku hanya berhalusinasi waktu di bis tadi, buktinya sampai sekarang aman saja tampaknya...


“Din, aku tidur denganmu ya?” Agnes masuk ke kamar Dinie sambil membawa bantalnya, malam itu.


“Boleh, tapi tumben...Kenapa? Lagi ada masalah ya?” tanya Dinie yang baru saja selesai berbicara di telepon dengan Rikki.


“Enggak...Hanya perasaanku nggak enak saja, sejak dari maghrib tadi aku merasa seperti ada yang mengikutiku..” terang Agnes sambil duduk di sebelah Dinie ditempat tidur, kata – kata itu membuat Dinie duduk dengan sikap siaga.


“Apa?! Ada yang mengikutimu? Laki – laki atau perempuan?”


“Aku tidak tau, hanya merasa saja...”


“Oke...Tenang...Kamu tidur denganku malam ini, pasti aman karena kita akan mengunci semua pintu dan jendela, sehingga orang yang mengikutimu tak akan bisa masuk...”


“Ta..Tapi bagaimana kalau yang mengikutiku itu bukan orang?”


“Ada – ada saja kamu ah! Jangan bicara yang tidak – tidak...Lebih baik sekarang kita tidur saja, yuk? Sudah pukul 10 ini...” Dinie buru – buru menepis dugaan Agnes yang menyeramkan itu, sebelum dia juga ikut ketakutan.


Agnes merebahkan diri disamping Dinie, berusaha tidur. Sementara Dinie memandang cermin ‘Snow White' nya yang akhirnya tergantung lagi di dindingnya, teringat lagi olehnya tulisan Bebbi. Mungkinkah...Mungkinkah ini maksudnya? Ada yang mengganggu Agnes? Tapi siapa? Atau apa? Ah Bebbi, seandainya kamu dapat menjawab pertanyaanku...


Dinie menghela nafas, gadis itu gelisah. Suka tak suka, kekuatirannya pada Agnes membuat dia jadi berhalusinasi yang tidak – tidak, dia merasa malam itu terasa terlalu hening bagaikan mati, tak ada bunyi apapun, bahkan suara kendaraan yang melintas di depan rumah kost pun seolah menghilang. Kenapa ya? Apa ini hanya pikiranku saja? Atau karena aku terlalu kuatir dengan Agnes sehingga aku merasa was - was?


Lama rasanya, dan entah kapan, Dinie akhirnya jatuh tertidur juga. Begitu pulas. Menit demi menit, detik demi detik, begitu berat rasanya jam dinding itu bergeser menuju pukul 12 tengah malam. Saat detak jam itu akhirnya tiba juga di pukul 12 tepat, tak ada yang tau, tiba – tiba cermin ‘Snow White' seperti ‘hidup’, tampak mulai berpendar – pendar aneh, mengeluarkan wewangian bunga melati yang harum merebak bercampur dengan bau anyir darah...