Snow-white

Snow-white
Bab 7 : Keputusan Nekad



Dinie merasa begitu iba, ketika memperhatikan seorang gadis belia dengan gerobak barang bekasnya, terduduk kelelahan di halte bis, tempat dimana Dinie juga sedang menunggu bis siang itu. Dinie baru pulang dari kampus, sendiri, tidak bersama Rikki hari itu, karena sejak kemarin Rikki mendadak harus pulang ke kampungnya. 


Sudah sering Dinie melihat gadis itu mondar – mandir melewati halte itu dengan gerobaknya. Tapi baru kali itu Dinie melihat sang gadis begitu lelah.


Bukan hanya karena pakaiannya yang lusuh, atau karena gerobak barang bekasnya, yang membuat Dinie iba. Tapi juga wajah gadis itu. Wajah hitam manis gadis itu penuh bekas luka cakaran! Apa yang terjadi dengan gadis itu ya? Batin Dinie sangat prihatin.


Karena merasa diperhatikan, gadis belia yang kira – kira baru berusia belasan tahun itu menoleh.


“Kakak mau beli barang – barang ini?” tegurnya membuat Dinie terjengah.


“Eh...Oh..Jualan barang bekas ya?”


“Iya...”


“Kamu tidak sekolah?”


“Tidak kak, aku harus menggantikan kakek mengumpulkan dan berjualan barang bekas, kak. Kalau tidak, adik – adikku tidak makan...”


“Oh...” Dinie tertegun mendengar itu. “Memangnya kemana kakekmu?”


“Kakek sudah meninggal...” raut wajah gadis itu berubah menjadi muram ketika mengatakannya.


“Innalillahi wa inailaihi rojiun...”


“Kakek meninggalnya disini, kak...Di halte ini...”


“Haa, meninggal disini? Bagaimana bisa?”


“Kakek...Meninggal karena dibunuh hantu...” gadis itu berkata getir.


“Ah jangan becanda kamu, dibunuh hantu bagaimana?” Dinie terbelalak mendengar kata – kata gadis itu.


“Aku tidak bercanda, kak! Hantu itu bahkan sempat mencakar wajahku juga...Sakit sekali kak...” gadis itu meraba wajahnya, seolah terbayang lagi olehnya sakitnya cakaran itu.


"Hantu itu mencakar wajahmu?"


“Iya kak...Kami dikejar – kejar hantu, sampai kakek akhirnya menjual cermin itu, kata kakek supaya kami tak dikejar hantu lagi...Tapi kakek justru terbunuh dengan hantu itu setelah berhasil menjual cermin...Kakek terbunuh karena melindungi aku...Karena sepertinya aku yang dicari hantu itu..”


Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan, bergidik penuh kengerian.


“Cermin?! Maksudmu?” Dinie mulai tak enak, karena merasa mengenali ‘hantu' yang diceritakan si gadis.


Tapi gadis itu tak segera menjawab, masih menutup wajahnya, seperti hendak menangis, mungkin terbayang kembali olehnya kejadian menakutkan yang merenggut nyawa kakeknya. Dinie begitu iba melihatnya, dan menyentuh bahu gadis belia itu mencoba menghibur.


“Eh maaf kak...Aku terkenang dengan kakek...“ gadis itu seperti kembali tersadar, dan buru – buru menjawab Dinie. “Iya kak, cermin...Cermin itu ditemukan kakek di depan rumah orang kaya...Cerminnya antik dan masih sangat bagus, figuranya terbuat dari ukiran jati, tadinya kakek menghadiahi cermin itu untukku, tapi cermin itu ternyata ada hantunya...Jadi kakek menjualnya...”


Cermin antik? Ukiran jati? Ditemukan di depan rumah orang kaya? Kok cerita ini rasanya seperti sudah pernah kudengar sebelumnya?...Dinie mengerutkan keningnya, berusaha mengingat - ingat. Oh, tidak... Apakah gadis ini...Ah nggak mungkin kan gadis ini adalah cucu bapak tua tukang loak yang menjual cermin Snow White padaku tempo hari? A..Atau mungkin? Astagfirullah, ternyata mereka juga menjadi korban Anandita! Tak mengira bertemu gadis cucu bapak tua tukang loak itu disini...Dinie tiba – tiba merasa begitu gundah. Nuraninya seolah terusik. Anandita memang sungguh tega, Anandita tak memandang siapa korbannya...Dinie teringat Alin anak pelayan di rumah Anandita yang juga menjadi korban...Sekarang gadis ini...Kasihan...Mereka semua hanya orang susah...Kenapa diganggu juga, hanya karena...


“Bagaimana awal mulanya kamu tau cermin itu berhantu?” selidik Dinie ingin memastikan.


“Entahlah, sejak aku menyisir di depan cermin itu, sambil bermain menjadi putri salju dengan adik – adikku...Cermin, Cermin di dinding, katakan siapa yang paling cantik?”


“Sejak itu hantunya keluar dari dalam cermin, begitu kan?”


“Iya, kok kakak bisa tau?”


“Eh, anu...Kakak hanya menduga...”


“Soalnya cermin itu ada ukiran nama putri saljunya di figuranya...Snow White...”


“Tapi...Kenapa kamu...Kamu..."


“Ohya, aku Siti kak...” gadis itu mengulurkan tangan, tiba – tiba teringat kalau dia belum memperkenalkan diri.


“Aku Dinie...” kata Dinie sambil membalas uluran tangan gadis itu. “Tapi kenapa...Eh maksudku, syukurlah Siti bisa selamat ya, tidak ikut terbunuh...”


Dinie baru terpikir. Ini aneh juga sebetulnya...Anandita tidak pernah membiarkan korbannya selamat...Alin...Dan gadis – gadis yang diceritakan ibu Anandita...Tapi gadis ini kok bisa selamat? Apa karena dilindungi kakeknya hingga sang kakek yang menjadi korban sebagai gantinya?


“Mungkin karena dilindungi kakek, dan kakek juga sudah memasang kalung jimat ini padaku dan adik – adikku, jadi hantu itu hanya bisa melukaiku, tidak bisa sampai membunuhku...” jawab gadis itu sambil menunjukkan seuntai kalung terbuat dari benang dan berbandul bungkusan kain hitam kecil yang tergantung dilehernya.


“Kalung jimat?”


“Ya kak”


“Oh...” Dinie termangu.


“Memangnya kenapa, kak Dinie?”


“Sudah banyak yang menjadi korban cermin itu, Siti...” kata – kata itu terucap begitu saja dari mulut Dinie. “Kalau tidak terbunuh, ya jadi hilang ingatan...”


“Oh?...Begitu ya kak? Kak Dinie tau banyak tentang cermin itu?”


“Ya Siti, karena kakak lah orang yang membeli cermin itu dari kakekmu...”


“Jadi..Ternyata kak Dinie?” gadis itu memandang Dinie dengan surprise.


“Sekarang cermin itu ada di rumah kakak...”


“Kak Dinie, lebih baik kakak cepat menyingkirkan cermin itu sebelum terjadi apa – apa dengan kakak...”


“Iya sih...Sepupu kakak juga terbunuh...Seperti kakekmu...Kakak sebetulnya sekarang ini sedang berusaha menghentikan hantu itu agar tidak mencelakai orang lagi...”


“Ooh...Kalau begitu kak Dinie ambil saja kalung jimatku, mungkin ini bisa membantu? Untuk melindungi kak Dinie...” gadis itu melepas kalungnya


“Eh jangan, nanti kamu bagaimana?”


“Kan cermin itu sudah tidak ada lagi padaku, jadi aku tak memerlukan jimat apapun...Sekarang aku rasa kak Dinie yang lebih memerlukannya...Pakai ya kak? Jimat itu hanya bekerja apabila ada yang berbuat jahat dengan kak Dinie...”


Dinie sebetulnya tidak percaya akan jimat, tapi dia berusaha menghargai Siti.


******


Malam itu, Dinie yang tak sabar menunggu Rikki kembali dari kampungnya dan mencari siapa yang bisa membantu mereka untuk menghentikan Anandita, akhirnya memutuskan untuk bertindak sendiri. Gadis itu begitu terenyuh dengan cerita Siti, gadis belia cucu bapak tua tukang loak itu, sudah hidupnya susah, masih harus mendapat musibah pula, wajahnya dirusak, dan kehilangan kakeknya gara – gara Anandita. Sungguh keterlaluan Anandita!


Dinie bangkit dari tempat tidurnya, meraba – raba mencari senternya, aku...Aku akan ke gudang...Bagaimana pun caranya, aku tak tahu, tapi aku harus bertemu Bebbi...Untuk meminta bantuannya menghentikan Anandita...Aku tak tahan lagi melihat kekejaman Anandita! Pasti ada cara...Cara untuk nenaklukkan Anandita!


Dentang jam dinding di rumah kost itu nyaris mengejutkan Dinie ketika gadis itu berjingkat – jingkat melintas diruang tengah hendak menuju gudang yang terletak dibagian belakang rumah kost itu. Pukul dua belas tepat. Gadis itu menguatkan hatinya, sudah tengah malam, tapi inilah waktunya...


Dinie menyorotkan senternya, mencari kunci gudang yang tergantung di dekat sekian banyak kunci yang ada di rak gantungan kunci rumah kost itu.


“Dapat!” desis Dinie lega, gadis itu meneruskan menuju gudang, dengan hati – hati memutar kunci gudang, dan membuka pintunya. Heran, bagaimana aku bisa masuk ke gudang dalam keadaan bermimpi ya malam itu? Padahal pintu gudang kan selalu terkunci? Dinie tak habis berpikir.


Cermin Snow White tersender di tumpukan barang – barang lain di gudang itu. Dinie menghidupkan lampu gudang, dan bersimpuh di depan cermin itu. Tidak ada yang aneh disitu, gadis itu meraba cermin itu dengan hati – hati. Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan untuk memanggil Bebbi?


Sunyi. Tak ada yang bereaksi akan panggilan itu. Dinie merasa seperti orang bodoh, memanggil – manggil sendiri di ruang gudang yang penuh debu itu, tanpa ada lawan bicara. Gadis itu menghela nafas. Oh ya, kalimat itu...Tiba – tiba terlintas dipikiran Dinie. Siapa tau bisa memanggil Bebbi juga ya?...Hmm..Ta..Tapi jika Anandita yang muncul bagaimana? Ah, aku harus mencobanya, apapun resikonya...


Dinie memandang berkeliling, ruangan gudang itu penuh dengan barang – barang yang sudah tidak terpakai, lemari tua, kursi rusak, kardus – kardus berisi entah apa, Dinie tak tau, barang apa yang bisa dipakai untuk jadi senjata...Hmm...Wait...Mata gadis itu terhenti pada sebuah sapu yang tersender disudut gudang...Sapu...Ah mungkin sapu bisa kujadikan senjata ya? Dinie mengambil sapu itu dan menggenggamnya erat. Gadis itu menarik nafas dalam – dalam, oke...Aku mulai...


“Cermin, cermin di dinding...Katakan siapa...Aaw!”


Tiba – tiba cermin itu memancarkan sinar yang sangat menyilaukan, sesosok tubuh, entah darimana, menubruk Dinie hingga gadis itu terguling di lantai gudang, dan sapunya terlepas dari tangannya.


“Don't ever say that!” teriak sosok itu dengan suara panik.


Dinie segera saja beradu pandang dengan sepasang mata coklat muda yang menatapnya penuh kekuatiran, dekat sekali dengan wajahnya. Nyaris berhenti nafas Dinie dibuatnya. Karena tubuh sosok itu memeluk tubuhnya yang terguling di lantai.


“Bebbi?!” sesaat Dinie hanya terpana memandang sosok yang ternyata adalah Bebbi. Jika ini terjadi setahun yang lalu, aku pasti akan pingsan! Batin Dinie dengan jantung berdebaran tak keruan.


Tapi gadis itu cepat tersadar dan berusaha mendorong tubuh Bebbi yang menindihnya saat itu. Dinie mendengar Bebbi merintih, pemuda itu bergerak. Bunyi gemerincing rantai yang membelenggu tangan dan kaki pemuda itu membuat ngilu yang mendengarnya.


“So..Sorry...”


Mereka berdua terduduk dilantai gudang, saling berhadap – hadapan. Dinie begitu terperanjat ketika menyadari betapa kondisi pemuda itu ternyata sangat memprihatinkan. Dari ujung kaki sampai ujung kepala, begitu penuh luka, penuh lebam, bekas lecutan cemeti dan pukulan.


“Bebbi... Ya Tuhan, Bebbi... Kamu..Kamu..” Dinie mendekap mulutnya. “Bebbi...Aku bermimpi buruk tentangmu, makanya aku...Ya Tuhan...Kamu benar – benar terluka...Wajahmu...Tubuhmu..Ja..Jadi mimpiku itu...Mimpiku itu benar...”


Dinie meraba wajah Bebbi yang lebam dengan penuh rasa iba.


“Aku..Aku tidak apa – apa...Sudah biasa...” pemuda itu tampak terjengah melihat reaksi Dinie pada dirinya.


“Tak apa – apa bagaimana? Kamu harus diobati, Beb...Lukamu...” Dinie tak dapat meneruskan kata – katanya karena Bebbi mendekatkan jemarinya ke bibir Dinie.


“Dinie, sudahlah...Lagipula kamu tidak tau cara mengobati aku...Aku bukan milik dunia fana lagi, remember?”


“Tapi Beb...”


“Tak usah kamu pikirkan aku...Justru kamu....Please, kumohon jangan pernah kamu mencoba mengucapkan kalimat itu lagi, itu...Itu sangat berbahaya buatmu!” Bebbi menatap Dinie lurus – lurus.


“Maaf aku tak tau bagaimana cara memanggilmu, Beb...” jawab Dinie.


“Ada apa? Kenapa memanggilku?”


“Beb, katakan padaku, Anandita...Anandita dan Snow White adalah orang yang sama kan? Anandita adalah pembunuh Agnes kan?”


“Yeah...Kamu benar...Anandita adalah Snow White yang kumaksud tempo hari...” kata Bebbi. “Anandita...Teman satu kampusku dulu...Dia biasa dijuluki ‘Snow White' karena kecantikanya seperti putri dalam cerita dongeng itu...Berkulit seputih salju...Bibir memerah seperti darah, rambut lebat hitam bagai arang...”


“Aku tau, kamu yang menjuluki dia Snow White kan?” potong Dinie, tak dapat menyembunyikan rasa cemburunya. Bebbi tertawa getir, tapi tawanya terdengar begitu sulit seolah tertawa membuatnya sangat nyeri.


“Aku hanya menganggapnya sebagai adik, tapi dia salah paham...”


“Jadi kalimat ‘Cermin, cermin di dinding’ itu...Apakah kalimat itu yang memanggil Anandita?”


“Ya, itu kalimat favorit Anandita setiap kali dia bercermin...Sebelum musibah itu terjadi...Karenanya sekarang dia benci mendengar gadis - gadis lain mengucapkannya...Agnes dibunuh karena mengucapkan kalimat itu...”


“Ja..Jadi benar, Anandita yang membunuh Agnes...” Dinie mendekap mulutnya. Misteri yang selama ini menjadi pemikirannya, terungkap sudah, Agnes ternyata sama dengan Alin, Siti dan gadis – gadis korban Anandita lainnya...Oh Tuhan...Agnes...Aku rasanya tak bisa terima...Agnes yang kenal pun tidak dengan Anandita, tapi Anandita begitu kejam telah menganiayanya hingga meninggal...Ooh...


“Aku juga pernah mengucapkan kalimat itu...Tapi kenapa aku tidak dihabisi Anandita?” Dinie tiba - tiba teringat malam itu sepulang dari menonton di bioskop dengan Rikki, bukankah dia juga mengucapkan kalimat itu sewaktu bersisir?


“Karena waktu itu kamu tidak selesai mengucapkannya.....” jawab Bebbi. “Aku tau kamu hendak mengucapkannya, makanya aku menghentikan kamu segera...Sejak pertemuan kita di kota Padang itu, aku memang tak bisa menemuimu lagi but I take care of you, always...”


“Kamu...Menjagaku?” Dinie tertegun, mendengar kata – kata Bebbi yang terakhir. Dia...Dia selalu menjagaku? Apa maksudnya? Apakah dia...Apakah dia juga memiliki rasa...Rasa yang kuharapkan sejak lama...Dinie begitu galau tak menentu. “Bebbi...”


Gadis itu menatap Bebbi, mencoba meraba perasaan pemuda itu, tapi Bebbi justru memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bebbi..."


“Ya?”


“Anandita harus dihentikan, Beb..." Dinie menepis gejolak hatinya jauh - jauh. "Bukan aku mau membalas dendam kematian Agnes...Aku...Aku hanya tak mau kematian Agnes menjadi sia – sia, Agnes sepupuku, Beb...Anandita sudah keterlaluan, dia berbahaya...Dia sudah mencelakai banyak gadis...Dan kamu juga..”


“I know...”


“Aku yakin kamu tau banyak tentang Anandita, Beb...Dan tau kelemahan Anandita...”


Kedua alis mata Bebbi tampak saling bertaut mendengar kata – kata Dinie. Entah apa yang dipikirkan pemuda itu. Kata – kata Dinie membuat pemuda itu terdiam, lama, sebelum akhirnya bersuara lagi.


“Aku...”


“Kenapa Beb? Kamu mau membantuku untuk menghentikan Anandita kan?” Dinie heran melihat Bebbi seperti ragu – ragu untuk bicara, seperti ada yang menahan pemuda itu untuk bicara...


“Darah...Darah itu sudah membuka segel cermin yang memenjarakannya selama ini...Dan hanya darah itu juga yang bisa menutup segel cermin itu kembali...” akhirnya Bebbi menjawab lambat - lambat.


“Darah? Bagaimana, Beb? Aku belum paham..”


“Darah gadis itu...Cermin itu harus merasakan darah gadis itu sekali lagi...”


“Maksudnya?”


Bunyi gemerincing belenggu rantai Bebbi menyentakkan Dinie, karena pemuda itu bergerak tiba – tiba, seperti terkejut.


“Shit..An..Anandita sepertinya tau, aku disini...” Bebbi mengeluh.


“Apa?”


“Aku..Aku harus pergi sebelum Anandita melihat kita berdua disini...”


“Bebbi, tunggu...” Dinie meraih tangan Bebbi, “Jangan pergi...Maksudku, mungkin sebaiknya kamu jangan kembali...Nanti Anandita menyakitimu lagi..”


Tapi Bebbi menggeleng, pemuda itu tersenyum sedih.


“Percuma, My Di..Kemanapun aku pergi, Anandita pasti dapat menemukanku kembali, karena aku sudah terikat perjanjian dengannya...Kamu ingat kata – kataku dulu sewaktu pertemuan kita di kota Padang?”


“Maksudmu?” Dinie berusaha keras mengingat - ingat, tapi tampaknya tak ada waktu bagi Dinie untuk mengingat karena suara geraman mengerikan bagai suara geraman harimau betina yang murka, terdengar menggema dari kejauhan, membuat Bebbi jadi begitu gelisah.


“Cari gadis itu, hanya darahnya yang bisa menutup segel cermin itu... “ katanya sebelum tergesa melangkah menuju cermin.


“Beb...Kamu..Bagaimana?”


Taarr!


Sebuah suara lecutan membuat Bebbi terpental jatuh, menabrak dinding gudang, aroma melati bercampur bau anyir darah segera merebak menusuk hidung. Perlahan tapi pasti, sesosok tubuh bergaun merangkak keluar dari dalam cermin. Rambut panjangnya tak dapat menyembunyikan sebelah wajahnya yang membusuk, bernanah, penuh belatung mengerikan. Sosok itu menatap Dinie dan Bebbi begitu garang saat sudah berdiri sempurna di lantai gudang. Matanya yang memerah, mendelik bagaikan hendak menelan semua yang ada dihadapannya.


“Kamu belum juga jera mengkhianatiku?!!” jerit sosok itu murka. “Siapa gadis itu?!”


“An...Anandita?!” kata Bebbi tercekat, pemuda itu spontan segera berdiri di depan Dinie dengan sikap melindungi.