Snow-white

Snow-white
Pura-pura



Kennan tidak mempedulikan ucapannya , sehingga ia menggerakkan tangannya, membuka resleting dress yang dikenakan Dabria .Melihat aksi Kennan, Dabria meneteskan air matanya.


..."Hapus air matamu itu! " ucap Kennan...


..."Bria mohon, hentikan ini! " Ucap Dabria penuh harap....


Lagi-lagi Kennan menulikan pendengarannya, tangannya digerakkan untuk membuka dress yang dikenakan oleh Dabria.


Dabria benar-benar tidak tahan dengan perlakuan Kennan. Menurutnya Kennan terlihat seperti iblis.


Dabria mendorong tubuh Kennan dengan kasar.


Plakkk.....


Satu tamparan mendarat di pipi Kennan membuat Kennan langsung menghentikan aksinya.


..."Kau, beraninya kau menampar ku.... "Mata Kennan memerah, tatapannya tajam pada Dabria....


Wajah yang tadinya penuh gairah , sekarang menyala karena amarah.


Dabria terdiam dan menunduk.


Kennan mendekatkan tubuhnya pada Dabria dengan tatapan membunuhnya.


Dabria masih menunduk, Ia benar-benar tidak sanggup jika menatap tatapan mematikan Kennan.


..."Ck. Murahan." Bisiknya tepat didepan wajah Dabria....


Lagi-lagi kata yang menyakitkan itu kembali menyayat hatinya. Jujur saja, itu sangat menyakitkan.


Setiap hari selalu dianggap sebagai wanita murahan hanya karena pertemuan pertama mereka dihotel.


Kejam sekali dunia ini, menilai orang hanya karena pertemuan ditempat yang salah.


Ingin rasanya Dabria teriak sekencang mungkin tepat di telinga Kennan bahwa dirinya bukanlah wanita murahan seperti yang selalu dikatakan Kennan padanya selama ini. Tapi apa boleh buat, Kennan sama sekali tidak akan mendengarkannya.


Setelah menyatakan kata yang menyakitkan itu, Kennan kembali mengenakan atasannya dan langsung bergegas keluar dari kamar hotel itu dengan membanting pintu dengan kasar.


Dabria masih terpaku ditepi ranjang dengan air mata yang berjatuhan.


..."*Maafkan aku Tuan Kennan, bagaimanapun juga kita hanya menikah diatas kertas bahkan hanya dipengadilan agama. Secara agama kita memang sah suami-istri, tapi kita tidak pernah mengucap janji dihadapan Tuhan. Bukankah kita melakukan hal itu itu tidak ada bedanya dengan zina. "...


..."Aku tidak ingin Tuhanku berpaling dariku karena sebuah perzinahan yang kita buat. Aku tidak ingin melakukan sesuatu yang meleset dari ajaran agama ku*. " Batin Dabria....


Dabria memang dapat melihat gairah yang membara dalam tubuh Kennan, namun Dabria tidak ingin melakukannya.


Akan lebih menyakitkan melakukan hal yang seharusnya dilakukan setelah berucap janji dihadapan Tuhan daripada mendengar kata yang tak pantas untuknya yang diucapkan Kennan.


Setelah menghapus air matanya, Dabria memutuskan untuk keluar dari kamar hotel itu.


..."Sekertaris Rai! " Ucap Dabria dengan senyum manisnya....


..."Nona, saya ditugaskan oleh Tuan Muda untuk mengantar anda pulang. " Sahut sekertaris Rai dengan ramah....


..."Baik, terimakasih. " Sahut Dabria....


Sekertaris Rai mempersilahkan Dabria berjalan mendahului nya.


..."Heyyy, berhenti. "...


Langkah Dabria seketika terhenti, begitu pula dengan sekertaris Rai yang langsung menghentikan langkah nya juga.


Walau suara wanita itu tidak menyebut namanya, tetapi Dabria yakin bahwa ucapan itu tertuju padanya atau kalau tidak sekertaris Rai karena hanya ada mereka berdua disana.


..."Apa nona memanggil kami? " Tanya Dabria pada wanita yang menghampiri mereka....


Namun wanita itu sama sekali tidak menjawab, Ia justru malah terus memerhatikan penampilan Dabria dari ujung rambut hingga ujung kakinya.


..."Dibayar berapa kamu sama Kennan untuk berakting didepan banyak orang menjadi kekasih pura-pura nya? " Tanya Jihan....


..."Sa... saya... " Ucap Dabria terhenti oleh ucapan sekertaris Rai....


..."Nona, ayo kita pergi. Tuan Kennan sudah menunggu. " Ujar sekertaris Rai....


Sekertaris Rai dapat menebak apa yang akan dilakukan Jihan pada Dabria nanti. Karena waktu diacara tadi saat Dabria tiba, mungkin tidak ada yang melihat Jihan berlari dengan air mata yang berjatuhan, namun sekertaris Rai dapat melihatnya. Sekertaris Rai terus memperhatikan bagaimana reaksi Jihan.


Jihan terlihat begitu kesal.


..."Sekertaris Rai, saya mohon waktunya sebentar saja. Mungkin ada yang ingin nona ini bicarakan dengan saya." Pintah Dabria....


..."Tapi Nona... " Ucap sekertaris Rai penuh kekuatiran....


..."Bria akan baik-baik saja. " Ucap Dabria menyakinkan sekertaris Rai....


Walaupun berat namun sekertaris Rai tetap menurut. Sekertaris Rai memilih untuk menunggu dimobil karena dari sana juga sekertaris Rai tetap bisa memantau Dabria tanpa harus mendengar pembicaraan dua wanita itu.


..."Dibayar berapa kamu sama Kennan untuk menjadi kekasih pura-pura nya. " Tanya Jihan lagi dengan pertanyaan yang sama....


..."Apa maksud anda, Nona? " Tanya Dabria dengan polosnya....


..."Berhentilah berpura-pura. Mana mungkin Kennan memilih wanita seperti dirimu untuk menjadi kekasih sungguhan. Aku yakin kau hanya menjalankan peran mu saja sebagai kekasih pura-pura karena dibayar, setelah kau selesai dengan tugasmu, kau pasti akan di buang. " Ucap Jihan dengan sinis....


..."Walaupun aku tak pantas disebut sebagai kekasih Tuan Kennan, tapi kalau aku hanya diam saat diejek itu akan sangat memalukan bagi Tuan Kennan bukan hanya diriku sendiri." Batin Dabria....


Bersambung.......