
Sore itu hujan turun dengan deras, Dinie yang baru saja pulang dari kampus, terduduk pasrah di halte bis, berteduh, dan menunggu bis yang seolah tak kunjung datang. Sepi, tak ada orang di halte itu kecuali seorang bapak tua tukang loak dengan gerobak barang – barang bekasnya, duduk dengan manis, yang suka nggak suka, menjadi teman Dinie menunggu bis. Dinie melirik bapak tua itu, ternyata bapak itu juga sedang melirik dirinya, membuat bapak itu tersenyum pada Dinie memamerkan gigi – gigi ompong yang membuat senyum itu jadi tampak mengerikan. Dengan alasan kesopanan, Dinie membalas senyum bapak itu.
“Menunggu bis ya non?” tegur bapak itu, mengagetkan Dinie yang tak menyangka bapak itu akan menegur setelah sekian lama mereka hanya berdiam diri.
“Eh iya pak...” jawab Dinie kaku. “Bapak jualan?”
Stupid question Dinie, jelas – jelas bapak itu tukang loak, kok aku tanya jualan? Batin Dinie merutuk.
“Lebih tepatnya saya tukang loak, non. Menampung atau membeli barang – barang bekas untuk dijual kembali. Nona punya barang bekas untuk dijual? Atau berminat dengan barang – barang ini? Lihat, ada kipas angin, ada mixer, masih bisa digunakan kok...”
Bapak itu merasa Dinie adalah kesempatan baiknya untuk mempromosikan barang – barangnya, siapa tau gadis itu tertarik untuk memborong, maka dengan penuh semangat dia menunjukkan barang – barang bekas yang menumpuk di gerobaknya.
“Ah, tidak pak, terima kasih...” tolak Dinie sopan.
“Atau ini...” bapak itu dengan susah payah mengeluarkan sebuah cermin bundar berukuran lumayan besar yang tampaknya sudah kuno sekali dari tumpukan barang – barang bekas di dalam gerobaknya. “Saya baru saja dapat cermin antik ini, saya menemukannya di depan rumah orang kaya, cermin ini dibuang begitu saja oleh pemiliknya. Sayang kan? Masih bagus, belum pecah, heran kenapa dibuang ya? Lihat, ada ukiran namanya pula, Sno...Sno...”
“Snow White” Dinie membantu bapak itu membaca tulisan yang terukir di pinggiran bingkai cermin antik itu. “Wah unik juga namanya ya pak?”
Dinie akhirnya bergeser duduk agar lebih dekat, dan ikut memperhatikan cermin kuno yang di bilang antik oleh bapak tukang loak itu. Cerminnya sebenarnya masih bagus, berbingkai ukiran jati yang begitu artistik, orang yang membuatnya pasti adalah seseorang yang memiliki cita rasa seni yang tinggi, dihias dengan cat warna coklat gelap berkesan begitu elegan walau tentu saja sudah berdebu dan usang termakan usia, tapi...Yah memang tepat bapak itu menyebutnya sebagai cermin antik, bukan cermin kuno. Mungkin kalau sudah dibersihkan dan diletakkan di toko barang antik, cermin itu akan menjadi mahal sekali harganya. Ya benar – benar mengherankan orang yang membuangnya sia – sia.
“Nona tertarik? Saya kasih murah deh khusus untuk nona. Dua ratus ribu saja...”
“Aduh mahal betul, pak! Kan bapak dapatnya gratis juga...”
“Ya deh, saya kurangi...Seratus lima puluh, bagaimana?”
Tawar – menawar terjadi diantara Dinie dan bapak tukang loak itu. Akhirnya dengan bujuk – rayu bapak itu, terbeli juga oleh Dinie cermin antik itu dengan harga seratus dua puluh lima ribu.
Agnes sepupu Dinie yang tinggal satu kost dengan Dinie, hanya ternganga melihat Dinie pulang dengan susah -payah, menyeret – nyeret cermin antik besar.
“Ya Allah, semangat benar sih shoppingnya, sampai nekad menguras tenaga menyeret cermin besar itu? Untung tak pecah pula di jalan!” komentar Agnes sambil menggeleng – gelengkan kepala.
Dinie nyengir, sambil menyeka keringatnya. Hari masih hujan, tapi Dinie bersimbah keringat karena kekeuh membawa cermin itu pulang. Entah apa yang membuat Dinie jadi naksir dengan cermin antik bernama “ Snow White” itu. Entah karena rayuan bapak tukang loak itu yang tokcer atau nama unik cermin itu yang sudah menyihir Dinie untuk membelinya.
“Snow White? Unik juga ya namanya?” Agnes ikut memperhatikan cermin itu. “Jadi siapa yang bercermin disitu jadi secantik Snow White begitu?”
Dinie hanya tertawa mendengarnya, apalagi melihat Agnes berputar – putar di depan cermin itu, mematut – matut diri.
“Cermin, cermin di dinding, katakan siapakah yang paling cantik?” kata Agnes menirukan kalimat yang selalu diucapkan tokoh ibu ratu jahat di film kartun “Snow White”.
p
“Hai, putri salju Agnes, tentu kamu lah yang paling cantik...” balas Dinie sambil menggelitik pinggang Agnes, membuat sepupunya terpekik – pekik kegelian, dan mereka berdua tertawa – tawa heboh bersama.
*********
Malam itu Dinie mengendap – ngendap menyelinap masuk kamar kost nya, bukan saja karena menghindari omelan ibu kost, tapi juga agar tidak membangunkan Agnes yang pasti sudah tertidur pulas saat ini dikamat sebelah, jelas, ini sudah pukul setengah 12 malam, nona Dinie, batin Dinie menegur diri sendiri. Ini lah akibat kebablasan mengikuti genknya si Rikki pacarnya, menonton film midnight di bioskop. Memang sih ini malam minggu, tapi kan...Dinie meringis, berjingkat – jingkat memasuki kamar mandi, membersihkan diri, berganti pakaian hang outnya dengan piama, selesai. Dinie dengan lega, bersiap tidur. Diliriknya cermin antik “Snow White” yang tergantung dikamar kostnya. Gadis itu tergerak untuk merapikan rambutnya yang acak – acakan dengan sisir. Jam dinding berdetak tepat pukul 12 tengah malam. Dinie berhenti menyisir, entah kenapa tiba – tiba dia teringat mitos neneknya, yang mengatakan pamali menyisir rambut ditengah malam, didepan cermin lagi, nanti bisa terkena gangguan – gangguan mistis, seperti didatangi kuntilanak misalnya, hiiyy, Dinie menggidik. Tapi...Ah itu kan hanya mitos neneknya, ini sudah zaman modern, mana berlaku lagi mitos – mitos itu, Dinie mengangkat bahu dan meneruskan menyisir. Kuntilanak? Di tengah kota besar begini? Kuntilanak “Snow White” sih iya kali? Kan cermin itu bernama “ Snow White”? Rambut panjang, gaun putih... Oh tidak, tidak, Putri “Snow White” kan berambut hitam sebahu dengan bando merah dikepalanya, dan mengenakan gaun berwarna biru kuning....Ah ada – ada saja, ah!..Dinie terkikik sendiri teringat dengan film kartun Walt Disney, “Snow White”, dimana ibu Ratu yang jahat selalu berkata di depan cermin ajaibnya...
“Cermin...Cermin di dinding..." baru separuh Dinie merapalkan kalimat terkenal dari film kartun itu, gadis itu tersentak.
Eh..Eh, ini mataku yang sudah kabur karena nengantuk, atau cermin ini yang kotor? Kok tiba – tiba buram? Dinie mengucek – ngucek matanya dan melihat sekali lagi ke dalam cerminnya. Masih buram. Bayangan wajahnya hanya terlihat samar – samar disana. Penasaran, gadis itu meraba permukaan cermin itu. Bicara soal rambut....Kenapa...Cermin ini...Tiba – tiba gadis itu terjengit spontan menarik tangannya lagi, helai – helai rambut panjang hitam tiba – tiba mengotori tangannya, membelit disela – sela jarinya. A..Apa ini? Kok ada bisa rambut ditanganku? Apakah ini rambutku sendiri yang rontok? Dinie buru – buru membuang rambut itu ke keranjang sampah. Dinie tiba - tiba merinding, ah sudahlah, lebih baik aku tidur saja, daripada mengkhayal yang tidak – tidak, masa bodoh walaupun rambutku belum sepenuhnya rapi. Gadis itu meletakkan sisirnya dan berbalik. Tapi entah kenapa, seolah ada kekuatan magis yang menariknya untuk kembali melihat ke cermin itu sekali lagi.
“Ya Allah...” Dinie hampir terpekik dibuatnya, matanya terbelalak tak percaya. Gadis itu seperti melihat rambut hitam panjang menjulur menembus kaca cermin itu, tangan – tangan putih yang terbelenggu rantai besi bergemerincing ribut, menjeblak keluar meraba – raba pinggiran cermin itu. Dinie membeku dingin di tempatnya berdiri. Debar jantungnya begitu kencang. Apakah...Apakah han..Hantu..Put..Putri Snow White nya benar – benar datang? A..Atau kun..Kuntilanak seperti mitos neneknya?
Sementara tangan berbelenggu rantai besi dan rambut itu makin menjulur keluar cermin, bergeser perlahan seolah menopang sesosok tubuh yang mulai berangsur keluar dari cermin itu. Perlahan tapi pasti, sosok itu merangkak di dinding dengan cara yang aneh, sampai akhirnya menyentuh lantai. Gemerincing belenggu rantainya beradu dengan lantai keramik kamar kost Dinie membuat ngilu yang mendengarnya. Dinie terpaku menatapnya. Gadis itu ingin berteriak memanggil Agnes sepupunya, atau paling tidak penghuni kost lainnya, tapi tak ada suara yang keluar. Keringat dingin bercucuran di sekujur tubuh Dinie yang gemetaran melihat betapa sosok itu bangkit dan berdiri dihadapannya. Sosok itu berambut hitam sebahu, ta..Tapi tidak pakai bando merah, dan Tidak pula bergaun. Sosok itu memakai baju serba hitam, dengan rantai – rantai besi membelenggu pergelangan tangan, juga kakinya yang tampak begitu menyiksa, berdiri dengan kepala menunduk sehingga rambut sebahunya tergerai menutupi wajahnya.
“Jangan...Katakan...” sosok itu mengeluarkan suara, tapi suara itu bukan suara perempuan, bukan “Snow White” ataupun kuntilanak, sosok itu lelaki! Apakah...Apakah mahluk penunggu cermin ibu Ratu? Dinie menggigil ketakutan. Gadis itu merasa menyesal seumur hidup telah membeli cermin yang ternyata cermin horror itu.
“Jangan...Katakan..” ulang sosok itu, perlahan mengangkat wajahnya.
Dinie langsung terkesiap, pucat – pasi, menandang wajah itu.
“Bebbi?!” dan kemudian segalanya menjadi gelap.