Snow-white

Snow-white
Bab 3 : Anandita



Pagi itu Dinie terbangun, mendapatkan Agnes sudah tak ada lagi disampingnya. Mungkin Agnes sudah lebih dulu bangun, karena Dinie melihat lampu kamar mandi yang menyala tanda ada orang di dalamnya.


“Agnes...Kamu didalam ya? Lama benar?” Dinie akhirnya mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir setengah jam dia menunggu, Agnes tak juga kunjung keluar, sementara perutnya mulai sakit. ”Agnes! Tidur dikamar mandi ya?”


Dinie heran juga karena tak ada yang menjawab ketukan pintunya. Di dalam kamar mandi, terdengar suara keran air yang terbuka tapi tak ada suara Agnes yang menyahut. Gadis itu mencoba membuka pintu kamar mandi...Hee..Tidak terkunci..


“Agnes?” Dinie menjenguk ke dalam. “Astagfirrullah!! Agnes?!!”


Sebuah pemandangan mengerikan tampak didalam kamar mandi, Agnes tergeletak di lantai kamar mandi di depan cermin wastafel, ceceran darah berserakan dimana – mana, wajah Agnes tampak rusak penuh luka cakaran, mata Agnes mendelik, dan mulutnya robek melebar kesamping, penuh darah dan helai – helai rambut panjang, seolah sepupu Dinie itu sudah dipaksa menelan sesuatu yang terlalu besar dan penuh rambut.


Dikaca cermin washtafel tertulis dengan darah segar, tulisan ‘Sekarang siapa yang lebih cantik?’


Dinie terduduk lemas, wajahnya begitu pucat – pasi, gadis itu merasa semuanya berputar dengan cepat, teman – teman satu kostnya yang berlarian ke kamarnya, ibu kost yang menjerit – jerit, hingga polisi yang menyeruak masuk. Gadis itu tak sanggup berkata – kata, kecuali memanggil - manggil nama sepupunya.


Rikki yang juga datang, ditelepon oleh salah seorang teman kost Dinie, pemuda itu masuk dengan wajah penuh kekuatiran.


“Dinie, apa yang tejadi?” Rikki berjongkok di depan Dinie yang pucat – pasi, menyodorkan segelas air putih, berusaha menenangkan kekasihnya itu.


“Rikki....Agnes...Agnes...Dia...” kata Dinie terbata – bata, setelah meneguk air putihnya.


“Ssh...Tabah ya Din, sabar ya, kamu tenang saja, pihak yang berwajib sudah mengurus jenazah Agnes, dan biarlah mereka yang menangani kasus ini...” bujuk Rikki sambil memeluk Dinie, dan membelai rambut gadis itu dengan lembut. Tangis Dinie tumpah di dalam pelukan Rikki.


Siapa?! Siapa yang sudah tega membunuh Agnes? Kenapa aku tak tau Agnes dibunuh? Kenapa aku tidak terbangun? Bagaimana bisa? Oh Tuhan, apa yang sudah terjadi? Kenapa feelingku mengatakan bahwa mahluk tak kasat mata yang melakukannya? Dinie memandang cermin ‘Snow White' dari balik bahu Rikki. Ya cermin itu! Pasti cermin itu yang membunuh Agnes, dengan entah mahluk apa penunggu cermin menakutkan itu...Mahluk yang keluar dari cermin itu dan membunuh Agnes!


Dinie tiba – tiba melepaskan pelukan Rikki. Tunggu...Mahluk yang keluar dari cermin itu? Satu – satunya yang keluar dari cermin itu adalah...arwah Bebbi...Dinie terkesiap. Apakah...Apakah arwah Bebbi yang melakukannya? Hei, bukankah sebelum kejadian, Bayangan Bebbi muncul di kaca jendela bis, dan membuat tulisan darah nama Agnes? Be..Berarti Bebbi sudah tau...


“Ada apa, Din?” tanya Rikki melihat wajah gundah Dinie. “ Kenapa kamu terus memandangi cermin itu?”


“Rikki, kurasa percuma kita minta bantuan polisi untuk menyelidiki kasus Agnes...”


“Lho kenapa?”


“Yang membunuh Agnes bukan manusia...”


“Dinie, tenanglah...Aku tau kamu sangat sedih atas kematian mendadak sepupumu itu, tapi kita tetap harus berpikir jernih...”


“Ah kamu nggak mengerti, Rikki...” Dinie memandang wajah Rikki dengan gusar. Tapi Rikki hanya tersenyum sedih dan raut wajahnya jelas menunjukkan bahwa Rikki hanya menganggapnya sudah berbicara yang tidak – tidak. Duh bagaimana membuat Rikki percaya?


******


Jenazah Agnes dibawa ke rumah orang tuanya di kampung untuk disemayamkan disana dan dimakamkan di tanah perkuburan setempat. Dinie beberapa hari menginap disana sampai acara tahlilan sepupunya itu selesai. Polisi masih beberapa kali mendatanginya untuk menanyainya seputar kematian sepupunya itu. Hasil visum jenazah Agnes tidak menunjukkan tanda atau sidik jari apapun yang bisa ditelisik untuk mengetahui siapa pembunuhnya. Dinie tak heran lagi. Tapi gadis itu tak berdaya apa – apa untuk memberitau polisi atau siapapun bahwa penyelidikan mereka sia - sia saja, karena tak ada seorangpun yang bakal percaya.


Dinie menatap cermin ‘ Snow White' malam itu, ketika gadis itu sudah tiba lagi dikamar kostnya. Apa yang menyebabkan mahluk penunggu cermin itu membunuh Agnes? Kenapa harus Agnes? Bukannya dia berharap dirinya yang kena, tapi dia juga menggunakan cermin itu, bahkan kalau bicara mistis, dia justru yang lebih berpotensi kena karena dia sudah melanggar mitos menyisir tengah malam di depan cermin, tapi kenapa jadi Agnes yang kena? Sedangkan dia, sampai kini baik – baik saja. Apakah karena belum kena giliran?


“Bebbiii!! Keluarlah! Tunjukkan dirimu! Katakan siapa yang sudah tega membunuh Agnes? Katakan!” Dinie dengan putus – asa memukuli cermin ‘Snow White' dengan tangannya, berharap setidaknya ada yang memberinya jawaban. Tapi cermin itu hanya membisu, hening tergantung didinding kamar kost Dinie, bagaikan hanya sebuah cermin biasa, membuat gadis itu akhirnya menangis di depan cermin ‘Snow White' sejadi – jadinya.


Saat jam dinding berdetak pukul 12 tepat. Dinie yang masih terpekur duduk di lantai depan cermin ‘Snow White' tak menyadari cermin itu tiba – tiba mulai menunjukkan reaksinya, berpendar – pendar aneh, walau tanpa aroma melati ataupun bau anyir darah. Tapi suka tak suka, akhirnya ada yang merespon tangisan Dinie.


Bunyi gemerincing rantai – rantai itu terdengar lagi tapi kini tanpa sosok yang muncul. Bunyi langkah kaki yang terseret – seret, seolah langkah itu begitu berat menahan beban yang menahan kaki – kakinya. Membuat merinding siapapun yang mendengarnya. Lolongan anjing dari luar sana membuat Dinie tersentak. Gadis itu seolah merasa ada yang memperhatikan dirinya. Entah siapa atau apa. Tapi matanya mendadak begitu sulit hendak terbuka, seperti sedang berada di alam mimpi yang sangat sukar untuk terbangun lagi, seperti ada kekuatan tak nampak, yang melumpuhkan seluruh tenaganya. Ditengah perjuangan melawan keanehan yang terjadi pada dirinya, Dinie tiba – tiba mendengar suara seseorang berbicara padanya


“Are you Ok, my sweetie?”


Hampir copot rasanya jantung Dinie mendengarnya, karena suara itu, dan gaya bertutur seperti itu...Dengan susah – payah gadis itu menoleh ke belakangnya. Bebbi! Ya, benar, Bebbi! Pemuda itu tampak sedang bertopang dagu, duduk bersila tak jauh dari belakang Dinie.


“Ka..Kamu? Bebbi?” Dinie berputar arah duduk menghadap Bebbi. Matanya yang semula begitu berat untuk dibuka tiba - tiba menjadi normal lagi, tenaga seolah kembali mengisi raganya. Dinie terbelalak antara ngeri dan tidak percaya, gadis itu berusaha meyakinkan diri bahwa yang ada dihadapannya itu hanya arwah Bebbi bukan arwah – arwah yang lain. “Apakah...Apakah kamu datang karena hendak menjawab pertanyaanku?”


“Bukan aku yang membunuh...” sahut Bebbi sambil menatap Dinie dengan mata coklat mudanya.


“Tapi kenapa kamu bisa tau...Waktu di bis itu, kamu menulis nama Agnes...” Dinie segera membrondong Bebbi dengan pertanyaan itu.


“Aku hanya mencoba memperingatkan kamu, karena kamu my sweetie..Dan Agnes itu sepupumu..”


“Memperingatkan?”


“Sepupumu Agnes sudah memanggilnya...Karena itu dia dihabisi...”


“Memanggil siapa?”


“Snow White...”


“Snow White?? Maksudmu?”


“Aaarrgghh!!!” tiba – tiba Bebbi berteriak kesakitan, pemuda itu terjengit seolah ada yang memecutnya dari belakang, berkali – kali hingga dia tersungkur hampir menabrak Dinie yang duduk tak jauh di depannya. Punggung kemeja hitam yang dikenakan Bebbi robek seperti disayat-sayat, darah mengucur mengerikan dari punggung itu, darah yang tidak lagi berwarna merah, tapi kehitaman...


“Bebbi!!!” Dinie terpekik ngeri.


Sesaat ruangan kamar kost itu dipenuhi dengan suara geram amarah seseorang, sebuah geraman yang lebih mirip suara geraman harimau betina yang sedang terluka ketimbang geraman manusia. Sekelebatan sosok berrambut panjang, melayang keluar dari cermin, menyambar tubuh Bebbi yang masih tersungkur kesakitan di lantai.


“Anandita! Jangaan!!” sia – sia Bebbi berteriak, karena sosok berambut panjang itu sudah membawanya masuk kembali masuk ke dalam cermin. Dinie melindungi wajahnya dengan tangan karena cahaya yang keluar menyorot dari cermin itu begitu menyilaukan matanya.


“Bebbiiii!!!” Dinie menjerit sejadi – jadinya, dan ketika cahaya yang menyilaukan itu hilang, gadis itu terkejut mendapatkan dirinya sudah terbaring diatas gundukan tanah sebuah kuburan...Entah kuburan siapa...Yang jelas jauh dari rumah kostnya. Ba..Bagaimana mungkin dirinya bisa sampai disitu? Dinie terperanjat ngeri, dan segera bangun dari tanah kuburan itu, dan ketika melihat batu nisan yang terpancang di ujung kuburan, terpahat rapi sebuah nama,


A n a n d i t a