Snow-white

Snow-white
Bab 5 : Amarah



Dinie mendekap mulutnya. Ternyata Bebbi adalah pemuda yang telah mengecewakan Anandita. Bebbi yang telah menhadiahi Anandita cermin Snow White itu. Dan gadis yang menyebabkan Bebbi meninggalkan Anandita, aku yakin itu adalah Yola...Batin Dinie miris. Pantas, sampai mati pun, Anandita masih berambisi dengan Bebbi. Mung...Mungkin karena sebab itu juga keadaan Bebbi...Tepatnya arwahnya kelihatan sengsara...Dengan rantai – rantai itu...


“Kok sepertinya kemana – mana kita pergi, mentok – mentoknya ke Bebbi juga akhirnya?” komentar Rikki yang jelas – jelas kata – kata itu ditujukan untuk menyindir Dinie.


“Rikki! Ssshh...” Dinie mendelik pada Rikki, memberi isyarat bahwa mereka masih di depan ibu Anandita.


“Kenapa nanda? Nanda berdua ini kenal dengan nanda Bebbi temannya Anandita?” tanya ibu Anandita heran. “Seingat ibu..Dulu Anandita pernah berkata, tak lama setelah Bebbi pergi meninggalkannya, Bebbi tewas dalam gempa bumi yang melanda kota Padang tahun 2009 silam...”


“Eh...Anu...Dikatakan kenal, ya tidak juga bu...Hmm..Kami pernah melihat beritanya di TV...Bebbi Adinegoro kan seorang seniman musik!” sahut Dinie gelagapan, menjawab sembarangan.


“Apa, melihat di TV?!” Rikki yang nyaris hendak berteriak protes, hampir terjungkal disikut Dinie.


“Hmm...Mungkin sudah waktunya kami pamit bu....Terima kasih, ibu sudah mau menceritakan pada kami tentang Anandita, saya tau pasti berat bagi ibu karena Anandita adalah putri ibu satu – satunya.” kata Dinie buru – buru berbicara sebelum Rikki berkomentar macam – macam lagi.


“Ah tidak apa – apa, nanda...Mungkin ibu yang harus minta maaf karena Anandita putri ibu yang sudah membuat nanda kebingungan tersesat di kuburannya...Yah mungkin benar kata warga disini, itu akibat Anandita pernah memelajari ilmu hitam semasa hidupnya, jadi...” ibu Anandita tampak muram.


“Tidak, tidak bu...Ibu tidak perlu minta maaf, kejadian itu terjadi diluar nalar...Kita juga tak pernah tau bagaimana....Apa karena ilmu hitam yang pernah dipelajari Anandita atau bukan...” hibur Dinie iba melihat wajah sedih ibu Anandita. “Semua baru sebuah kemungkinan kan bu?”


“Yah, nanda...”


Dinie dan Rikki baru hendak melangkah keluar dari rumah besar itu ketika Dinie hampir bertabrakan dengan seorang gadis yang tiba – tiba muncul dari depan pintu rumah Anandita. Dinie terperangah melihat wajah gadis itu, penuh bekas luka cakaran, dan sebelah matanya kehilangan bola mata, sehingga yang tadinya tempat bola mata itu seperti melesak kedalam, begitu mengerikan untuk dipandang.


“Cermin itu...Cermin itu memang harus musnah!” gadis itu seperti sedang meracau. “Itu cermin setan! Aku melihatnya! Aku melihatnya keluar...”


“Jangan pedulikan, nanda, itu Alin anak pelayan di sini, Alin memang agak terganggu jiwanya. Tapi dia tidak jahat...” kata ibu Anandita menenangkan Dinie yang tampak begitu terkejut melihat gadis itu.


“Eh iya bu...” sahut Dinie berjalan memutar, karena gadis yang bernama Alin itu menghalangi jalannya.


Sepertinya gadis ini pernah mendapat trauma akibat cermin...Apakah cermin setan yang disebutnya itu adalah cermin yang hilang dari kamar Anandita? Cermin Snow White? Apakah dia yang mengambil cermin Snow White itu dari kamar Anandita dan membuangnya? Tapi kenapa? Siapa yang dilihatnya keluar? Arwah Anandita? Arwah Bebbi? Dinie bertanya – tanya dalam hati. Aku harus menanyainya...


Maka ketika gadis yang bernama Alin itu masih mengikuti Dinie dan Rikki saat mereka sudah melintasi halaman rumah besar Anandita dan lepas dari pandangan ibu Anandita, Dinie menarik tangan gadis itu.


“Hai, kamu bernama Alin ya?” tegur Dinie berusaha ramah karena gadis itu jelas – jelas terkejut ditarik tangannya oleh Dinie.


“Mau apa kamu?” tanya Rikki hendak protes tapi pemuda itu langsung bungkam diplototi Dinie dengan pandangan yang seolah mengatakan ‘Jangan protes dulu dong!’


“Alin pernah lihat cermin Snow White?” tanya Dinie hati – hati.


“Cermin Snow White?” Alin memandang Dinie dengan sikap curiga.


“Iya cermin yang ada di dalam kamar nona Anandita...”


“Oh tidak! Itu cermin setan! Aku takut! Aku takut!...” Alin menyentakkan tangannya dari pegangan Dinie. “Dia mencakar wajahku! Dia mencongkel mataku! Tidaak!!...Padahal aku hanya membersihkan cerminnya...”


Alin tiba – tiba menjerit – jerit histeris menyebabkan seorang wanita berpakaian sederhana tergopoh – gopoh keluar dari dalam rumah, dan segera mendekati Alin, berusaha menenangkan gadis itu.


“Maaf, tuan, nona...Apakah Alin sudah mengganggu?” kata wanita yang Dinie yakin itu ibunya Alin, pelayan yang dimaksud ibu Anandita tadi.


“Tak apa bu. Mungkin pertanyaan saya yang sudah membuat Alin ketakutan...” kata Dinie.


“Tentang cermin ya?” duga pelayan wanita, ibunya Alin itu, memandang Dinie penuh selidik.


“Eh iya, ibu kok bisa tau?” Dinie mencoba memancing, siapa tau ada informasi lain yang bisa diperolehnya dari ibu Alin.


“Cermin di kamar nona Anandita.... Saya juga tidak tau, setelah Alin membantu saya membersihkannya...Yah memang tangannya sempat terluka waktu membersihkanya...Sejak itu Alin selalu ketakutan dengan cermin...Menjerit – jerit tentang cermin...Makanya saya bisa menduganya...” wanita pelayan itu membelai kepala Alin dengan wajah sedih. “Entah apa yang terjadi, sejak itu Alin juga tiba – tiba saja tertimpa musibah mengerikan, lihat wajahnya....Entah bagaimana...Entah siapa yang begitu kejam sudah menganiaya anak saya ini...”


“Siapa yang melakukannya bu? Bagaimana bisa?” tanya Dinie prihatin.


“Alin hanya bisa mengatakan nona Anandita yang melakukannya, karena nona marah Alin bernyanyi – nyanyi sewaktu membersihkan cermin...Tapi saya tak percaya, sebab nona Anandita kan sudah lama meninggal...” sahut wanita itu sambil menggidik.


“Bernyanyi?” tanya Dinie keheranan. Alin tiba – tiba tertawa - tawa mendengar itu.


“Cermin, cermin di dinding, katakan siapa yang paling cantik? Cermin...Cermin di dinding....” Alin seperti bersenandung, sebelum akhirnya menjerit – jerit tak keruan lagi.


Dinie terbelalak mendengarnya. Itu kan kalimat tokoh ibu Ratu jahat yang ada di film Snow White, kalimat yang selalu diucapkan tokoh ibu Ratu itu saat berada di depan cermin ajaibnya! Ya Alin menyanyikan kalimat itu...Kalimat itu...Apakah...


Dinie tiba - tiba teringat Agnes juga pernah bercanda dengan kalimat itu di depan cermin....


Malam itu Dinie gelisah tidak bisa tidur, gadis itu duduk sambil memeluk lututnya di atas kasur. Kisah Anandita, musibah yang menimpa Alin anak pelayan di rumah Anandita, berputar – putar di kepalanya. Apakah...Apakah kalimat ‘Cermin, cermin di dinding...’ yang menyebabkan Anandita muncul? Dan...Tidak, tidak, Bebbi mengatakan kematian Agnes karena Agnes sudah memanggil Snow White. Bukan Anandita... Sedangkan Alin mengatakan Anandita yang muncul...Dinie mengeluh, berarti masih saja menjadi misteri siapa pembunuh Agnes...Oh, Tuhan, hanya Bebbi yang bisa menjelaskan siapa Snow White...Apakah ada hubungannya dengan Anandita atau tidak. Setau Dinie satu – satunya cerita yang berhubungan dengan Snow White hanya cermin milik Anandita yang diberi nama Snow White...Bukan seseorang yang bernama Snow White...


Bebbi...Ah Bebbi...Seandainya kamu bisa muncul lagi...Rasanya ada beribu pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu...Tentang kematian Agnes...Tentang siapa Snow White...Tentang Anandita... Dan hubunganmu dengan Anandita...Dinie menghela nafas. Ah kenapa aku harus menanyakan tentang hubungan Bebbi dengan Anandita? Itu kan urusan pribadinya...Tak ada hubungannya dengan kematian Agnes, kenapa aku harus menanyakannya? Tapi tetap saja Dinie tak kuasa menahan diri untuk tidak menarik laci meja riasnya, mengambil foto Bebbi hasil print dari Facebook, yang masih saja disimpannya.


“Bebbi, kenapa aku masih saja belum bisa melupakan perasaanku padamu? Kenapa aku harus cemburu kamu punya hubungan dengan Anandita?” desah Dinie sambil membelai foto itu. “Padahal aku sekarang sudah punya Rikki...”


Dinie merebahkan diri ke kasur, dengan masih mendekap foto Bebbi. Maafkan aku malam ini, Rik...Tapi tiba – tiba saja aku sangat merindukan Bebbi.


Rasanya baru saja Dinie memejamkan mata, tiba – tiba gadis itu tersentak bangun kembali. Samar – samar dia mendengar suara orang membentak – bentak, diselingi suara teriakan – teriakan seperti orang mengerang kesakitan. Sumber suara seperti berasal dari balik pintu kamar kostnya. Ada apa ini? Siapa yang ribut – ribut di tengah malam buta seperti ini? Batin Dinie sambil mengusap – usap matanya. Apa yang terjadi diluar kamar kostnya?


Dinie bangkit dan mengenakan sendal kamarnya. Tak terasa foto Bebbi yang ada dalam dekapannya, melayang jatuh ke lantai. Gadis itu dengan tergesa memutar kunci kamar kost, membuka pintunya untuk melihat apa yang terjadi.


“Astagfirullah...” Dinie langsung tercengang karena mendapatkan dirinya bukan di dalam rumah kostnya, melainkan ditengah hutan belantara, ditengah hutan yang gersang, luas, hanya ditumbuhi pohon – pohon besar yang sudah mati, kering tanpa daun. Di..Dimana aku? Kenapa tiba – tiba ada hutan didepan kamar kostku?


Dinie hendak berbalik masuk ke dalam kamar kostnya lagi, tapi dingin tubuh Dinie dibuatnya, karena pintu itu sudah tidak ada lagi, pintu kamar kostnya seolah raib begitu saja. Oh tidak, bagaimana mungkin? Ada apa sebetulnya ini? Gadis itu mendekap mulutnya, pucat – pasi.


Suara – suara bentakan dan teriakan kesakitan itu terdengar lagi. Kini suara – suara itu makin jelas ditelinga Dinie, seolah berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Perlahan gadis itu melangkah dengan hati – hati. Meraba – raba pepohonan yang ada disekelilingnya. Sendal kamar yang dipakai Dinie menyulitkan gadis itu untuk melangkahi bebatuan dan akar – akar pohon besar yang menyeruak timbul dari tanah. Dinie memandang kesekelilingnya dengan sikap waspada. Dia belum tau tempat apa ini, dan bahaya apa yang mungkin sedang menunggunya dari balik pohon – pohon besar itu. Satu – satunya panduan Dinie untuk terus berjalan adalah arah suara – suara itu.


Makin lama makin dekat, sampai akhirnya pandangan Dinie tertumbuk pada sosok seseorang...Seorang gadis, bergaun panjang berwarna kuning krem, dengan brokat biru menutupi atasannya. Rambutnya panjang, mengenakan bando merah. Berdegup jantung Dinie dibuatnya. Beruntung gadis itu sedang membelakanginya. Cepat Dinie bersembunyi dibalik salah satu pohon besar terdekat sebelum keberadaannya diketahui. Se..Sepertinya pakaian yang dikenakan gadis itu sangat familiar bagi Dinie...


Suara bentakan – bentakan itu ternyata berasal dari sang gadis. Sementara disamping gadis itu Dinie melihat sesosok tubuh berkulit hitam tinggi besar, berambut gondrong awut - awutan berdiri tegap dengan sebuah cemeti panjang terhunus ditangan sosok itu - Atau mungkin lebih tepatnya, disebut mahluk itu – karena bagi Dinie sosok hitam tinggi besar itu tampak tidak seperti manusia karena bentuknya begitu aneh menyeramkan. Cemeti itu dilecut – lecut dengan penuh kekuatan, seolah mahluk itu sedang melecut seekor kuda atau hewan lainnya.


Dinie nyaris tak dapat menahan pekikannya setelah melihat apa...Atau siapa yang sedang dilecut mahluk itu. Bukan seekor kuda, juga bukan seekor hewan lainnya. Tapi seorang manusia! Seorang pemuda, yang kaki – tangannya terbelenggu oleh rantai besi. Dan rantai besi yang membelenggu bagian tangan pemuda itu dililitkan pada dahan besar yang menjulur kokoh dari sebuah pohon, sehingga si pemilik tangan jadi tergantung sengsara di dahan pohon itu. Kemeja hitam yang dikenakan pemuda itu robek tak keruan, menampakkan punggungnya yang putih pucat penuh bersimbah darah luka lecutan.


Si gadis yang membentak – bentak itu tampak tidak puas menyaksikan itu, emosinya masih meluap – luap. Tangannya terangkat, memberi isyarat pada mahluk hitam itu agar berhenti melecutkan cemetinya. Didekatinya pemuda yang tergantung itu, dicengkramnya wajah pemuda itu hingga menghadap si gadis.


Dinie mendekap mulutnya kuat – kuat supaya jeritannya tidak terdengar. Karena wajah pemuda itu kini jadi terlihat jelas olehnya. Wajah yang seperti indo, menawan, bermata coklat muda...Bebbi?! Oh Tuhan....


Dinie mendengar gadis itu membentak.


“Itu akibatnya jika mencoba mengkhianati aku!”


“Anandita...Please, aku hanya ingin kamu sudahi dendammu...Tak ada gunanya terus mendendam, hanya akan membuatmu sakit hati berkepanjangan. Gadis - gadis itu tak berdosa, bahkan kenalpun tidak denganmu, kenapa kamu bunuh, kamu siksa hingga hilang ingatan...”


Gadis yang ternyata adalah Anandita itu mempererat cengkraman tangannya pada wajah Bebbi sehingga pemuda itu tak bisa meneruskan kata – katanya. Kuku – kuku Anandita yang panjang dan runcing itu menusuk – nusuk menyakitkan.


“Apa?! Kamu menyuruhku berhenti?! Wajahku bagaimana?! Lihat baik – baik, lihat wajahku!!” Anandita melepaskan cengkraman dan menyibak rambut panjangnya agar wajahnya jadi semakin jelas terlihat. Dinie tanpa sadar, spontan menggigit tangan kanannya kuat – kuat agar tiba tidak kelepasan menjerit ngeri. Gadis itu merasa seluruh tubuhnya berguncang kuat karena gemetar, keringat dingin bercucuran membasahi. Wajah Anandita... Wajah cantik yang pernah dilihatnya dalam lukisan besar di rumah Anandita...Wajah itu kini dilihatnya hancur sebelah, bagai meleleh, membusuk, menampakkan tulang tengkoraknya disana – sini, dipenuhi belatung, begitu mengerikan! Astagfirullah! Astagfirullah! Dinie mengucap dalam hati, berkali – kali, teringat cerita ibu Anandita tentang wajah Anandita yang disiram air keras, rupanya begitulah wajah Anandita kini.


“Kamu tidak tau betapa hancur perasaanku setiap kali mendengar gadis – gadis itu ceria mematut diri di depan cermin, berseloroh mengatakan ‘Cermin, cermin di dinding, katakan siapa yang paling cantik?’ Sudah jelas mereka tau wajah mereka masih sempurna, kenapa bertanya juga? Mereka menyindirku! Menyindir aku yang tidak bisa lagi mengucapkan kalimat itu karena wajahku hancur! Rusak!!” jerit Anandita melengking – lengking, penuh kemarahan. “Aku dulu begitu cantik, semua orang memujaku...Tapi sekarang?!!”


“An..Anandita...Itu kan musibah...”


“Aku tidak terima! Aku Snow White yang cantik! Bukankah begitu katamu dulu?! Karena itu tidak ada yang boleh menandingiku! Hanya aku satu – satunya Snow White...Bukan yang lain, bukan pula Yola!!”


“Aarggh!!” Bebbi menjengit, mahluk hitam pendamping Anandita menyodok ujung pegangan cemetinya ke uluhati pemuda itu kuat – kuat, atas perintah Anandita.


“Hanya aku! Bukan Yola gadis pelacur itu, kamu paham??! Dan kamu hanya milikku seorang! Tidak ada gadis lain yang boleh memilikimu kecuali aku, putri Snow Whitemu!!”


“Yola is not a hooker!"


“Diam!!”


Anandita membuat jarak dari tubuh Bebbi yang tergantung itu, dan mengangkat tangannya memberi isyarat pada mahluk hitam itu, membuat mahluk itu mulai mengayun – ayunkan cemetinya lagi, melecut tanah disekitarnya. Dinie dapat melihat Bebbi menggidik, tak dapat menyembunyikan rasa ngerinya. Mata coklat muda pemuda itu menatap nanar pada setiap ayunan cemeti si mahluk hitam yang sebentar lagi pasti akan mendarat ditubuhnya.


Tarr!!


Bunyi lecutan itu begitu mengerikan terdengar, saat cemeti itu menyambar tubuh Bebbi bagian depan. Membuat pemuda itu berkelojot menahan sakitnya.


“Aarrghh!!”


Taarr!!


Cemeti itu menyambar lagi, menyambar lagi, lagi dan lagi. Dinie serasa tak tahan lagi menyaksikan kekejaman itu, menyaksikan tubuh Bebbi yang tampak sudah begitu penuh luka, masih saja dihajar ayunan cemeti mahluk hitam tinggi besar itu. Dada pemuda itu naik - turun tersengal – sengal karena kesakitan. Tidak ada lagi teriakan yang bisa keluar dari bibir pemuda itu, karena sudah kehabisan tenaga menahan sakit.


“Bebbiiii!!!” Dinie akhirnya tak mampu menahan jeritannya lagi. “Hentikan!! Jangan sakiti Bebbi!! ”