
“Bebbiiii!!!” Dinie tersentak bangun, keringat membanjiri tubuhnya, nafasnya memburu cepat, gadis itu memandang kesekelilingnya dan segera saja menjadi terpana, karena mendapati dirinya kini sudah berada di kamar kostnya kembali, di atas tempat tidur, bukan di hutan belantara. “Ba..Bagaimana mungkin...Astagfirullah...Aku..Aku hanya bermimpi rupanya...”
Dinie menyeka keringatnya dengan tangan gemetar. Oh Tuhan...Mimpi yang sangat mengerikan...Mimpi itu tampak begitu nyata...Begitu hidup...Anandita...Mahluk hitam tinggi besar itu...Bebbi...Dinie mencari – cari foto Bebbi yang didekapnya sebelum tidur, dan menemukan foto itu tergeletak di lantai. Wajah Bebbi yang sedang tersenyum ceria di dalam foto itu membuat perasaan Dinie begitu galau tak menentu, karena begitu bertolak – belakang dengan keadaan Bebbi dalam mimpinya.
“Kenapa aku bermimpi begitu buruk tentang Bebbi?” bisik Dinie sambil menutup wajahnya. “Apa maksudnya?...Oh, Tuhan...Benar – benar mengerikan...Perasaanku tidak enak...Ini..Ini pasti sebuah pertanda...Ya, pasti Bebbi mencoba menghubungiku lewat mimpi untuk minta tolong padaku! Anandita harus segera dihentikan! Jika tidak dia akan terus mencelakai gadis – gadis tak berdosa...Dan Bebbi...Aku harus menolong Bebbi lepas dari pengaruh Anandita! Ta..Tapi bagaimana?”
Kokok ayam jantan dari kejauhan menyadarkan Dinie bahwa hari sudah pagi. Suara – suara teman satu kost Dinie yang baru terbangun mulai terdengar. Gadis itu mengucap berkali – kali di dalam hati, berusaha menenangkan perasaannya. Seorang teman kost Dinie mengetuk pintu kamar.
“Din...Din..Sudah bangun?”
Dinie turun dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Ada apa, Lis?”
“Lihat lantai di depan kamarmu, Din...”
Dinie mendekap mulutnya, terperanjat melihat arah telunjuk Lisa teman kostnya. Lantai itu!
*******
Pagi itu terjadi kehebohan di rumah kost Dinie. Pintu gudang terbuka, dan ada tapak – tapak bernoda tanah didepan gudang, di dalam gudang dan yang mengherankan tapak – tapak kotor itu menuntun para penghuni kost yang terkejut itu ke kamar Dinie!
“Oh bagaimana mungkin?!” Dinie terperanjat, ketika mengetahui itu. Lantai kamarnya juga ternyata penuh dengan tapak – tapak kotor itu, dan yang lebih mengejutkan, tapak – tapak itu berasal dari sendal kamar Dinie!! Berdegup jantung Dinie dibuatnya. Kapan aku membawa sendal ini berjalan ditanah? Tidak pernah...Ke..Kecuali...Di dalam mimpi itu....gadis itu mendekap mulutnya. Apa...Apakah itu berarti aku...
“Din, apa yang kamu lakukan tadi malam? Untuk apa kamu ke gudang?” teman – teman satu kost Dinie ribut menanyai.
“A..Aku juga tidak tau...” sahut Dinie bingung, sewaktu terbangun tadi dia tidak memperhatikan lantai kamarnya karena begitu gundah akan mimpi buruknya. Baru sekarang segalanya terlihat jelas. Darah gadis itu mendesir, cermin Snow White ada di gudang itu! Rikki memang menyuruh Dinie menyimpan cermin Snow White di gudang rumah kost ini agar tidak terjadi yang aneh – aneh lagi, katanya.
“Kalau perlu, buang saja cermin itu...” begitu kata Rikki sepulang mereka dari rumah Anandita waktu itu. Tapi Dinie masih mempertahankan cermin Snow White itu, karena merasa masih memerlukan cermin itu sampai misteri kematian Agnes bisa terungkap, karena...Karena dia masih berharap Bebbi bisa muncul lagi dari cermin itu dan membantunya. Apakah...Apakah aku ke gudang itu malam tadi? Dinie bertanya – tanya. Didorong rasa penasaran yang kuat, gadis itu ditemani beberapa teman satu kostnya memeriksa gudang.
“Lihat tapaknya berhenti sampai dicermin ini!” kata salah satu dari mereka, menunjuk ke lantai di dekat cermin Snow White yang tersender di dekat tumpukan barang lain di gudang itu.
Dinie melihat tapaknya terbalik, berarti pemilik tapak itu berdiri membelakangi cermin, seolah dia menapak keluar dari dalam cermin...Hmm keluar? Dinie terkesiap. Nggak mungkin kan aku keluar dari cermin tadi malam?
“Eh Din..Tangan kirimu kenapa?” tiba – tiba teman kost Dinie yang bernama Lisa bertanya.
“Tanganku?” Dinie memeriksa tangan kirinya, ada bekas gigitan yang memerah ditangan itu. Oh tentu saja, Dinie teringat dia memang menggigit tangannya sewaktu...Yah...Didalam mimpi itu...Tapi... rasa - rasanya dia menggigit tangan kanan...Kenapa sekarang jadi tangan kiri ya? Gadis itu memandangi tangan kiri dan kanannya bergantian dengan bingung. Aneh, kok bisa?
“Kenapa Din?”
“Eh enggak...Aku hanya bingung saja...”
******
Siang itu saat mereka sedang duduk di bangku taman kampus, menunggu jadwal kuliah berikutnya, Dinie tersentak karena Rikki menyenggolnya.
“Eh?!”
“Melamun lagi? Kenapa sih? Sepertinya kamu melamun saja dari pagi...Ada apa Din?” tegur Rikki. “Tuh minumanmu tumpah kamu nggak sadar...”
“Eh, minumanku?!” Dinie gelagapan, baru sadar telah menumpahkan minuman air mineralnya, membasahi buku – buku kuliahnya. Gadis itu langsung sibuk membersihkan buku – bukunya.
“Ada apa? Bebbi lagi?”
“Ah, kamu Rik...” Dinie tau, Rikki pasti gusar melihatnya hanya diam saja sejak mereka mengikuti perkuliahan pagi. Gadis itu menghela nafas, benar dugaan Rikki, dia memang sedang memikirkan Bebbi. Bayangan Bebbi yang berteriak kesakitan di dalam mimpi itu, begitu sulit lepas dari ingatannya. Rasanya memang ingin sekali dia menumpahkan perasaan kuatirnya tentang Bebbi pada Rikki, tapi Dinie merasa itu tak mungkin, ceritanya pasti hanya akan membuat Rikki cemburu.
“Tapi pasti aku benar, iya kan? Itu, kelihatan dari wajahmu!” Rikki masih berkomentar.
“Apa sih yang membebani pikiranmu? Cerita dong denganku?...Hmm begini, jadwal kuliah kita kan masih satu jam lagi, bagaimana kalau kita duduk di kantin dulu yuk? Sekedar minum kopi atau apa kek?” usul Rikki.
“Tapi kita kan sudah makan...” Dinie menunjuk kotak makan siang mereka yang kosong. Sudah menjadi kebiasaan Dinie, membuatkan bekal makan siang untuk mereka berdua, jika mereka ada jadwal kuliah padat sampai sore. Rikki tertawa.
“Dengar soal baik – baik, sweetie darling, aku kan mengajakmu minum kopi...Bukan makan siang...” kata Rikki sambil menarik kuncir rambut Dinie.
Dinie akhirnya meringis menyadari kesalahannya, gadis itu kemudian menurut saja ketika Rikki menggamitnya ke kantin kampus. Tidak ramai yang duduk disitu, sehingga Dinie dan Rikki bebas memilih meja sesuka mereka. Rikki mengambil tempat agak disudut, maksudnya agar mereka leluasa mengobrol, tanpa ada yang mendengar.
“Oke, kamu bisa cerita disini, Din...” kata Rikki setelah memesan dua gelas cappucinno dingin untuk mereka.
“Aku...” Dinie ragu – ragu, memandang Rikki. Cerita nggak ya?
“Ya kenapa?”
“Aku...Aku tadi malam bermimpi...Terus terang mimpi itu sangat merisaukan aku...” Dinie akhirnya tak dapat menahan diri untuk tidak bercerita.
“Mimpi tentang Bebbi?”
“Iya sih...Tapi bukan itu saja, Rik...” Dinie kemudian menceritakan semua yang dilihatnya dalam mimpi itu. Termasuk tangannya yang benar – benar berbekas gigitan, dan sendal kamarnya yang bernoda tanah. ”Aneh nggak sih Rik? Mimpi itu seperti benar – benar terjadi!”
Rikki mengerutkan kening mendengar itu.
“Makin lama makin menakutkan saja ceritamu...Diluar jangkauan nalarku, Din...Tapi jika mimpimu benar nyata, Anandita tampaknya sangat berbahaya...Dia sanggup melakukan apa saja demi keinginannya...Demi dendamnya...”
“Ya, Rik, karena itu kita harus menghentikan Anandita! Aku rasa mimpi itu seperti pertanda bahwa kita harus menolong Bebbi menghentikan Anandita! Aku yakin pasti Anandita juga yang menyebabkan kematian Agnes...”
Kata – kata Anandita di dalam mimpi, seolah telah memberi Dinie sebuah petunjuk.
‘Aku tidak terima! Aku Snow White yang cantik! Bukankah begitu katamu dulu?! Karena itu tidak ada yang boleh menandingiku! Hanya aku satu – satunya Snow White...’
Hanya dia satu – satunya Snow White...Berarti...Berarti Anandita adalah Snow White! Bukan kah begitu?
“Tapi bagaimana caranya, Din? Aku justru kuatir hal itu bisa membahayakan kita semua...”
“Pasti ada cara...Anandita tak bisa dibiarkan terus mencelakai orang lain, Rik...”
“Hmm....Bagaimana jika kita pecahkan saja cermin itu, terus buang Jauh - jauh...”
“Rikki, please, tak semudah itu!...Kamu lihat Alin...Pasti gadis anak pelayan di rumah Anandita itu sudah berusaha membuang cermin Snow White, tapi tetap saja ada korban lain...Agnes tetap saja terbunuh!”
“So...Bagaimana?”
“Hmm...Aku rasa...Kita harus bertemu Bebbi...Ya Bebbi pasti tau banyak tentang Anandita...Dia pasti tau kelemahan Anandita!”
“Bebbi? Again?”
“Rik...Please? Jangan berprasangka dulu...”
“Menurutku sih, untuk amannya lebih baik kita mencari seseorang yang ahli dalam menangani hal – hal seperti ini untuk membantu kita...”
“Maksudmu? Memanggil Paranormal? Atau pak Ustadz?”
“Yaah, seperti itulah...” Rikki tampak menggaruk – garuk kepalanya, berpikir - pikir.