
Saat pulang sekolah, Dabria seperti biasa berjalan bersama Annisa sambil bercerita.
Namun saat sampai di pertigaan, mereka tidak saling menyapa untuk berpisah tetapi keduanya berjalan ke satu arah yang sama.
Rupanya Dabria dan Annisa sudah sepakat sebelumnya untuk mereka sama-sama datang kerumah paman.
Mereka memang selalu membantu paman memanen buah mangga setiap musimnya, dan dari situlah mereka mendapat upah untuk jajan.
Walau paman ini tidak memiliki hubungan kekeluargaan sama sekali dengan keduanya, tetapi Ia sangat menyayangi mereka layaknya ponakan sendiri.
Setelah beberapa saat berjalan mereka kini telah sampai didepan rumah paman yang terlihat sederhana, karena kebetulan rumah paman itu tidak jauh dari pertigaan.
..."Kalian sudah datang, paman pikir kalian tidak bantu paman memanen buah kali ini! " seru paman Herman saat melihat keduanya berjalan kearahnya....
..."Iya paman, mana mungkin kami gak bantu lagian kami juga dapat uang jajan kan! " sahut Annisa...
..."Bria, kenapa beberapa hari ini kamu gak pulang bareng sama Nisa?" tanya paman Herman melirik kearah Dabria....
Annisa melihat Dabria yang kebingungan dengan ucapan paman Herman pun segera mengalihkan pembicaraan dengan mengajak paman agar segera berangkat.
..."Paman ayo kita berangkat sekarang! " seru Annisa...
..."Yasudah, kita pergi! Tapi kalian ambil dan pake mantelnya dulu supaya baju kalian gak kotor. " ucap paman Herman dan di angguk setuju oleh Dabria dan Annisa. ...
*******
Zain kini telah sampai dirumah, ia mencari keberadaan Dabria tapi tidak ditemuinya.
..."Bi, Dabria mana? " Tanya Zain...
..."Belum pulang Tuan! " sahut pelayan itu...
Mendengar ucapan pelayan, Zain kembali ke ruang tengah untuk menunggu Dabria pulang.
..."Dea, kamu dimana? " batin Zain cemas sambil memutar-mutar diruang yang luas itu....
Hari kini sudah hampir sore, langit yang berwarna biru cerah sebentar lagi akan berubah menjadi jingga. Namun Dabria belum juga kembali, Zain bakan sampai ketiduran diruang tengah hanya karena menunggunya.
Zain menunggu Dabria karena waktu disekolah Zain meminta Dabria untuk mengajarinya tugas yang belum dipahami nya, tapi saat jam sekolah telah selesai Ia mencari keberadaan Dabria bertujuan untuk pulang bersama tapi tidak ditemukannya.
..."Hei, anak malas! " Ucap Kennan yang membangunkan Zain yang tertidur didepan televisi....
..."Eh, kak sudah pulang. " ucap Zain sembari mengusap matanya....
..."Kau terlihat seperti kucing, mengapa kau tidur disini?" Tanya Kennan...
..."Menggemaskan! "...
..."Cisss.... " Cibir Kennan malas. ...
Zain melihat sekelilingnya, membuat kakaknya itu menatap bingung padanya.
..."Kak, Dea mana?" tanya Zain...
..."Kak, aku nungguin Dea buat belajar bareng, tapi Dea belum pulang dari sekolah! " tambahnya lagi saat Kennan hanya menatapnya bingung....
..."Kemana lagi wanita murahan itu pergi? " batin Kennan...
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dengan pelan menghampirinya.
..."Selamat sore!" sapa Dabria sambil menundukkan kepalanya....
..."Kemana saja kau pergi, hah? Jam berapa sekarang, kenapa baru pulang?" tanya Kennan bertubi-tubi dengan suara yang meninggi. ...
..."Ma-maaf Tuan, Dabria kerumah paman! " ucap Dabria dengan gugupnya....
..."Berhentilah membuat alasan, kau memang wanita murahan banyak alasannya! " tegas Kennan membuat Dabria menitikan air matanya....
Kata seperti ini memang selalu didengarnya dan ia tidak mempedulikannya, namun kali ini yang membuatnya menitikan air mata karena ucapan itu didengar oleh Zain dan beberapa pelayan.
..."Kak, jangan marahin Dea terus. Sampai ngatain Dea murahan. Dea kan cuma kerumah pamannya! " Bentak Zain...
..." Kamu diam. Oh, dan kamu juga kakak larang untuk belajar bersama perempuan ini. Kakak akan panggilkan guru privat buat kamu. " jelas Kennan kemudian langsung melangkah pergi meninggalkan mereka....
Saat Kennan hendak naik ke tangga menuju kamarnya, seorang tukang kebun menghampirinya dengan memanggil namanya.
..."Ada apa? " tanya Kennan...
..."Tuan, maafkan saya! Pagi tadi nona Dabria bilang pada saya untuk memberitahu Tuan, kalau dia mungkin akan pulang telat karena harus kerumah pamannya untuk membantu memanen mangga! " jelas tukang kebun itu....
Ia sangat merasa bersalah karena berpikir Dabria hanya membuat alasan.
..."Kenapa kau tidak memberitahu ku? " tanya Kennan dengan kesal. ...
..."Pagi tadi saya hendak memberitahu Tuan, tapi Tuan pergi sangat terburu-buru! " seru tukang kebun itu lagi....
Didalam kamar, Kennan yang sedang duduk ditepi ranjang hanya terus memikirkan ucapan kasarnya pada Dabria.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu kamarnya.
..."Tuan, makanan sudah siap! " ucap pelayan dibalik pintu....
..."Hmmmm "...
Beberapa saat kemudian, Kennan melangkah kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian menuju ruang makan untuk makan malam.
..."Dimana Dabria? " tanya Kennan saat Zain menarik kursi untuk duduk....
Tiba-tiba berjalan Dabria sambil menundukkan kepalanya Ia hendak menuju dapur tempat makannya.
Namun suara Kennan menghentikannya.
..."Dabria! " ucap Kennan setidaknya terdengar sedikit lembut tidak seperti biasanya. ...
..."Iya Tuan! " sahut Dabria sembari membalikkan badannya menatap kearah Kennan. ...
..."Duduk disini, kau boleh ikut makan bersama kami! " Ujar Kennan sembari menunjuk kursi disampingnya....
..."Ta-tapi Tuan! " ucap Dabria yang dengan terbata-bata. Dirinya merasa tidak nyaman karena disitu juga ada Zain. ...
Apa yang akan Zain pikirkan? Sedangkan Dabria memperkenalkan dirinya dan yang Zain tahu Dabria merupakan seorang pelayan dirumah ini yang bekerja sambil sekolah.
Namun karena melihat sorot mata tajam itu, Dabria pun menarik kursi yang ditunjukan oleh Kennan.
Dengan terpaksa Dabria menarik kursi yang ditunjuk Kennan untuk duduk.
Mereka menikmati makanan yang disiapkan tanpa bersuara, akan tetapi sesekali Dabria mencuri pandang terhadap Kennan karena dirinya yang merasa tak nyaman dekat dengan Kennan dan Zain.
..."Aku kekamar dulu, selesai makan aku ijinkan kalian boleh belajar bersama. " ucap Kennan yang langsung pergi meninggalkan mereka....
Zain langsung menampilkan senyum lebar di wajahnya yang awalnya begitu kesal dengan Kennan.
..."Dea, kamu makan yang banyak! " ucap Zain sambil menambah nasi dan lauk-pauk di piring Dabria....
..."Sudah Tuan, Dabria sudah sangat kenyang! " seru Dabria sembari tersenyum....
..."Kamu makan lagi, ya. Kitakan mau belajar bareng, harus banyak tenaga! " ucap Zain lagi...
Mungkin karena terlalu semangat Zain sampai melakukan hal konyol yang terlihat seperti anak kecil.
Dengan segala keterpaksaan, Dabria menghabiskan makanan yang ditambahkan Zain di piringnya. Sayang kalau disisakan.
Selesai makan , Zain mengajak Dabria agar mereka sama-sama belajar diruang tengah.
..."Dea, ajarin aku yang ini. " ucap Zain sembari menunjuk ke buku yang dimaksudnya....
Dabria hanya mengangguk pelan, saat keduanya sedang fokus dengan buku-buku yang ada di hadapan mereka, terlihat Kennan yang menatap mereka dibalik pintu.
..."Wanita terlihat begitu baik dan tulus, sayang sekali karakter aslinya begitu menjijikkan. " ucap Kennan dalam hatinya dibalik pintu....
.......
Keesokannya, seperti biasa Dabria yang akan berangkat ke sekolah pun menyempatkan diri untuk berpamitan dan juga salaman terhadap para pelayan yang ada.
Pagi ini juga, Dabria hanya menitipkan pesan pada tukang kebun untuk Kennan yang tak terlihat batang hidungnya.
Mungkin saat ini Kennan seperti biasa sedang berolahraga di gym , atau sedang joging di taman.
Namun Dabria sama sekali tidak tahu, Ia hanya berpikir kalau Kennan sibuk dengan pekerjaannya. Sehingga setiap hendak berangkat ke sekolah, Ia selalu menitip pesan untuk Kennan lewat para pekerja di rumah.
Kali ini Dabria terburu-buru agar tidak bersama dengan Zain, upah dari hasil memanen mangga kemarin bersama pamannya Dabria gunakan sebagai ongkos ke sekolah.
Dan juga bisa pulang lebih awal saat jam sekolah selesai, agar tidak disangka melakukan hal menjijikkan oleh Kennan.
Bersambung.......