Snow-white

Snow-white
Hotel



Dalam perjalanan yang memakan waktu kurang lebih empat puluh menit yang entah kemana Kennan akan membawanya, Dabria juga tidak berinisiatif untuk menanyakannya.


Dirinya seolah pasrah dengan Kennan, walaupun dalam lubuk hatinya bertanya-tanya.


..."Mas, untuk apa kita kesini? " tanya Dabria menatap lekat pada bangunan yang menjulang tinggi di hadapannya....


Ingatannya berputar akan kejadian bulan lalu, dimana dirinya merasa menjadi manusia paling menjijikkan dan hina didunia ini , walau orang yang mengambil kehormatannya adalah suaminya sendiri.


Itu seharusnya menjadi suatu kebanggaan untuknya, harta yang paling berharga dalam dirinya sebagai seorang wanita bisa dijaga nya sebaik mungkin untuk suaminya.


Tapi suaminya itu hanyalah suami diatas kertas.


..."Kamu tenang, aku tidak akan melakukan apapun. " ucap Kennan yang melihat raut wajah cemas Dabria....


Dabria menatap manik mata Kennan penuh selidik, mencari kesungguhan yang diucapkan pria itu.


Sejujurnya dalam hati Kennan begitu mengagumi Dabria, tampilan yang sangat ini hampir mendekati kata sempurna. Namun mengingat ke lancang nya serta keegoisannya yang merebut kesucian seorang gadis hanya karena ingin membuktikan bahwa gadis itu cuma bermuka polos saja, akan tetapi semuanya diluar nalarnya membuat rasa bersalah yang besar di hatinya.


..."Mas, untuk apa kita ke hotel? " tanya Dabria lagi dengan tatapan penuh selidik....


..."Tenanglah, kita hanya akan dinner."...


Dinner? Kata yang membuat jantung Dabria berdetak dua kali lebih cepat. Walau hanya sebuah kata yang sederhana dan biasa tetapi mampu membuat aliran darahnya seakan membeku.


'Kencan? Apa itu terlihat seperti di drama-drama yang sering ku tonton?' pikirnya.


Dabria berpikir kencan seperti apa yang sering ditontonnya dalam serial drama.


Pikirannya berputar, mengingat setiap adegan dalam drama saat dua insang berkencan dan seperti yang ditontonnya, kegiatan ini tidak lepas dari adegan romantis.


Ya, bukankah kencan itu hanya untuk orang yang ingin saling mengenal lebih dalam lagi, bukan?


Walau dirinya berusaha tetap tenang dan yakin bahwa Kennan tidak akan melakukan hal itu lagi padanya, biarpun keduanya sudah menjadi suami-istri. Ya suami-istri diatas kertas.


Hanya sebatas surat perjanjian dan tanda tangan diatas materai.


Dabria bahkan tidak pernah berharap Kennan akan menikahinya secara resmi nantinya, walau sekedar sebagai rasa tanggung jawab belaka atas perbuatannya.


Jujur sebagai manusia Dabria sangat menginginkan rasa tanggung jawab dari Kennan, namun melihat garis takdir mereka yang berbeda jauh membuatnya terpaksa memendam semuanya dan berusaha dengan iklas menerima dan menjalani kehidupannya saat ini.


Dabria sempat berpikir, mungkin tidak ada lagi yang mau mendekatinya kalau tau dirinya sudah tidak virgin.


Hanya satu kalimat yang dipegangnya yang menjadi kekuatan untuknya. .


'Cinta sejati tidak akan memandang asal-usul dan seperti apa masa lalu dari orang yang dicintainya. Apapun keadaannya, ia akan tetap menerimanya dengan tulus.'


Dabria terus melamun hingga suara berdehem Kennan membuyarkan lamunannya.


..."Mikirin apa? " tanya Kennan dan Dabria pun hanya menggeleng kepalanya....


..."Mas, apa kita akan berkencan dihotel? " tanya Dabria membuat Kennan menautkan alisnya....


..."Ya, kita akan mencari sensasi baru. " ucap Kennan yang sengaja menjahili Dabria....


Pikirnya Dabria terlalu polos, menjahili nya pasti akan sangat menyenangkan. Pikir Kennan.


..."Ta-tapi Mas.. " ucap Dabria terbata-bata....


Dabria menjadi cemas dengan penuturan Kennan barusan.