Snow-white

Snow-white
Bingung



Dabria merasa bersalah atas semuanya, Dabria berpikir karena dirinya Kennan malah sakit perut.


Padahal sebenarnya bukan salahnya, karena Kennan sendiri yang menukar baksonya.


Dabria menuju membersihkan diri, setelah itu Vania bergegas kedapur menemui pelayan yang sedang menyiapkan makan malam.


..."Permisi bi, Dabria mau ijin buat bubur sebentar! " ucap Dabria pada pelayan yang sedang memotong sayuran....


..."Eh neng, biar bibi yang buat, neng tunggu aja!" pelayan tersebut langsung mencegah Dabria yang hendak mengambil panci masak....


..."Gak apa-apa bi, biar Dabria aja, bibi lanjutkan aja masaknya. "...


..."Tapi kalau Tuan Kennan tau, bibi bisa dimarahin neng. "...


..."Bi, justru aku mau buat bubur ini untuk Mas Kennan, sebagai permintaan maaf aku, karena aku Tuan Kennan jadi sakit! "...


..."Oh, yaudah neng!"...


..."Makasih ya, bi." ucap Dabria sembari tersenyum....


Pelayan tersebut memerhatikan kegiatan Dabria, cara masaknya sambil melakukan kegiatannya.


Pelayan tersebut hendak melihat kemampuan majikannya dalam memasak.


Beberapa saat kemudian, bubur ayam yang dibuat Dabria pun siap disajikan.


..."Bi, Dabria kekamar dulu, ya. Mau bawain bubur buat Mas Kennan. "...


..."Iya neng! "...


Dabria bergegas menuju kamar sambil membawa mangkuk yang berisi bubur didalamnya.


..."Mas, Dabria buatin bubur buat Mas. Dimakan, mumpung masih hangat." ucap Dabria lalu mendekati Kennan yang sedang terbaring di ranjang....


..."Kamu bisa masak? " tanya Kennan lalu bergegas menyandarkan diri di bantal yang disusunnya....


..."Lumayan, Dabria belajar dari ibu, terus dari internet juga. " Kennan hanya mengangguk....


..."Kamu bisa suapin? " tanya Kennan membuat Dabria terdiam sesaat, namun kemudian mengangguk....


Dabria mulai menyendokkan bubur mendekati bibir Kennan dengan penuh hati-hati.


"Enak..... " puji Kennan dalam hatinya.


Kennan menikmati bubur yang dibuat oleh Dabria hingga buburnya habis tak tersisa.


..."Masih ada? " tanya Kennan setelah mangkuknya sudah kosong....


..."Masih, Mas mau nambah? "...


..."Boleh! "...


..."Yaudah Mas, Bria ambilin dulu ya, buburnya. "Kennan mengangguk pelan, Dabria langsung bergegas menuju dapur untuk mengambil bubur yang masih tersisa di panci....


Saat menuruni tangga,Dabria ber pas-pasan dengan Zain.


..." Dea, kak Kennan dimana? " tanya Zain...


..."Dikamar , Bria permisi dulu, mau ambil bubur." ucap Dabria lalu bergegas kedapur....


Zain masuk kekamar utama, melihat Kennan yang terbaring lemah saat membuka pintu, Zain langsung menghampirinya.


..."Kak Kenapa kenapa? " tanya Zain dengan raut wajah khawatirnya....


..."Gak apa-apa anak manja."ucap Kennan yang berusaha menggoda adiknya....


..." Kak, aku serius! "ucap Zain penuh penekanan....


Melihat tatapan mata Zain yang penuh kekhawatiran, Kennan hanya tersenyum.


" Ternyata dibalik sifatnya yang kekanak-kanakan, dia punya rasa kepedulian yang besar. " batin Kennan


..."Kakak cuma gak enak badan, ditambah lagi tadi gara-gara bakso yang pedas, jadi sakit perut. " ucap Kennan membuat Zain langsung tertawa terbahak-bahak....


..."Kepedasan jadi sakit perut? Apa kakak pikir Dea gak bisa makan pedas? " ucap Zain lalu kembali tertawa terbahak-bahak membuat Kennan kesal dengan sendirinya....


"Sama saja, pikir peduli! " ucap Kennan dalam hatinya.


Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka dengan pelan. Dabria kembali dengan membawa semangkok bubur.


..."Zen, disini?" ucap Dabria...


..."Dea, buburnya buat siapa? " tanya Zain...


..."Buat Mas Kennan, sakit perut katanya! "ucap Dabria sambil meletakkan bubur diatas meja dekat ranjang....


..."Hey, anak bawang, untuk apa kau masih disini?" tanya Kennan saat melihat Zain hanya berdiri sambil memerhatikan nya....


..."Kok anak bawang sih, kak? " ucap Zain kesal...


..."Ya memang, itu sebutan yang pantas untuk dirimu! "...


..."Kak, aku mau minta uang, dong! " ucap Zain penuh harap....


Kennan langsung menatap tajamnya, membuat Zain segera memalingkan pandangannya karena tidak ingin melihat tatapan menyeramkan itu.


..."Bukannya baru beberapa hari yang lalu sudah aku kasih? " ucap Kennan...


..."Tapi sudah habis kak, kali ini aku minta mau pakai traktiran karena sebentar lagi aku ulang tahun. "...


..."Alasan, nanti ulang tahun baru kakak kasi lagi, kalau sekarang nanti malah di pakai berfoya-foya. "...


..."Kak, aku gak berfoya-foya, aku aja tiap hari dirumah, gak kemana-mana karena kakak larang. " ucap Zain kesal....


Kennan terdiam sesaat, matanya menatap Dabria sekilas membuat Vania langsung menundukkan kepalanya.


Kennan bergegas meraih dompetnya yang tersimpan di meja, samping tempat tidur.


..."Buat kamu sama Bria, beli cemilan untuk nemanin kalian nonton atau belajar. "ucap Kennan sambil memberikan beberapa lembar uang ratusan yang tanpa dihitung jumlahnya....


Dabria membulatkan matanya, menatap Zain sekilas.


..." Terimakasih kak!" ucap Zain sembari menerima uang yang diberikan oleh Kennan dengan gembira....


..."Dea, kita udah punya biaya untuk nonton, besok kita nonton ya! " ucap Zain dengan senyum manisnya....


..."Zen, itu bukannya kebanyakan?" ucap Dabria...


..."Gak Dea, ini uangnya aku simpan nanti besok pulang sekolah, kita belanja. Aku janji gak ambil kok. " Dabria hanya mengangguk pelan....


Zain beranjak menuju kamarnya setelah mendapat apa yang diinginkannya.


..."Mas, untuk apa mas kasih uang buat Annisa? " tanya Dabria saat Zain sudah keluar dari kamar....


..."Annisa cerita sama kamu? " bukannya jawab, Kennan malah balik bertanya. Dabria pun hanya mengangguk....


..."Untuk keperluannya dan ibu kamu. " Dabria menatap Kennan sekilas....


..."Tapikan..... "...


..."Bukannya aku sudah bilang sama kamu Bria, aku akan mengurus semua keperluan ibu kamu dan kebetulan Annisa sekarang tinggal bersamanya, jadi aku tambahin nominalnya."...


Dabria terkejut mendengar ucapan Kennan. Memang awal sebelum mereka menuju pengadilan untuk mengurus semua surat pernikahan, Kennan sudah bilang bahwa ia akan mengurus semua kebutuhan Sarita, ibunya Dabria.


Tetapi nominal yang diberikan Kennan sangat tinggi.


..."Mas, Bria simpan mangkuknya dulu. " ucap Dabria dan Kennan hanya mengangguk....


Dabria menuju dapur menuruni tangga , Dabria berjalan dengan langkah pelan. Dabria berpikir bahwa Kennan menepati janjinya untuk mengurusi ibunya, dan memenuhi segala kebutuhan ibunya , tapi ia sendiri tak rela disentuh oleh Kennan.


Bahkan saat Kennan menyentuhnya, Ia melawannya. Padahal bukannya itu menjadi perjanjian mereka.


Dabria benar-benar bingung, apa dia harus melakukan apa yang menjadi perjanjian mereka. Sementara Kennan sudah melakukan apa yang menjadi tugasnya dalam perjanjian.


Saat sampai didepan pintu dapur, Dabria terkejut melihat Zain sedang duduk di meja makan sambil menikmati bubur yang dibuatnya.


..."Dea, ayo makan. Buburnya enak bangat nih. " Dabria hanya tersenyum lalu bergegas mencuci mangkuk yang dipakai makan oleh Kennan....


..."Bria kekamar dulu!" ucap Dabria yang hendak melangkah, tetapi Zain mencegahnya....


..."Dea, cobain dulu buburnya, enak banget lho. " ucap Kennan terbata-bata karena terus menyendokkan bubur ke mulutnya....


..."Bria udah cobain kok! " ucap Dabria...


..."Jangan bohong Dea, tadi itukan buat kakak Kennan. "...


..."Bria gak bohong, tadi Bria udah cobain, karena yang buat buburnya kan Bria. " Zain terkejut mendengar ucapan Dabria, dan langsung menatap Dabria dengan tatapan sulit diartikan....


Bersambung.......


**Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya juga.


Untuk yang ingin memberikan usul saran atau kritik, boleh banget.


Mampir juga ke cerita yang lainnya :


The Merried Project


Terimakasih yang sudah membaca cerita ini❤**