She's Melisa

She's Melisa
Bertemu lagi



Beberapa jam kemudian, Melisa dan Irfan telah sampai di kota J. Mobil yang mereka tumpangi terus melaju membelah ramainya jalanan ibukota yang menuju ke sebuah rumah mewah berdisain eropa kelasik milik Irfan.


"Wow, rumah nya gede banget Yah" seloroh Melisa saat turun dari mobil.


"Ya dong, meskipun Ayah mu hanya seorang pengacara urusan selera tidak kalah dengan pebisnis terutama soal tempat tinggal". Dengan bangga Irfan berkata seperti itu.


"Aku tahu kok, Ayah itu bukan sembarangan pengacara. Apalagi ayah itu juga punya bisnis Hotel dan Resto kan, ditambah setiap kota besar pasti ada kantor cabang pengacara yang ayah miliki, dan Ayah juga telah banyak melahirkan pengacara-pengacara muda berbakat. Siapa yang tidak mengenal Pengacara kondang Tuan Irfan Abraham, semua orang menghormati Ayah"? Melisa berkata sambil terus berjalan masuk kedalam rumah.


Bukan tanpa alasan ia berkata seperti itu, sebab Melisa sendiri sudah melihat sebagian kecil saham atas nama Tante Cindy di kantor maupun perusahaan yang mereka kembangkan.


"Cerdas, gak sia-sia aku mengadopsi kamu sebagai anak ku. Hahaha... Tanpa bermaksud menyembunyikan apapun Irfan memuji kecerdasan Melisa yang sudah mengetahui siapa Irfan sebenarnya.


"Kamar mu ada di lantai atas, silahkan bersihkan diri dan berisitirahat. Bibi tolong tunjukan jalan nya ya". Irfan melanjutkan perkataan nya.


"Ok Yah, selamat beristirahat ya. Aku naik ke atas dulu, ayok bi". Dengan ramah Melisa tersenyum pada kepala Art dirumah ini.


Melisa atau kita sebut saja Lili ya, sebab kini dia sudah merubah identitas dan juga penampilan nya dengan rambut pendek juga cara berpakaian yang simpel namun mengarah ke tomboy sesuai dengan karakternya yang di sembunyikan ketika menjadi gadis jelek, cupu si kutu buku.


Waktu terus berlalu, hari pun kian berganti. Tak terasa sudah berjalan selama satu minggu ia hidup nyaman bersama Ayah angkat yang sangat menyanginya itu.


Selama satu minggu itu pula, Lili merasakan kasih sayang tulus seorang Ayah yang tidak pernah di dapatkan nya selama ia menjadi anaknya Wijaya. Namun, bukan berarti selama seminggu ini Lili tidak melakukan apa pun.


Lebih tepatnya, dia selalu memantau gerak gerik Wijaya dan keluarganya yang terlihat sangat bahagia tanpa kehadira nya dan Anissa. Seminggu ini pula ia sering mengunjungi makam orang-orang terkasihnya.


"Hay adik Kakak yang cantik, kakak datang lagi. Kamu bosen gak di datangi kakak setiap hari, hari ini kakak ada bawa bunga Mawar ungu loh, tadinya mau bawa warna lilac tapi gak ada. Jadi kakak bawa yang mendekati saja ya"


Seperti itu dia selalu mengajak ngobrol makam yang ada di depan nya, meskipun dia tahu, tidak akan ada jawaban dari sana. Dia selalu bercerita apapun seakan Adiknya masi hidup, terkadang dia juga merasa menyesal dan merutuki kebodohan nya yang tidak bisa melindungi Adik satu - satunya.


Disini juga Lili selalu larut dalam kesedihan tanpa memikirkan apapun yang ada di sekitarnya.


Merasa puas menangis tanpa suara di makam sang adik, Lili berbalik badan hendak menuju makam sang Mama dan menaburkan bunga disana. Namun dia terkejut mendapati makam palsu dirinya yang di datangi oleh seorang lelaki.


Lili diam mematung, menelisik juga memperhatikan dengan teliti lelaki yang hanya berjarak 1.5 M dari hadapan nya.


"Kamu siapa? Kenapa ada di makam ku" tanya Lili/Melisa


Lelaki itu mendongak, sambil mengernyit ia tetap diam dan melihat siapa orang yang berbicara.


"Waduh, salah ngomong gue". Batin Lili


"M-maksud-nya... Kenapa kamu ada di makam Melisa, setahu saya Melisa tidak punya teman atau kerabat lelaki, apalagi tampan. Ups..." lagi Lili berseloroh melihat lelaki di depan nya yang tetap diam dan sepertinya Lili, sedang mengingat-ingat sesuatu.


"Semakin banyak tahu, semakin cepat pula mati. Jadi diam dan jangan bicara omong kosong". Jawab lelaki tampan itu yang tak lain adalah Rey, teman masa kecilnya Lili.