
Dorrr dorrr dorrr dorrrr dorrr.... Senapan itu mengeluarkan banyak peluru dan mengenai banyak musuh yang menghadang. Melisa tidak mengijinkan musuh mendekatinya apalagi menyentuh adiknya. Meskipun dia tahu pasti adiknya akan menyangka bahwa dia adalah pembunuh berdarah dingin, tapi mau di kata apa lagi semua musuh tiba-tiba menyerang dan dia harus melindungi adik satu-satunya.
Anisa menangis menyesali dirinya hanya menjadi beban untuk kakaknya. Seumur hidupnya belum pernah ia berada dalam kondisi sulit seperti ini. Selain itu dia juga baru melihat bahwa kakaknya mempunyai sisi lain yang jelas tak dimiliki olehnya.
Melisa berjalan mundur sambil menembaki musuh yang akan menyerangnya. Ia berharap bisa masuk kembali kedalam rumah dan membawa Anisa ke tempat aman. "Kamu cepat lari kekamar kakak di atas sana" katanya sambil menunjuk salah satu kamar. Sementara ia terus melindungi dari bawah.
Tanpa berpikir panjang Anisa berlari menaiki tangga saat hendak sampai ke anak tangga yang terahir tiba-tiba
Dorrr... Aaahhhhhh....
terdengar suara tembakan dan jeritan seseorang.
Anisa.... Teriak Melisa langsung menaiki tangga, ia lengah tidak melihat ada satu musuh yang bersembunyi di balik tembok. Saat Melisa melihat musuh yang mengamati korbanya mati atau tidak dia langsung menmbaknya.
Anisa menangis, meraung kesakitan karena kaki mulusnya terkena tembakan.
Lantas Melisa memapahnya dan ia segera membawanya ke kamarnya. Namun tak berhenti disitu, ia membawa Anisa masuk ke dalam pintu rahasia yang terhubung antara kamarnya dan kamar tante Cindy menuju ke luar.
Sampai lah mereka ke suatu kamar, Melisa merebahkan Anisa di atas kasur dan mengobati lukanya.
"Entah apa yang terjadi dengan tante Cindy di sana" batin Melisa memikirkan sahabat Mamanya itu.
Aauusshhh... Anisa menahan sakit di lukanya, tiba-tiba ia menangis dan memeluk Melisa "Maafkan aku kak, aku hanya menjadi beban untukmu."
Melisa yang di peluk kaget, dan hanya mengatakan "Kita obati dulu lukanya setelah ini kakak antar kamu keluar ya."
"Ini salah ku kak, andai saja aku percaya sama kakak dari dulu. dan kalau saja aku mengikuti kata Papa tadi mungkin kita tidak akan di serang" katanya
merutuki kebodohan nya.
Tadi ia mengangkat telpon dari Wijaya sewaktu ke toilet.
"Maksud kamu bicara seperti itu apa" tanya melisa.
Entah kenapa Anisa merasa gugup sekali ketika melihat rumah tante Cindy yang banyak sekali penjaganya. Kegugupan nya semakin menjadi saat melihat Tante Cindy yang sangat mengintimidasi kedatanganya. Maka dari itu Anisa meminta ijin ketoilet sebentar untuk menenangkan dirinya.
Sudah sampai di toilet ia malah mendapatkan telpon dari Bu Inah yang menanyakan keberadaan Melisa. Lantas tanpa curiga Anisa memberitahu bahwa mereka sedang berada di rumah tante Cindy. Entah apa yang terjadi di sebrang sana tiba-tiba Bu Inah langsung mematikan telpon nya.
Dan tak lama telponya kembali bergetar tapi kali ini bukan dari Bu Inah melainkan dari Papanya.
"Dasar anak tidak tahu diuntung. Sudah berani kamu menghianati papa dan malah bergabung dengan Cindy juga Kakak kamu yang jelek itu." Sarkas Papanya dari sebrang telpon.
Meski takut dengan perkataan papanya Anisa memberanikan diri menjawabnya
"Oh jadi ini sifat asli Papa, berarti benar apa yang di katakan kak Meli selama ini Pa".
"Kamu dengar ya papa sudah tahu lokasi mu dimana dan papa bisa saja membunuh kalian sekarang. Jadi menurut kepada papa dan tanyakan dimana aset-aset itu mereka sembunyikan". Dengan nada nyalang Papa mengancam Anisa.
Anisa yang terlanjur kecewa kepada Papanya pun menolaknya.
"Sampai kapanpun tidak akan pernah aku percaya lagi pada papa dan aku tetap berada di pihak kakak ku dari pada di pihak papa yang jahat seperti kamu Wijaya" jawabnya tegas dan mematikan telponya, meski tangannya bergetar.
"Flasback off" kembali pada waktu sekarang.
"Sebenarnya aku bermaksud memberitahukan ini pada kakak dan tante tapi belum sempat aku bicara Papa sudah bertindak jauh seperti ini" Anisa terus menangis.
"Maafkan aku kak" Anisa terus merasa bersalah kepada kakaknya selama ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara keadaan di luar sangat kacau tante cindy sudah bermandikan darah musuh-musuhnya untungnya ia mengenakan baju anti peluru dan dengan gesit mengelak tembakan yang mengarah ke kepala dan kakinya.
Meskipun saat ini ia kehabisan peluru dan tak sempat kembali mengisinya tante Cindy melawan mereka semua dengan tangan kosong dan mengambil alih senjata musuh-musuhnya.