
"Kamu sudah melihatnya bukan"
Pak irfan memecah keheningan di tengah Melisa sedang menyaksikan vidio dimana terlihat jelas bahwa Tante Cindy di tembak mati oleh ibu tirinya Rina.
Melisa berdiri hendak keluar dari rumah Pak Irfan kemudian dia berlari sekencang mungkin.
Melisa..Melisa.. Pak Irfan memanggil-manggil Melisa. Namun sayang Melisa tak mendengarkan panggilan Pak Irfan. Lantas Pak Irfan ikut berlari menyusul Melisa, hingga pada akhirnya Melisa berhasil di susul.
Pak Irfan menarik tangan Melisa dari belakang. "Melisa tunggu, kamu mau apa?"
"Lepasin aku Om, aku mau membalaskan kematian Tante ku. Aku mau mem*unuh para ba*ingan itu Om". Melisa terus meronta sambil berteriak.
"Kamu lupa bahwa kamu sudah meninggal di mata mereka?" tanya Pak.Irfan.
"Aarrrrgghhhh.... Hiks... Hiks... Melisa luruh ke bawah dengan berteriak seakan melampiaskan kemarahan nya. Pak Irfan membiarkan Melisa mengeluarkan semua yang di rasakan nya. Berharap setelah ini Melisa akan merasa lebih baik.
Para penjaga dan pembantu yang melihat kejadian itu pun merasa aneh dengan majikan nya. Karena tidak biasanya majikan nya itu pulang kerumah ini apalagi membawa anak gadis yang seharusnya itu adalah seusia anaknya. Di tambah lagi dengan melihat Melisa yang menangis pilu sambil berteriak seperti itu sunggu membingungkan sekali.
"Melisa, apa sebenarnya yang sudah kamu dan Dewi alami. Apa yang terjadi sampai Cindy mati-mati an melindungi kamu, dan semua senjata itu. Apa kamu juga mengetahui nya". Batin Pak Irfan yang merasa sangat kasihan melihat Melisa menangis seperti ini.
"Aku gak berdaya tanpa tante, aku bodoh tanpa tante, selama ini aku hidup dalam lindungan tante. Sekarang aku bahkan tidak bisa menuntut balas kematian tante. Hiks... hik..". Melisa bergumam sendiri.
Melisa mendongak melihat ke arah Pak Irfan. "aku tidak bisa memaafkan mereka Om, Hati ku sudah mati rasa sejak mereka membunuh Mama, Kakek, Nenek bahkan Anisa dan Tante Cindy. Apa aku bisa hidup bahagia Om, katakan bagaimana aku hidup bahagia di dunia ini tanpa tujuan hidup, tanpa kasih sayang, tanpa sandaran?"
"Sudah saya bilang, Cindy melakukan itu bukan tanpa sebab. Dia menitipkan kamu kepada saya. Maka sekarang kamu akan menjadi anak saya, dan saya akan menjadi sandaran hidup kamu yang baru, saya akan menyayangi kamu, dan membantu kamu mencapai tujuan kamu. "Tegas Pak Irfan".
"Tujuan hidup saya adalah membalas kematian orang-orang yang sayangi Om. Apa om bisa membantu saya?". Melisa masi tidak mau berdamai dengan hatinya.
Pak Irfan sebenarnya tidak ingin Melisa terus larut dalam dendam di hatinya. Sebab dendam itu pasti akan terus berlanjut tiada henti seperti saat ini yang menimpa Melisa. Semua ini di sebabkan karena Dendam terdahulu dari Kakeknya dan akhirnya Melisa lah yang harus menanggung semua ini sendiri.
Namun untuk menenangkan hati Melisa saat ini Pak Irfan berkata "Saya akan membantu kamu, tapi untuk saat ini kamu harus menyusun rencana dan membuka identitas baru agar kamu bisa muncul kepublik". Saran Pak Irfan.
Pak Irfan lalu menuntun Melisa ke dalam rumah nya dan meminta kepada PRT untuk membersihkan kamar utama dua di rumah ini.
"Saya harap kamu mau menerima tawaran saya tadi. Kamu mau menjadi anak angkat saya?". Tanya pak Irfan.
Melisa masi diam tidak menjawab sebab dia sebenarnya masi bimbang.
"Tidak apa kamu pikirkan saja lebih dulu. Kamu istirahat dulu, saya ada urusan lain". Pak Irfan mengisyaratkan PRT untuk menuntun Melisa ke kamarnya.