
Melisa diantar ke kamar utama dua di lantai atas. Rumah klasik nan mewah ini terdiri dari dua lantai, seperti rumah mewah pada umumnya lantai pertama dirumah ini berisi tiga kamar tamu, ruang tamu, ruang keluarga, tempat ibadah, dapur dan lainya. Sementara di lantai dua hanya ada tiga ruangan yaitu kamar utama satu, kamar utama dua dan tempat kerja Pak Irfan.
"Silahkan Non, nanti kalau ada perlu panggil bibi aja ya. Untuk makan malam sudah ada di meja makan Non. Bibi permisi ya." Bi Iyem berkata dengan lembut dan santun.
Bi Iyem ini merupakan pembantu senior di rumah ini. Karena Pak Irfan menetap di Ibu Kota Negara ini, Rumah ini hanyalah tempat singgah sementara kala ia sedang berada di kota Bg. Tidak banyak pembantu di rumah ini, hanya ada tiga orang yakni Bi Iyem sebagai pembantu senior, Bi Ijem dan Mang Ujang sebagai tukang kebun. Selebihnya adalah para pengawal yang mengikuti Pak Irfan kemanapun beliau pergi.
"Baik bi, terimakasih banyak". Jawab Melisa.
Lantas ia segera menuju ke arah jendela ingin menghirup udara malam yang segar di kota Bg ini. "Hhmmmmmmmmm... Hhaaaaaaahhhh..."Dia menarik nafas dalam-dalam saat membuka jendela "sejuk banget ya udaranya, beda sama di Jakarta".
Sesaat dia termenung, memikirkan langkah apa yang harus diambilnya. Perkataan Pak Irfan terlintas di benak nya, "Kamu mau jadi anak angkat saya?". Senyuman miris tersirat di bibir mungilnya "hidup ku lucu sekali ahahahaha... Melisa tertawa namun dari matanya meneteskan air mata, padahal aku memiliki Ayah kandung, tapi aku di angkat anak oleh orang lain" tawa yang di iringi tangis itu akhirnya berubah menjadi tangisan seutuhnya.
Entah sudah berapa banyak air matanya yang tumpah selama ini. Melisa sendiri merasa hidupnya sangat malang, namun seperti kata pepatah di mana ada kesulitan pasti ada kemudahan. Hidup melisa memang sulit karena ulah Ayah kandungnya sendiri, namun di lain sisi ada tante Cindy yang melindungi dan menjadi sandaran nya saat itu. Dan seperti sekarang ini pun kemudahan itu tetap ada. Pak Irfan ada untuk membantunya di tengah ke putus asaan.
Merasa sudah cukup menenangkan pikiran di dekat jendela, Melisa kembali masuk karena merasakan udara yang semakin malam terasa semakin dingin.
Melisa melihat ke arah jam dinding menunjukan pukul 20.30 menit. Dia lalu membersihkan diri, dan bergegas ke musola kecil yang ada di rumah ini untuk melaksanakan Solat Isya'.
"Ya Allah, aku tidak tahu bagaimana caraku memohon ampunan kepadamu. Ditanganku banyak sekali nyawa yang melayang karena peristiwa di rumah Tante Cindy. Di hatiku banyak sekali amarah dan dendam yang tertanam. Jika boleh memilih aku ingin hidup normal seperti yang lain nya, tenang tanpa dendam. Tapi apakah aku bisa membiarkan mereka hidup tenang setelah apa yang mereka lakukan padaku.
Hari ini manusia yang hina dan penuh dosa ini menghadap kepadamu. Meminta ampunan mu untuk Tante Cindy. Ya Allah, ampunilah Dosa-dosa Tante Cindy selama hidupnya. Ampunilah Anissa dan Mama. Berikanlah tempat terbaik untuk mereka di sisimu Ya Allah". Dengan segenap hati Melisa memohon kepada sang Maha Pencipta, menangis dan menyesali semua kesalahan nya.
Memang selalu seperti itu, Melisa memegang teguh pendirian nya sebagai seorang muslim, namun di satu sisi ada banyak sekali hal-hal di luar nalar yang dia lakukan demi dendam masa lalunya. Antara hati dan logikanya yang selalu bertentangan.
Akhirnya setiap melakukan kesalahan pasti akan selalu memohon ampunan.