
Diruang tengah Jojo dan sekertarisnya Reyhan yang bernama Max langsung berlari ke atas ketika mendengar teriakan nya Rey.
Baru sampai di depan pintu kamar, mereka melihat Rey keluar dengan tampang yang susah di artikan. Mereka yang melihat Rey hendak keluar segera menepi, memberi jalan dan Tanpa melihat kearah mereka. Rey berjalan terus dengan foto Melisa yang terus di genggaman tangan nya.
Namun saat sampai di tangga sebelum menuruni nya ia berkata
"Max hancurkan keluarga Wijaya, saya ingin kamu mengamankan semua harta Lisa dari iblis berkedok ayah sepertinya" setelah itu diapun berlalu pergi.
Lantas bagaimana Rey bisa tahu kalau Wijaya merebut semua harta Melisa. Jawabanya adalah dari komputer itu. Beberapa Saat yang lalu ia mengirim semua data yang ada di komputer Melisa ke Email pribadinya untuk menyelidiki ini lebih lanjut.
Namun untuk garis besarnya ia dapat menyimpulkan Wijaya lah yang membuat Gadis yang sangat dicintai nya itu menderita.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu ditempat lain yang jaraknya jauh dari tempat kejadian berdarah itu Tante Cindy telah sampai di rumah sakit milik sahabatnya.
Meski tak sebesar Rumah sakit yang berlogo AV di Ibu Kota namun Rumah sakit ini cukup lengkap fasilitasnya di banding Rumah sakit yang lain, walaupun tak se lengkap Rumah Sakit Utama di Ibu Kota ini.
Melisa lekas di tangani secara khusus oleh sahabatnya Tante Cindy di ruang tindakan. Sementara itu Tante Cindy memandikan Jenazah Anisa di bantu para perawat penanganan Jenazah. Setelah semuanya sudah siap tante Cindy menyusun rencana pengumuman kematian Anisa dan Melisa.
Dia menelpon Iron yang masih ada di TKP tengah membereskan semua kekacauan ini.
Tuuuuuuuuuttttt.... Suara telepon tersambung dan terdengar suara sambutan dari sebrang sana.
"Hello Nyonya" Iron menyapa tante Cindy.
"Ya, Hello Iron, tolong besok pagi segera siapkan pemakaman di TPU dekat kompleks Rumah Wijaya, tepatnya di samping Makam Dewi". Suara tante Cindy menjelaskan.
Tante Cindy menjawabnya "Ya, sebab itu besok siapkan 2 pemakaman untuk anak-anak saya" Suaranya terdengar parau dari sebrang sana.
"Baik nyonya" tanpa bantahan apa pun Iron dengam sigap meng ya kan perintah tante Cindy.
"Terimakasih Iron, selain itu kamu tau apa yang harus kamu lakukan kan. Buat pengumuman dimana kasus meninggalnya Melisa dan Anisa itu disebabkan oleh Wijaya ke media." perintah tante Cindy lagi kepada Iron.
"Siap Nyonya, saya tau apa yang harus saya lakukan." jawab Iron.
Tut..... Suara telpon terputus.
Setelah menelpon tante Cindy mempersiapkan Jenazah palsu Melisa, untuk besok.
"Maafkan tante Melisa, tante harus melakukan ini agar hidup kamu kemudian hari lebih tenang. Tanpa ada yang mengenali kamu sebagai Melisa Wijaya, Tante melakukan ini untuk kebaikan kamu sayang".
"Dewi Maafkan aku, Hari ini pasti Anisa sudah bersama kamu di atas sana, hanya Melisa yang bisa aku selamatkan Dew. Semoga kamu tidak marah kepada ku ya".
Tante Cindy bermonolog dalam hati kecilnya.
Setelah semua persiapan untuk besok sudah siap, tante Cindy kembali keruangan tindakan Instalasi Gawat Darurat. Untuk menunggui Melisa yang sedang kritis.
Tante Cindy bertekad setelah ini Melisa harus hidup lebih baik lagi. Maka dari itu ia merencanakan ini semua, karena ia yakin pasti setelah ini akan ada trauma lama yang muncul dalam ingatan Melisa karena Melisa harus kehilangan orang yang di sayanginya lagi, lagi, dan lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...