She's Melisa

She's Melisa
Putus asa



Diruang rawat inap Rumah sakit.


Melisa yang sedang istirahat karena di suntik obat penenang, saat ini ia tengah sadar dan Dokter Arga berada tepat disisi nya. Tak mau berbasa basi Melisa langsung menanyakan kebenaran yang ia dengar tadi sore.


"Dokter apa benar adik ku sudah meninggal" tanya Melisa.


"Ya Annisa sudah meninggal, dan kamu juga sama". (Dokter Arga)


"Maksud Dokter apa?" Melisa bingung.


"Di hadapan semua orang kamu sudah meninggal dunia.. Cindy memalsukan kematian mu demi melindungi kamu, semua identitas mu sudah tidak bisa di gunakan." jelas dokter.


"Itu artinya saya harus menggunakan Identitas baru untuk menjalankan hidup". Melisa merasa tak yakin.


" Seharusnya kamu lebih tahu apa yang di maksud Cindy. Anisa di makamkan di dekat orang tua mu. Begitupun juga makam palsu mu. Saya permisi masi banyak pasien, ini barang - barang mu dan Anisa" dokter arga berlalu setelah menjelaskan apa yang dia tahu pada Melisa.


Melisa termangu dia masi mencerna apa yang di katakan dokter. Bukan dia tidak paham tapi dia hanya ingin memastikan.


Saat tengah terdiam suara ponsel nya dari dalam paper bag berbunyi. Ada panggilan masuk yang tidak di kenal.


"Siapa?" Melisa mengangkatnya


"Ini Melisa Dew Wijayai? Anak dari Dewi Dan keponakan kesayangan Cindy". Suara di sebrang menanyakan tentang Melisa.


"Saya ingin berbicara, ini soal Cindy dan kamu". Pak irfan masi berbicara.


Ya, yang menelpon Melisa kali ini adalah Pak Irfan. Entah dari mana pak Irfan mendapatkan kontaknya Melisa.


"Nanti saya jelaskan, ini urgent coba kamu lihat berita kabar, da....Tut... Tut... Tut...


Telpon terputus.


"Halo... Halo... Aaahhh pake lowbet lagi." Melisa membanting Hp nya ke kasur.


Berita kabar... Ada apa dia nyuruh aku nonton Tv atau liat berita. Melisa pun segera mencari sesuatu.


"Aduhhh ini remot Tv kemana si." Melisa masih mencari nya.


"Nah ketemu" bak mendapat lotre melisa bersorak kegirangan. Kemudian Melisa bergegas menyalakan Tv dan....


"Tante Cindy" Melisa terpana melihat berita di Tv. Tanpa di minta oleh sang empunya, air mata keluar dari pelupuk mata nya.


"Aarrrrrgggghhhhhhhh" Melisa berteriak Histeris. Untuk apa aku hidup ya Tuhan. Jika engkau mengambil semua orang yang aku sayangi. Mama, Anisa dan sekarang Tante Cindy. Hiks... Hiks.... Kenapa takdir hidupku seperti ini. Aku capek ya Tuhan, engkau ambil saja nyawaku. Tak ada guna nya aku hidup di dunia tanpa mereka ya Tuhan. Melisa benar - benar merasa putus asa.


Melisa terus berteriak hingga mendatangkan ke dua suster jaga di luar. Selama ini aku hidup dalam bayang - bayang Dendam kisah masa lalu yang sangat menyiksa ku. Aku di siksa oleh Papa kandungku sendiri. Aku tidak pernah mendapat kasih sayang Mama dan Papa. Hanya tante Cindy yang selalu ada untuk ku. Kenapa engkau ambil juga sandaran hidup ku yang terakhir Tuhan...


Kedua suster yang mendengar dan melihat Melisa di ruangan itu merasa Iba pada nya. Namun jika terus di biarkan itu akan ber akibat fatal pada kondisinya. Akan memperngaruhi pemuliham pasca operasi pengambilan peluru. Jadi dengan sangat terpaksa suster itu menyuntikan obat penenag lagi ke dalam selang infus Melisa.


Tenaga Melisa berangsur - angsur melemah, dan akhirnya dia kembali pingsan.


Hidup itu Bagaikan permainan wayang yang sudah di atur konflik dan alur ceritanya. Seperti apa pun kita menginginkan sesuatau jika sang pencipta memutuskan itu bukan untuk kita maka semua akan hilang dari sisi kita.