She's Melisa

She's Melisa
Acara Pemakaman 2



"Baru kali ini aku melihat ka Rey menangis, bahkan saat Papi Meninggalpun kak Rey hanya diam seakan hatinya keras seperti batu. Tak ada air mata yang keluar setetes pun." Reyna bermonolog di dalam hati.


Lalu Reyna mendekati Reyhan sambil menepuk bahu kanan nya kemudian berjongkok mensejajarkan posisinya dengan sang kakak.


"Kak, relakan Melisa. Tentunya kakak tahu ini adalah takdir dari yang Maha Kuasa, Doa kan Melisa bahagia di sana". Kata Reyna menyemangati Reyhan.


"Tapi ini semua karena kebodohan ku, karena anak buahku lah dia meninggalkan aku untuk selamanya bahkan sebelum kita bertemu kembali". Ratap Reyhan sambil terus mengelus Nisan Melisa.


Tante Cindy hanya diam terpaku melihat adegan ini. Sambil memperhatikan namun pikiran nya seakan berkelana tidak ada di tempat ini.


"Apa dia ini si Rey, anak kecil gembul yang berkacamata dan Imut teman masa kecil Lisa dulu???" tante Cindy masi terpaku.


"Kalau benar ya, ternyata dia sudah dewasa dan sangat jauh berbeda ketika usianya masih anak-anak dulu, He..he..." Tante Cindy masi bergumam sendiri dan nyaris tertawa kala mengingat Rey waktu kecil dulu.


"Maafkan tante yang memalsukan kematian Melisa, Ya Tuhan rasanya aku merasa bersalah setelah melihat Rey yang masih sangat perduli dengan Lisa. Mungkin sekarang bisa jadi dia mencintai anak ku Lisa karena mereka sudah dewasa." Tante Cindy Masi dalam mode diam dan terus bermonolog di dalam hati sendiri.


Nyonya... Panggilan Iron membuyarkan lamunan tante Cindy.


"Oh ya" kata tante Cindy tersadar.


"Rey" sapa nya pada Reyhan.


Lalu Reyhan berpaling dan melihat ke arah suara yang memanggil Namanya, Namun dia terdiam seakan mengingat siapa orang yang menyapa nya barusan.


"Ini tante Cindy" katanya menunjuk diri sendiri,


mungkin tante Cindy mengetahui diamnya Reyhan karena lupa akan dirinya.


Reyhan hanya diam, dan dia kembali memfokuskan diri ke makam Lisa.


Kemudian tante Cindy melangkah ke makam Anisa. ANISA DEWI WIJAYA tertulis nama lengkap di Nisan itu.


"Maafkan tente yang tidak bisa menjaga kamu, maafkan tante kalau kamu merasa tante lebih menyayangi kakak mu, maafkan tante sayang".


"Dewi Maafkan aku, aku sudah sebisa mungkin menyelamatkan anak mu. Semoga kamu tidak marah kepadaku dew." Tante Cindy masi menangis meski tidak mengeluarkan suara.


Tak lama Rey berpamitan untuk pulang kepada Iron dan menghampiri tante Cindy sebelum ia beranjak.


"Tante apa kabar". kata Rey menyapa.


Di luar dugaan tadinya Rey mendiamkan Tante Cindy tapi sekarang dia mendekatinya.


"Kabar tante baik". jawab tante Cindy.


"Tante ada waktu, aku ingin bicara banyak hal dengan tante". Sambung Rayhan.


"Tidak untuk saat ini Rey, tante masi berduka kehilangan Anak-anak tante" Tante Cindy menjawab.


"Jika ada yang serius, kamu bisa menghubungi Iron, dia orang kepercayaan tante". Sambungnya lagi.


"Baik tante, kalau begitu aku permisi. Semoga tante tabah, dan sehat selalu"


Assalamualaikum. pamit Reyhan dan keluarganya.


Mereka melangkah menuju mobil, Namun langkah mereka terhenti saat beberapa wartawan menanyakan kedatangan nya kesini.


"Tuan, apa hubungan anda dengan keponakan dari Tante Cindy yang sudah tiada itu?" Tanya wartawan A.


"Dia adalah orang yang aku Cintai dari dulu, sampai saat ini." Reyhan yang biasanya menghindari wartawan kini menjawabnya. Lalu setelah itu berlalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...