She's Melisa

She's Melisa
Bertemu



Melisa mengambil buku yang jatuh itu. Dilihat dari bentuk sampul nya seperti buku catatan berwaran lilac dan terjepit ke bagian belakang. Saat Melisa membuka lembaran pertama tertera tulisan Diary, Melisa teresnyum tulus sambil meraba buku itu dan dia lekas memasukan buku itu ke dalam koper pula. Untuk saat ini tidak tepat rasanya membaca isi buku itu, karena ada Ayahnya Irfan yang menunggu di luar apartemen.


Tak berapa lama, Melisa sudah selesai mengosongkan apartemen itu. Nantinya ia bermaksud menyewakan atau bahkan menjual apartemen ini. Melisa bergegas keluar dia berjalan menuju lift untuk turun ke lobby, beberapa detik menunggu pintu lift terbuka. Saat Melisa hendak melangkah masuk kakinya tidak sengaja tersandung satu kakinya yang lain, alhasil di kelihangan keseimbangan dan jatuh menubruk seseorang yang berada di depan nya.


Bruk...


Melisa condong kedepan namun dia menimpa sesuatu yang bidang dan kekar bahkan tanpa sengaja Melisa menghirup wangi parfum yang maskulin dan memikat. sesaat mereka sama-sama terdiam. Rey menatap mata yang tak asing baginya, begitu pula Melisa yang terpana akan ketampanan sosok di depanya.


Saat ini Melisa sedang berpenampilan sebagai Lili, jelas saja Rey tidak mengenalinya. Apalagi Melisa yang memang tidak pernah bertemu dengan Rey, beberapa menit cukup lama beradu pandang hingga Melisa merasa sesuatu memasuki matanya kemudian diapun mengedip-ngedipkan matanya. Dan akhirnya.


Bruk...


Dia jatuh duduk dengan bokong yang mendarat sempurna di lantai.


"Aduuuhhh... Ini orang woy bukan karung beras, main lempar-lempar gitu aja. Sakit tau" Melisa menggrutu di bawah.


"Jangan lancang, menebar pesona" suara dingin dari seorang pria mengagetkan Melisa.


"Melisa mendongak, loe itu udah dorong gue sampe jatuh. Bukanya minta maaf atau nolongin kek malah cuek bebek aja". Melisa menunjuk orang di depan nya. Namun tidak ada respon sama sekali dari orang itu.


"Jaga sikap Anda Nona" suara pria yang sama dengan yang barusan dia dengar itu ternyata berasal dari samping nya. Melisa baru sadar ada orang lain disini.


Melisa menoleh menatap tajam kearah nya. Sontak orang yang di tatap itu pun tertegun sejenak dengan tatapan Melisa. Melisa menuju kearah orang tersebut, melangkah demi selangkah dan dia menginjak kaki orang tersebut.


"Aduh" orang tersebut mengaduh.


"Uh, rasain loe." Melisa lalu bergegas keluar sebab pintu lift telah terbuka.


"Max berhenti, jangan buang waktu hanya untuk mengurusi hal yang tidak penting". Suara dingin dan tegas itu berasal dari orang yang di tabrak Melisa tadi.


Max yang di peringatkan oleh Tuan nya itu terpaksa diam di tempat dan segera mempersilahkan Tuan nya Rey untuk menuju ke arah mobil yang sudah di siapkan.


Melisa yang kesal karena kejadian tadi sepanjang jalan menggerutu tak karuan sebab dia benar-benar merasakan sakit di bokongnya.


"Kamu kenapa kok kaya kesel gitu, sepanjang jalan ngomel-ngomel sendiri." Irfan yang memperhatikan Melisa dari sejak keluar sampai masuk kemobil pun merasa heran sebab Melisa berbicara sendiri seperti orang gila.


"Aku tuh kesel yah, tadi aku habis jatuh bokong ku nyium lantai. Sakit banget tau". Melisa mengadu pada Ayah barunya.


"Coba mana sini Ayah lihat". Canda Irfan.


"Hey, jangan sembarangan ya". Dengan cepat Melisa menghindar.


"Kamu itu bener-bener ya mewarisi kekonyolan Cindy hampir 90%". Irfan lagi-lagi teringat pujaan hatinya.


"Ayah, aku hidup bersama tante kurang lebih selama 17tahun. Dia sudah aku anggap sperti Mama oh bukan hanya itu, aku menganggapnya satu-satunya sahabat kami sangat akrab seperti teman. Tapi ada pengecualian, aku bersikap konyol hanya pada orang-orang yang aku anggap penting".


"Jadi Ayah sudah menjadi orang penting dalam hidupmu". Tanya Irfan.


Melisa hanya menjawab dengan "Hmmmm" sambil menganggukkan kepalanya.


Irfan tersenyum dan berucap "terimakasih".


Akhirnya mobil mereka melaju ke arah tujuan utama kota J (Jakarta). Dan disinilah Melisa nanti akan memulai segudang rencana nya untuk menghancurkan keluarga Wijaya.