She's Melisa

She's Melisa
Tertembak 2



Anisaaa.....


Teriak Melisa tatkala mendengar tembakan yang tertuju padanya, namun ternyata Anisa keluar dari persembunyian nya dan menghalangi peluru itu dengan badanya. karena postur badanya yang lebih pendek dari Melisa maka peluru itu tepat bersarang di jantungnya.


Tak ada kata lagi yang terucap dari Anisa selain kata "Nisa sayang kakak" dan Matanya seketika juga tertutup rapat untuk selamanya. Di saat yang bersamaan terdengar pula bunyi tembakan 3 kali di seluruh sudut rumah tante Cindy, secara beruntun dengan jeda waktu berbeda. Melisa tidak tahu apa maksud dari tembakan itu.


"Mungkinkah tante Cindy dan semua penjaga nya telah mati oleh mereka" Monolognya di dalam hati.


Melisa tidak pernah menyangka akan kehilangan orang-orang tersayangnya untuk kesekian kalinya.


"Tidak cukupkah Engkau mengambil Mama, Kakek, dan Nenek dari hidupku Tuhan" Pertanyaan itu keluar dari bibirnya yang bergetar menahan isak tangis.


"Hiks hiks... Belum ada satu hari aku bisa meyakinkan adik ku dari iblis berkedok Ayah itu dan sekarang Engkau mengambil adik ku selamanya" Melisa berteriak sambil memeluk jasad adiknya yang sudah tak bernyawa.


Melisa merasakan ada seseorang yang mendekat kearahnya. Namun dia tidak memperdulikan siapa itu bahkan dia sudah tak perduli lagi jika itu adalah musuh dan akan menembakkan peluru kepadanya dia pasrah. Sebab dia berpikir mati adalah yang terbaik untuknya saat ini.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan" Suara itu begitu Familiar.


Melisa mendongakan kepalanya ke atas ternyata Wijaya Papanya lah yang berkata demikian dan saat ini sedang menodongkan Pistol tepat di kepala Melisa.


Melisa menyeringai, sambil terus melihat ke arah adiknya dan berkata "Bunuh saja aku wijaya".


"Tentu aku akan membunuhmu setelah kamu memberikan surat-surat berharga itu dan tanda tangani ini segera". Wijaya melempar selembar dokumen kepadanya.


Tak mau berpikir panjang Melisa menandatangani surat itu yang ternyata sudah ada tanda tangan Anisa di sana.


"Aku dan Anisa adalah anakmu Wijaya, tanpa belas kasih kamu membunuh anakmu sendiri hanya demi harta. Bahkan Anjing sekalipun akan menjaga anak-anaknya dari bahaya, sementara kamu." Kali ini Melisa menatap kearah mata Wijaya. Dia ingin melihat adakah kasih sayang yang terpancar dari sorot matanya itu.


"Omong kosong, aku tidak pernah menganggap kalian Anak karena aku tidak pernah mencintai Ibumu" Jawabnya dengan memalingkan wajah dari Melisa.


Melisa tersenyum tipis dan berkata "Ambil, ambilah semua yang kau inginkan Wijaya aku tidak membutuhkan itu. Yang aku inginkan sekarang adalah Kau bunuh aku, bunuh aku Wijaya" Dia bangun sambil terus menggoyang goyangkan tubuh Papanya itu.


Wijaya hanya memalingkan wajahnya "Katakan saja kamu menyimpan itu dimana" .


"Di dalam lantai, dibawah kasur ku yang ada di Pavilliun, sekarang tembak aku dengan senjata mu itu Papa" Kata Melisa sambil terus menatap kearah mata Wijaya.


Wijaya tertegun mendengar Melisa memanggilnya Papa. Namun tiba-tiba Dorrrrrrr... Melisa ambruk ke arah depan dan refleks Wijaya menangkapnya.


"Upsss Maaf ga sengaja" Kata seseorang yang menembak Melisa dari belakang.


"Kenapa kamu menembaknya Mah" ternyata yang menembak Melisa adalah Ibu tirinya Istri dari Papanya saat ini.


"Aku hanya mengabulkan permintaannya saja Pah" katanya tanpa rasa bersalah.


Sudah cepat pah kita pergi dari sini dan segera cari surat berharga itu.


Wijaya dan Istrinya pun pergi meninggalkan jasad Anisa dan Melisa yang masih mendengar samar-samar percakapan Papah dan Mamah tirinya. Melisa tersenyum namun dari matanya keluar air mata dan tiba-tiba ia merasa pusing secara perlahan menutup matanya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...