
Assalamualaikum...
Mohon maaf sebelumnya cerita ini lama sekali up nya karena aku kehilangan akses masuk ke akun novel ku😢 tapi
Alhamdulillah setelah sekian lama akhirnya bisa masuk juga. Meskipun harus muter-muter inget sandi dan kode akses nya.
kini akhirnya aku bisa Lanjut cerita ini lagi... Happy Reading ya semuanya....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara pemakaman pun sudah selesai, sore hari saat suasana makam sudah sepi. Wijaya datang kesana untuk menemui kedua anak nya di tempat peristirahatan terakhir.
Dia terus berjalan sampai pada akhirnya tiba di ke dua makam itu. Dia menaburkan bunga bahkan mengirimkan Do'a dan meminta maaf kepada Melisa dan Anisa.
"Papa tidak bermaksud untuk bertindak seperti ini, Jauh di lubuk hati Papa juga ada rasa sayang untuk kalian ber dua. Papa hanya ingin menyelesaikan dendam lama dan merebut Hak Milik keluarga Papa dari Mama kalian, Papa bermaksud mengakhiri semuanya ketika Mama dan Kakek kalian meninggal. Tapi mereka terlalu licik hingga perjuangan Papa Sia-sia dan berakhir pada kalian". Wijaya mengatakan itu di depan makam anaknya, setelah itu dia pun berlalu pergi.
Di Rumah Sakit
Beberapa hari setelah acara pemakaman Anissa dan Melissa (yang di palsukan tante cindy).
Tante Cindy yang tetap setia menunggu kemajuan kesehatan Melissa yang masi belum sadarkan diri.
Saat ini ia sekarang berada di dalam ruangan yang serba putih itu lengkap dengan baju khusus tengah memandangi sosok gadis yang masi terbaring dengan alat-alat pendeteksi jantung dan lain nya.
"Padahal kamu hanya tertembak sedikit, tapi kenapa kamu masi belum sadarkan diri pasca operasi kecil pengambilan peluru itu Hmmm". Tante Cindy membuka pembicaraan.
"Kamu marah sama tante, karena tante tidak bisa menyelamatkan adik kamu".
Lanjut tante Cindy.
"Tante minta maaf sayang" Air matanya tak dapat terbendung lagi.
Hanya terdengar isak tangis tante Cindy di depan tubuh yang terbaring lemah itu, tak ada tanggapan apa pun dari lawan bicara nya, cukup lama ia menangis disana, Hingga terdengar bunyi ketukan dari luar ruangan yang menandakan bahwa jam besuk pasien sudah selesai.
Tante Cindy keluar, meletak kan kembali pakaian - pakaian khusus dan mengambil barang - barang nya yang di simpan di tempat yang sudah di sediakan di sana.
Tante Cindy keluar, ia ingin menenangkan diri dengan meminum segelas kopi di kantin Rumah Sakit ini. Setelah memesan apa yang di inginkan nya ia mencari tempat duduk yang berada di pojok kantin sambil memerhatikan lalu lalang orang yang sedang memesan makanan sambil mengecek ponsel nya yang ia setting dalam mode getar saat memasuki ruangan Melisa tadi, dan ia terkejut banyak sekali panggilan tak terjawab dari Iron. Lekas ia menelpon nya kembali.
Tuuuuuuuuuuuuutttt..... Tuuuuuuuuuttttt.... nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, itulah yang terdengar dari jawaban telepon Iron.
"Aneh banget iron" batinnya dalam hati.
Tante Cindy pun mencoba berkali - kali menghubungi iron.
1 kali, 2 kali bahkan yang ke 3 kalipun tak kunjung aktif. Merasa ada yang tidak berea karena nomer telepon iron tak aktif, akhirnya ia memutuskan untuk mengecek Chat yang di kirim Iron.
Ada 2 notif pesan suara di sana. Dan tante Cindy terkejut mendengar semua isi pembicaraan Iron yang dikirim ke Ponsel nya.
"Ny....nyo.... nya, sa....ya sudah berkali-kali meng....hubungi an...da" pesan suara pertama terputus. Yang membuat tante cindy kaget adalah suara Iron yang seperti ter senggal - senggal seakan ia telah berlari ratusan kilometer.
"Kediaman di serang lagi, aaaaaaaaahh" Dor... dor... dor terdengar bunyi tembakan tiga kali dan setelah itu entah apa yang terjadi dengan Iron di sana.
Tante Cindy terdiam, tangan nya mengepal kuat bahkan kuku - kuku tajamnya menancap di kulit tangan nya sendiri, dia berpikir kenapa Wijaya masi terus menyerangnya padahal semua aset sudah ia dapatkan.
Kemudian tante Cindy menghubungi teman nya yang merupakan seorang dokter di Rumah sakit ini untuk terus menjaga dan memantau keadaan Melisa.
"Halo" kata sang dokter...
Telepon tersambung dan
"Ya Halo,,, Tolong jaga dan pantau terus Melisa. Aku ada urusan penting". Tut... Tanpa aba-aba dan tanpa menunggu jawaban dari yang menerima telepon Tante Cindy langsung mematikan telepon nya secara sepihak.