
POV IRFAN
"Kamu menyayangi anak nya Dewi seperti anak mu sendiri, maafkan aku yang dulu mengabaikan mu. Mungkin kalau rasa cinta ini timbul saat kamu menyatakan dulu, kita sudah menikah dan memiliki anak seperti Dewi. Maafkan aku yang terlambat menyadari rasa ini kala kita semakin jauh dulu. Saat aku memiliki rasa ini kamu pergi dari dunia ini meninggalkan aku". monolog Irfan.
Ya, Yang memasuki rumah Cindy saat kacau balau tak lain adalah Irfan sahabat Cindy dan Dewi. Irfan terlambat menyusul Cindy kerumah ini, selain itu rumah ini di jaga sangat ketat hingga tidak ada celah untuk nya masuk. Hingga suara tembakkan terdengar dan para penjaga ke dalam barulah ia memasuki rumah ini, namun yang dia saksikan sangat menyakiti hati nya. Cindy meninggal di tangan perempaun yang ber nama Rina.
"Maafkan aku yang tidak sempat mengambil jenazah mu Cindy. Sekarang aku harus bagaimana apa aku harus mengambil senjata - senjata ini". Lama irfan berpikir di sana sambil menunggu api di luar padam.
"aku sangat menyayangi Lisa Fan, hanya aku yang di milikinya saat ini. Tolong lah aku, alihkan semua aset yang aku punya atas nama Melisa" aku menarik nafas panjang kala amanat terakhir Cindy terdengar. Ternyata ini merupakan firasat buruk yang akan menghampiri nya.
Kamu tenang saja Cindy, aku akan menjalankan amanat terakhirmu, Melisa aman di bawah pengasawan ku. Tapi aku tidak punya petunjuk mengenai Melisa, terakhir ketemu saat di amerika dan itu waktu dia masi kecil. Aku juga tidak tahu dimana dia sekarang berada. Sekarang yang harus aku lakukan adalah mengaman kan semua barang ini, aku tahu barang ini berharga bagi Cindy karena ini seperti senjata - senjata rahasia yang sengaja di miliki untuk kepentingan tertentu. Aku yakin kamu tidak akan pernah melukai orang tanpa sebab dengan senjata ini.
Semua sudah selesai aku mencari jalan keluar , karena tidak mungkin keluar melalui pintu tadi. aku meraba - raba apakah ada pintu lain. "akhirnya ketemu juga" aku membuka nya dan pintu itu mengarah ke anak tangga yang menanjak.
Aku melangkah kan kaki menaiki anak tangga itu satu persatu, lumayan banyak anak tangga hingga berujung ke sebuah pintu besi. gegas aku membuka nya dan ini seperti Rumah aku menyusuri rumah ini dan.memperhatikan ke sekiliking, saat melangkah keluar keadaan disini sangat sepi. Namun di depan sana ada banyak polisi dan rumah Cindy sudah tak berbentuk lagi. Baru sadar ternyata aku ada di Paviliun belakang.
Aku terkesima dengan ruangan rahasia ini, suatu saat nanti akan aku buat hal yang sama untuk menyembunyikan semua barang berharga milik Cindy.
Aku putuskan keluar dari Pavilliun ini dari pintu samping yang ternyata langsung mengarah ke pintu gerbang samping rumah ini.