
Melisa dan Anisa pun masuk ke dalam, ternyata sudah ada tante Cindy yang menunggu mereka di ruang tamu, merekapun duduk bersama. Namun Mereka terdiam sejenak, baik Melisa maupun tante Cindy tidak ada yang berucap sepatah katapun.
Kalau Anisa, dia sudah terlihat canggung dan gugup saat pertama kali masuk kesini.
"Anisa kamu kenapa tegang banget" Tante Cindy membuka suara, namun sepertinya itu membuat Anisa semakin tegang.
Pembawaan tante Cindy itu memang judes, tegas terkesan angkuh dan seperti antagonis, tapi kenyataanya dia itu baik hanya saja wajah dan cara bicaranya yang tidak mendukung.
"Tante bisakah tante turunkan sedikit kadar kejutekan tante itu" Melisa berkata sambil menenangkan Anisa.
"Anisa permisi ke toilet dulu kak" Pamitnya kepada Melisa.
"Tau letak toiletnya dimana" Tanya Melisa dan di balas gelengan kepala oleh Anisa.
"Dino antarkan Anisa ke toilet tamu" pinta Tante Cindy ke salah satu penjaga di depan pintu.
Glek...
Anisa menelan air luirnya sendiri
ia kaget kala melihat perawakan Dino yang tinggi besar dan sangat maskulin. Takut akan di apa-apakan oleh penjaga yang bernama Dino itu.
"OMG, ini orang kok serem banget. Gimana kalau gue di lecehin coba" pikir Anisa.
"Tenang saja dia itu orang kepercayaan tante kok, kamu ga usah takut" ucap tante Cindy.
Anisa pun segera bergegas mengikuti Dino dari belakang menuju ke toilet.
Kemudian Melisa berpindah mendekati Tante Cindy sambil berkata "Tante kayaknya Anisa takut sama tante dan orang-orang di rumah ini."
Lisa sini dengan menyodorkan tangan "Wajar kalau dia takut, karena ini pertama kalinya dia kesini kan. Beda sama kamu yang keluar masuk se enak jidatmu". Tante cindy bergurau sambil memeluk Melisa.
Memang sangat sulit meng akrabkan diri kepada tante Cindy karena dia tipe orang yang susah di dekati, hanya pada Melisa sifatnya melunak. Karena sudah menganggapnya anak.
"Kamu sudah bisa meyakinkan Anisa?" tanya tante pada Melisa.
"Mungkin belum 100 persen, tapi sepertinya Anisa sudah membuka matanya sejak ia tahu aku merubah penampilan karena dirinya." Jelas Melisa.
Tante cindy berencana memberitahukan semuanya pada Anisa saat ini "Semuanya bertahap sayang, tapi tante yakin dia akan percaya kalau kita membuka semua kedok Papa kamu dan Ibu tirinya itu".
Sebenarnya Melisa ragu dan dia pun mengatakan keraguan nya. "Apa harus kita katakan semuanya sekarang, karena terakhir kali aku membuka satu kejahatan papa dia semakin menjauhkan diri padaku"
"Percayakan saja semuanya sama tante" tante cindy meyakinkan.
Kemudian Anisa pun kembali bergabung dengan Melisa dan tantenya setelah selesai dari toilet.
Hanya di balas senyuman dan anggukan oleh Anisa.
Lalu tante cindy pun mengajaknya mengobrol "Sebelum tante menceritakan sesuatu apa ada hal yang ingin kamu tanyakan Nisa?"
"Hemmmmmm...Haahhhhh...
Dengan menarik nafas panjang Anisa bertanya. "Apa tante tahu, kenapa aku dan Melisa sangat berbeda, dari wajah tinggi badan dan semuanya?" Tanya Anisa kepada tante Cindy.
"Hahaha... Tante Cindy tertawa mendengar pertanyaan Anisa.
"Kamu Insecure sama Lisa, Hemmmm? tante Cindy bertanya, dan itu di jawab anggukan kepala oleh Anisa. Sementara Melisa geleng - geleng kepala mendengar pertanyaan Anisa yang menurutnya konyol.
Namun tante cindy kemudian menjelaskan nya.
Kamu dan Lisa adalah adik kandung, jadi hilangkan rasa insecure kamu kepada kakak kamu sendiri. Sebentar ya, tante mau ambil sesuatu.
Tak lama tante cindy datang dengan membawa sebuah buku tapi lebih terlihat seperti album foto.
Kamu sudah pernah melihat Foto Mama, Kakek, dan Nenek kamu Nisa? Tante cindy bertanya sambil menunjukan sebuah album foto kepada Anisa.
Ini Mama, Kakek, Nenek dan ini... arah tangan nya terhenti pada foto anak perempuan berusia sekitar 2 tahun.
"Ini jelas foto kakak lah, lucu kan hehehe...." Melisa menyela.
"Isshhhh... Anisa memasang wajah cemberut dan memutar matanya malas.
"Ya, ini Lisa kamu lihat sekilas kakak kamu mirip dengan Mama kan. Tapi, coba deh kamu perhatikan, hidung dan bibir mama kamu itu dominan mengarah ke kakek. Tapi kakak kamu bernasip baik dia mewarisi hidung Nenek yang notabenya adalah orang Amerika. Namun bibir dan matanya sangat serupa dengan Mama, juga bentuk wajahnya yang agak imut membuat kakak kamu setelah dewasa sedikit lebih cantik dari Mama.
"Ya elah, tante mujinya nanggung amat. kalau mau bilang cantik dan imut ya terus terang aja ga usah pake kata sedikit begitu" Celah Melisa dan langsung mendapat sentilan kecil di telinganya.
"Sstttt... ga usah kepedan kamu, dan diem aja bisakan. atau kamu bantuin bi Tini bersihin kamar buat kalian sana." Geram tante Cindy karena Melisa terus menggodanya.
Dan untuk tinggi badan, Tante cindy berhenti sejenak lalu melanjutkan nya. Dulu waktu tinggal di Amerika, kakak kamu aktif mengikuti olahraga dan seni bela diri, bahkan sampai sekarang pun masi sama, dan ia terus menerapkan pola hidup sehatnya.
Makanya ia memiliki tinggi badan juga lekuk tubuh yang di idam-idamkan semua wanita. Tante Cindy menjelaskan dengan panjang lebar berharap Anisa mengerti dan tidak terus menutup hati kepada Melisa.
Sementara kamu lebih mendominasi gen Papa kamu sama seperti Tina. Karena memang kalian ber tiga adalah Saudara satu Ayah. Terang tante Cindy lagi.
Anisa hanya mangut-mangut saja, sepertinya ia mulai nyaman dengan pembawaan tante Cindy.
"Tapi tante, kenapa hanya kak Meli yang di bawa ke Amerika, tinggal disana bersama keluarga dari pihak Nenek. Sementara aku tinggal di pelosok yang jauh bersama Nenek dari Papa" tanya Anisa yang sepertinya ia masih sangat cemburu dengan Melisa.
Tante Cindy tidak langsung menjawab, ia berinteraksi mata dengan Melisa seakan meminta persetujuannya untuk menceritakan lebih lanjut. Dan Melisa tentu saja mengangguk meski itu akan membuka Luka Lama nya kembali.