She's Melisa

She's Melisa
Pindah kepemilikan



Tante Cindy menuju parkiran Rumah Sakit dan lekas ia mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.


Sepanjang jalan ia berpikir keras apa maunya Wijaya, apakah dia ingin menghancurkan hidupnya juga. Kalau sampai itu terjadi dia ga akan mau tinggal diam, saat ini yang dia miliki hanya Melisa, dan Melisa sudah tidak punya apa-apa lagi. Akhirnya dia memutar arah mobilnya ke arah berlawanan.


Meski tante Cindy tidak pernah menikah dan dia tidak akan bisa mempunyai anak, tapi dia memiliki firasat yang tidak enak terhadap Melisa. Wajar bila ia merasakan itu sebab ia sudah menganggap Melisa seperti anaknya sendiri.


Setelah kurang lebih menempuh jarak selama 30 menit akhirnyan Tante Cindy sampai ke tempat tujuannya, yaitu Kantor Pengacara kepercayaan nya. Lekas dia memasuki kantor tersebut dan menanyakan kepada Receptionist apakah Bapak Irfan Senggang sat ini.


Nasib baik menghampiri Tante Cindy, saat dia sedang bertanya kepada staff di sana secara kebetulan orang yang di maksud hendak keluar dari Kantor.


"Irfan" panggil tante Cindy pada pengacara sekaligus teman nya itu.


"Hy Cin, kenapa ada disini?" tanya Pak Irfan kepada Tante Cindy.


"Aku butuh bantuan mu, maaf sebelumnya aku tidak menelpon dulu, dan maaf sudah mengganggu jadwal mu hari ini" Tante Cindy menjawab pertanyaan Pak Irfan.


"Irfan, ini darurat. Aku mohon kamu bantu aku sekarang juga" Lanjut tante Cindy tanpa memberikan jeda bicara kepada Pak Irfan.


"Baiklah ikut aku, dan kamu tolong rubah jadwal pertemuan hari ini" Kata Irfan sambil menunjuk asisten nya.


Tante Cindy pun mengikuti Pak Irfan ke ruangan nya.


Saat sampai, pak Irfan langsung mempersilahkan tante Cindy untuk duduk.


Sambil menelpon pihak pantry pak irfan berkata " tolong bawakan Coffelatte dan Keripik keripik keruangan saya segera".


Tante Cindy tersenyum, "Masi bagus ya daya ingat mu itu fan" katanya menggoda teman lama nya itu.


Pak irfan tak menanggapi dan langsung duduk di soffa depan dan langsung bertanya "Ada apa Cin, terjadi sesuatu?" tanya nya to the point.


Tante Cindy tahu bahwa Pak Irfan tidak mau berbasa basi. Atau mungkin emang pembawaanya yang tidak mau ber tele-tele.


"Ini menyangkut Melisa" kata tante Cindy.


Pak Irfan tertegun bahkan menautkan alis matanya "Maksud kamu Melisa anak nya Dewi" tanya nya.


"Bukankah dia sudah meninggal beberapa hari lalu" sambung nya.


Tante Cindy menghela Nafasnya. Dia berpikir mau tidak mau harus memberitahukan rahasia kematian Melisa kepada Teman nya ini "Dia masi hidup, aku memalsukan kematian nya".


Pak Irfan tak bergeming, dengan serius dia memperhatikan Tante Cindy yang sudah memulai ceritanya.


Irfan,Cindy, dan Dewi adalah teman bahkan Sahabat masa SMA sampai sekarang. Namun karena kesibukan masing-masing mereka jarang bertemu, apalagi semenjak Dewi meninggal Dunia. Mereka ber tiga bahkan pernah terpaut cinta segitiga yang rumit. Selalu seperti itu kan. Bohong apa bila ada persahabatan yang tidak ada benih cinta di dalamnya.


Itu terjadi lama sekali saat mereka berada di Semster akhir sekolah. Kala itu Cindy yang menyukai Irfan, dan irfan menyukai Dewi sementara Dewi memang tidak memiliki rasa lebih pada Irfan terlebih lagi Dewi tahu bahwa Cindy menyukai Irfan lebih dari Sahabat.


Saat itu hubungan mereka sempat renggang. Namun lambat laun karena mereka menekan Ego masing-masing akhirnya persahabatan mereka berlanjut hingga ke jenjang Perguruan tinggi sampai sekarang meski kini Dewi telah tiada dan Cindy juga Irfan Sibuk dengan urusan masing-masing.


Tante Cindy akhirnya selesai bercerita tentang Melisa, Pak Irfan Menarik Nafas dalam, tak habis pikir tentang kehidupan Dewi yang menderita karena di bohongi dan di selingkuhi. Dan sekarang Melisa pun harus menanggung beban sedemikian rupa ulah Ayah nya yang bejad itu.


"Apa yang bisa aku bantu Cin" katanya menanyakan bantuan apa kepada Tante Cindy.


"Kamu tahu saat ini Wijaya sudah mendapat semua aset Dewi dan mendiang Papanya, Hanya aku yang dimiliki Melisa. Surat-Surat berharga ku yang aku percayakan pada mu tolong gantilah kepemilikan nya atas nama Melisa". Terang Tante Cindy.


"Kamu yakin" Pak Irfan memastikan apa yang di dengar nya barusan.


"Yakin, Meski tidak banyak. Hanya beberapa Poperty dan Saham yang tidak seberapa di kantor mu ini. Setidaknya aku berharap bisa memberikan Jaminan kepada Melisa." Tante Cindy tidak berhenti ia meneruskan perkataan nya.


"Aku memiliki Firasat buruk fan, mungkin sekarang anak buahku sudah di kuasai atau bahkan di habisi oleh wijaya". Katanya sambil menatap manik Irfan.


"Ok, aku bantu dan aku pastikan semuanya" Jawab Irfan dengan pasti.


Setelah mendapat kepastian dari Irfan, Tante Cindy langsung beranjak dan berkata "Terimakasih, aku serahkan semuanya pada mu".


"Cindy ada suatu hal yang ingin aku sampaikan". Irfan mencegah nya.


"Fan aku harus pergi, ada hal yang harus aku tangani segera". Gegas tante Cindy keluar ruangan Pak Irfan.