
Bak malaikat maut yang mencabut nyawa. Tante Cindy tidak pernah kehabisan akal dan strategi untuk menghabisi musuh-musuhnya. Meski sudah sangat kelelahan ia terus mengerahkan kemampuan nya demi menjaga anak-anak sahabatnya itu, tante Cindy melihat ke sekeliling tak menemukan Melisa dan Anisa ia berharap mereka berdua sempat melarikan diri dari sini.
Hingga tiba-tiba datanglah pasukan geng mafia lain yang tak di ketahui dari mana asalanya mengenakan baju yang sama dengan geng yang menyerang pertama kali. Tante Cindy mengira bahwa mereka adalah musuh yang sama dan salah paham pun terjadi disini.
Tante cindy menyerang mereka semua dan sesekali bersembunyi di balik tembok-tembok rumahnya. kini dia sudah sangat kelelahan, tak perduli lagi dengan nyawanya sendiri.
Hingga ketika ia sedang bersembunyi dia melihat para geng mafia itu tampak kebingungan dan mereka seperti sedang saling berdiskusi melalui kode hingga akhirnya salah satu dari mereka berbicara
"Kenapa kamu menyerangku bodoh" tanya salah satu anggota geng mafia tersebut.
"Bos Indra mengatakan kita harus membantu anggota keluarga kekasihnya Tuan Rey disini, dan kamu kenapa malah menyerang rumah kekasih tuan Rey" salah satu anggota menjawab dan bertanya balik.
Mereka yang berada di sekitar tante Cindy kebingungan dan memilih menembakan peluru 3 kali dengan beberapa waktu yang berbeda dan sepertinya itu tanda yang ditujukan untuk geng Mafia tersebut. Tak berselang lama mereka yang berada di dekat sana berhenti menyerang dan terdengar bunyi-bunyi peluru seperti kode itu di berbagai sudut rumah tante Cindy.
Suasana menjadi hening, sementara tante Cindy tetap bersembunyi dan berjaga-jaga bila ada yang menyerang secara tiba-tiba.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Melisa memeriksa keadaan di sekitar terlebih dahulu sebelum ia melangkahkan kaki keluar pagar. Dirasa sudah aman dia memimpin jalan dengan tangan kiri yang terus memegangi tangan Anisa sementara tangan sebelah kanan nya memegang pistol hasil rampasannya dari musuh.
Dari jarak 100 meter Melisa melihat ada musuh, dia memberikan kode agar Anisa bersembunyi di tempat yang aman. Sementara Melisa membidik musuh. ...Dorrr... seketika satu orang musuh tumbang. Dan ternyata dari arah belakang ada rekan musuh, yang langsung menyerang menggunakan serangan pisik dari belakang.
Brukkkk.... Melisa yang lengah akhirnya terjatuh sebab punggungnya di tendang dan pistolnya terpental jauh.
Lantas Melisa berdiri dan menyerang dengan jurus karatenya. Awalnya hanya ada satu musuh namun dari arah lain datang musuh-musuh yang lainya. Melisa terkepung dia berada di tengah-tengah musuhnya yang membentuk lingkaran ada 7 orang musuh disana.
Melisa tak gentar sedikitpun dia mengutamakan menyerang salah satu yang terkuat dari mereka dahulu dengan gerakan yang cepat ia menendang, menangkis, menonjok dan memukul, namun bukan sembarang serangan ia memanfaatkan titik vital dari para musuh dan menendang senjata pusaka mereka hingga mereka semua tersungkur bahkan ada yang pingsan.
Saat Melisa menarik nafas dan menyeka darah yang ada di wajahnya, tanpa di ketahuinya ada satu orang musuh yang bersembunyi dan memanfaatkan ke lengahan nya dengan mencoba membidik Melisa.
"Dorrrrrrr dorrrrrr dorrrrr" tiga kali tembakan itu bersarang tepat di dada sebelah kiri.