
"Apa maksud anda berbicara seperti Tuan Rey?" Wijaya mencoba mencari kejelasan.
"Oh, saya hanya asal bicara, permisi". Rey melenggang begitu saja meninggalkan Wijaya yang masih kebingungan.
Wijaya masi terdiam, berpikir apakah Rey hanya asal bicara atau dia mengetahui sesuatu. Namun saat ia akan bertanya ternyata Rey sudah tidak ada di toilet.
Acara bergengsi di Singapura ini telah di mulai. Dan tak di sangka perusahaan Av Company Group menduduki Runner Up perusahaan terbesar di Asia. Sementara perusahaan Wijaya harus berpuas hati dengan masuk 10 besar perusahaan terbesar di Asia.
______________________________________________
Di lain tempat, dimana tempat itu penuh dengan abu hitam dengan sisa puin-puin bangunan yang menghitam.
Melisa masi menangis sesegukan, Dia tidak menyangka bahwa orang sebaik Tante Cindy harus meninggal dengan sangat tragis seperti ini.
Kala Melisa tengah larut dalam bayangan Tante Cindy. Tiba-tiba suara bariton dari arah belakang mengagetkan nya.
"Kamu Melisa?". Tanya orang yang memiliki suara itu.
Melisa berpaling namun hanya diam dan meningkatkan kewaspadaan nya.
"Saya sahabat Cindy Irfan, ada banyak hal yang perlu saya bicarakan". Jelas orang tersebut sambil memperkenalkan diri.
Melisa masi tidak merespon.
"Ini tentang amanat terakhir Cindy, dan kebenaran tentang meninggalnya Cindy".
Melisa bereaksi, dengan dingin ia bertanya "kebenaran meninggalnya Tante Cindy?"
"Ya, kamu ikut saya". Ajak Irfan
Melisa mengikuti langkah kaki Pak Irfan sampai ke mobilnya tanpa basa basi Melisa langsung duduk di kursi Penumpang.
Sampai pada akhirnya mobil berhenti di sebuah Rumah besar dengan desain klasik seperti Rumah kayu pada jaman dahulu namun ini terkesan sangat mewah dan elegan. Seketika Melisa terpesona dengan arsitektur Rumah ini. Melisa masi melangkah mengikuti Pak Irfan tanpa banyak bertanya hingga pada akhirnya Pak Irfan berkata
"Ternyata kamu sangat dingin dan tenang, susah menebak apa yang sedang kamu pikirkan. Meski tidak ada kata yang keluar tapi kamu memasang sikap waspada yang tinggi. Apa Cindy yang mengajarkan ini Melisa?"
"Kenapa anda terus menyebut nama Tante Cindy?" Melisa bertanya tapi tidak mengurangi sikap dingin nya.
Pak Irfan mengambil sesuatu dari dalam ruangan yang di duga itu adalah ruang kerjanya. 10 menit Melisa menunggu, dan Pak Irfan kembali.
"Saya bingung mau menjelaskan ini dari mana" (Pak Irfan)
"Jika banyak hal yang harus di jelaskan, maka jelaskan dari yang terkecil" Melisa memberi saran.
"Sebelum Tante kamu kembali kerumah itu, dia sempat menemui saya untuk mengganti nama semua aset yang di milikinya menjadi nama kamu. Ini surat kepemilikian Cindy" Pak irfan berkata sambil menyodorkan tiga buah Map.
"Melisa melihat semua isi map itu. Tertera sertifikat Rumah yang telah hangus terbakar saat ini, dan saham investasi di sebuah kantor dimana kantor itu adalah kantor Prak Irfan sendiri" Melisa lagi-lagi menangis, mengingat Tante Cindy yang sangat perduli dengan nya.
"Saya, Cindy, dan Dewi adalah sahabat sejak dulu di bangku SMA". Lalu Pak irfan mulai menceritakan hubungan nya dengan Cindy dan Dewi hingga selesai.
Entah sejak kapan dia sudah mendekat ke Melisa dan mencoba memeluknya seakan ingin memberi ketenangan kepada Melisa yang terus terguncang karena menangis. Untuk pertama kalinya Melisa menangis di depan orang yang baru di kenalnya.
"Mama, Nisa, dan Tante adalah orang-orang yang sangat berarti untuk aku Om. Tapi mereka meninggalkan aku sendiri di Dunia ini. Hiks.. Hiks". Melisa berkata di sela-sela tangisnya.
"Masi ada yang ingin saya tunjukan kepada mu" Pak Irfan lalu menunjukan sebuah Flasdisk dan memutarnya di laptop.
Melisa melihat kearah laptop dan seketika itu juga dia merasakan kemarahan nya kembali memuncak...
Tante... Serunya sambil mengepalkan erat-erat tangan nya mencoba meredam amarah yang ada pada dirinya.