
Waktu telah bergulir, Malam pun telah bergantikan Senja pagi yang Indah. Sinar matahari telah menembus di sela-sela pentilasi udara di dalam kamar ini.
Terlihat Melisa yang tertidur pulas di atas hamparan sajadah dengan masi menggunakan mukena kini terbangun karena cahaya itu mengenai wajah alaminya. Semalam setelah solat isya' dia membawa perlengkapan solat ke dalam kamarnya untuk mengantisipasi kalau-kalau dia malas turun ke bawah saat subuh tiba. Dan benar saja kan, dia emang suka begitu kadang-kadang mageran.
Melisa segera bangun dan membersihkan diri, setelah itu turun kebawah untuk bertemu dengan Om Irfan.
"Non sudah bangun," sapa bibi yang sudah berdiri di depan pintu kamar kala Melisa hendak keluar.
"Ya bi, maaf aku telat bangun". Melisa menjawab dengan sopan santun.
"Tidak apa-apa Non, Tuan juga belum keluar kamar, saya permisi bangunin Tuan dulu ya Non". Bibi berlalu ke kamar sebelah.
Melisa turun dan segara mengarah ke dapur bermaksud untuk membantu menyiapkan sarapan. Tapi ternyata sarapan itu semua sudah tersaji. Terlintas di benaknya dulu aku mau sarapan pun harus menyiapkan sarapan untuk para ba*ingan itu.
Ada Bu Inah dan mba kiki yang selalu sibuk membantu ku, "Haisshhhh aku merindukan Ibu asuhku" batin nya di dalam hati.
"Kenapa makanan nya cuman di liatin aja" tegur Om Irfan yang ternyata sudah sampai di meja makan.
"Eh Om Irfan," Melisa tersadar dari lamunan nya. "aku nungguin om Irfan, gak sopan kan kalau aku mendahului tuan rumah". Dia berkilah.
"Ya sudah silahkan" om Irfan mempersilahkan Melisa. Dan sarapan pagi di mulai dengan senyap tanpa suara di meja makan.
"Om Irfan mau kemana, pagi-pagi udah rapi banget". Tanya Melisa kala sarapan nya sudah selesai.
"Om harus balik ke Jakarta, pekerjaan Om disana tidak bisa di tinggalkan terlalu lama". Jawab om Irfan.
"Jadi om tidak menetap disini"? Melisa heran lalu bertanya.
"Oh, ya. Bagaimana dengan tawaran om". Om Irfan bertanya lagi.
"aku bersedia om. Aku tidak bisa terus bersembunyi dari mereka, dengan identitas baru aku bisa mantau gerak-gerik mereka dengan leluasa. Sambil memikirkan cara yang harus aku ambil selanjutnya". Melisa menjawab mantap.
"Baiklah kalau begitu, om akan bantu berkas-berkas identitas baru mu, tapi kamu harus merubah penampilan. Apa kamu bisa? (Om irfan)
"Om tenang saja, itu memang keahlianku. Tapi om, aku ingin melanjutkan kuliah di kampusku yang dulu tanpa mengulang semester". Melisa mengutarakan keinginan nya. (Melisa)
"Itu bisa di atur, jadi... Nama kamu sekarang?" (Om irfan)
"Lili om" jawab Melisa
"Lili nama yang lembut, seperti bunga Lili" (Om irfan)
"Ya, Lili adalah nama panggilan ke sayangan dari Mama. Dan bunga Lili juga nama bunga kesukaan Mama". (Melisa)
"Ya benar, Lili adalah bunga kesukaan Dewi. Jadi sudah sepakat ya. Kamu menjadi anak Om dan harus memanggil Papa mulai sekarang. Untuk berkas-berkas identitas diri semua bisa di atur". (Om Irfan)
"Tapi om, apa anak dan istri om tidak keberatan?" tanya Melisa.
"Om sudah lama bercerai, dan kami tidak memliki anak. Jadi kamu adalah anak Om satu-satunya." jawab Om Irfan.
"Terimakasih banyak Papa" dengan ragu Melisa mencoba panggilan baru untuk Om Irfan.
Ada kehangatan yang di rasakan Irfan kala panggilan Papa di lontarkan oleh Melisa. Selama ini dia takut masa tuanya akan sendirian terlebih lagi Cindy wanita yang dicintai nya sudah meninggal.