
Menempuh jarak kurang lebih 182km dengan waktu kurang lebih 3 jam dari kota Bg (Bogor) menuju kota B (Bandung), akhirnya mereka sampai di apartemen ternama ber logo AV di kota B ini.
"Anisa sebelumnya tinggal disini"? Tanya Irfan.
"Ya, aku menghadiahkan satu Panthouse kelas atas disini untuknya". Melisa menjawab dengan bangga.
"Banyak duit ya kamu". Irfan menggoda Melisa, sebab harga apartemen biasa disini saja sudah sangat mahal. Apalagi panthouse kelas atas
"Hanya sedikit di tabungan, aku mengambil dari penghasilan perusahaan yang mengalir langsung ke dalam rekening ku dulu. Tapi mungkin sekarang sudah tidak lagi, karena orang tahunya aku telah meninggal, dan Papa tidak akan membiarkan uang perusahaan terbuang sia-sia walau hanya satu rupiah". Melisa menerawang betapa jahatnya Wijaya saat dia menyerang anak kandung nya sendiri demi harta.
Irfan menepuk bahu Melisa seraya berkata "Sekarang saya ada disini, kamu jangan takut kekurangan uang lagi karena dana perusahaan itu tidak mengalir ke rekening mu. Ada perusahaan saya, dan saham Cindy yang pasti untuk kamu. Ya... Meskipun itu tidak besar".
"Papa tenang saja, aku tidak khawatir tentang itu. Apalagi Papa sudah memberikan black card ini, hehehe..." melisa tertawa terkekeh - kekeh.
"Bisa kamu ganti saja panggilan mu kepada saya. Papi, Daddy atau Ayah saja tidak masalah. Sebab saya tidak nyaman di samakan dengan wijaya".
"Oh, jadi cemburu gitu. Hahaha... Lucu banget sih kalau lagi merajuk begitu". Melisa mencubit hidung mancung Irfan dengan gemas.
"Nakal kamu ya berani menggoda saya hahaha"... Irfan menanggapi dengan bercanda juga. Cindy lagi-lagi Melisa berperilaku sama dengan mu saat sedang bercanda.
Sementara pak supir yang melihat interaksi mereka, merasa bahwa Bos mereka ini seperti sugar daddy yang sedang di mabuk asmara terhadap Sugar babby nya.
Melisa memang selalu bercanda seperti itu, karena dia besar dengan Tante Cindy maka tak heran secara tidak langsung kebiasaan mereka nyaris sama seperti Ibu dan anak.
"Maaf, aku memang terbiasa seperti ini saat tante masi ada. Kalau kami bercanda tak ayal selalu mencubit hidung semakin keras maka semakin menarik dan memerah, dan yang paling lama bertahan maka dia yang jadi pemenangnya". Dengan suka cita Melisa menceritakan kenangan manis bersama Cindy.
Irfan yang mendengar itu pun merasa bahagia. "Jadi ini tujuanmu meminta aku menjaga Melisa, kamu berhasil aku tidak kesepian dan merasakan dia adalah anak mu dan aku. Cindy aku mencintaimu" Irfan bergumam dalam hati sambil memperhatikan Melisa.
"Ya, sudah aku manggil Ayah saja kalau begitu ya. Ayah aku turun dulu". Melisa memecah lamunan Irfan.
Melisa atau Lili melangkah memasuki apartemen yang pernah di tinggali Anissa. Sementara Irfan menunggu di mobil.
"Mmmm bos" suara Dika memecah keheningan di mobil.
"Kenapa Dik"? Tanya Irfan.
"Maaf kalau saya lancang, tapi apa benar Non Lili anak angkat Bos? Tanya Dika pada Bosnya.
"Ya, dia adalah anaknya Dewi namun sudah dianggap anak oleh Cindy dan saya juga sudah menganggap nya anak, ada apa kamu bertanya seperti itu"? Irfan.
"Hehehe... Saya melihat interaksi bos dan Lili terlalu dekat, jadi bukan seperti anak dan Ayah melainkan seperti pasangan Sugar Baby". Tanpa takut sang Bos marah Dika berkata seperti itu.
"Kamu ini, otaknya geser. Dia anak saya dan Cindy sudah itu saja yang harus kamu tahu. Semakin banyak tahu biasanya Umur seseorang tidak akan lama". Irfan menegaskan pada anak buahnya.
"Bercanda Bos, jangan di masukan ke hati. Baik saya hanya tahu itu, saya juga akan berkata yang sama bila ada yang bertanya. Non Lili adalah anak Bos dan Bu Cindy". Tak mau bercanda lagi Dika berkata dengan takut pada Irfan.
"Bagus". Hanya itu jawaban Irfan.
Didalam apartemen Melisa melihat-lihat semua barang Anisa. Baju, perhiasan, laptop, dan semua yang ada disana di masukan oleh nya kedalam koper Annisa itu sendiri.
Saat Melisa tengah menyingkab beberapa buku di rak buku kecil tiba-tiba...
Gedebuk...
Suara buku jatuh mengalihkan pandangan Melisa dari buku-buku di rak itu.