
"Aku akan memenuhi kemauan mu untuk bertarung tapi..." Rina menggantung kan perkataanya.
Dia mengambil senjata api dari anak buah nya kemudian kembali membolak balik senjata itu dan mengelap nya dengan tisu seakan itu adalah barang berharga.
Kemudian.. Dor... Dor... Dor... Tiga buah peluru menembus jantung dan kepala tante Cindy.
"Rina menyeringai, tapi aku akan bertarung dengan mu tanpa melepas ikatan mu." dia melanjutakn perkataan yang tadi tergantung. Tatapan nya menjadi dingin.
Cindy sudah tak bergerak, dia meninggal seketika karena peluru itu tepat mengenai jantung nya.
Mungkin ini firasat buruk yang menyertai Cindy sejak tadi. Dia akan meninggal kan Melisa sendiri bahkan tanpa pesan apa pun. Beruntunglah tadi dia sempat menemui sahabat lama nya.
"Bakar semuanya hapuskan semua jejak jangan sampai ada yang tertinggal, jika polisi mengetahui ini bungkam mereka dengan berbagai cara". Rina berpesan kepada anak buah nya dan meninggal kan tempat itu.
Semua anak buahnya menuruti apa yang di katakan Rina, mereka semua mulai membereskan semua jasad yang ada di sana dan menyiram - nyiram kan minyak tanah dalam jumblah besar di mulai dari luar sampai dalam rumah termasuk para jasad Pengawal Rina, pengawal Cindy dan Cindy sendiri.
Saat Rina telah pergi dan anak buah Rina tengah sibuk. Ada seseorang yang memasuki rumah itu langsung menuju kamar Cindy. Kamar terkunci dengan kode, dia merusak kode dengan menembak kan peluru ke kunci pintu.
Dor... Sekali tembakan pintu terbuka dia segera masuk dan menutup kembali pintu itu. Dia takut tembakan tadi akan menarik perhatian para pengawal Rina.
Perkiraan nya benar para pengwal Rina mendengar tembakan itu dan memeriksa kembali area dalam rumah itu. Berulang kali memeriksa tapi tak menemukan apa pun.
"kamu menemukan sesuatu?" tanya Boy pengawal yang memimpin pengawal lain.
"tidak ada bos". Jawab pengawal A yang memeriksa asal suara tembakan tadi.
"Ya mungkin, ayo segera bereskan semua nya" perintah Boy pada bawahan nya.
Memang masi banyak orang yang hidup di sana, namun karena tak mau ambil resiko mereka tetap akan membakar semua korban tanpa sisa.
Sementara itu orang yang masuk kamar Cindy bergegas memeriksa komputer dan memindahkan semua rekaman Cctv ke flashdisk, dan mengambil apa yang bisa di pergunakan. Perhiasan dan barang - barang Cindy yang penting di masukan ke dalam koper.
Sudah selesai dia pun bergegas hendak keluar namun keadaan di luar telah terkepung api. Akhirnya dia kembali masuk berniat keluar lewat jendela.
Namun saat dia hendak ke jendela tanpa sengaja kaki nya tersandung dan melihat lantai yang berbeda saat di raba ada sebuah tombol aneh di lantai. Dia menekan nya dan lemari buku bergeser. Ada ruangan rahasia dia bergegas masuk dan menutup kembali Lemari itu. Lemari itu ternyata di lapisi dengan baja hingga tidak mudah terbakar.
Saat berbalik ternyata ruang rahasia ini memiliki lorong, dia menyusuri dan berhneti di sebuah ruangan. Dia mencari saklar lampu namun tidak menyala, mungkin karena rumah di atas sudah terbakar sehingga listrik terputus.
Akhirnya dia mengambil ponsel nya dan dia terkejut dengan apa yang dilihat nya.
"Astaga ini senjata apai". Gumam nya.
banyak sekali berbagai senjata api dan pelurunya termasuk baju anti peluru disana.
"Cindy, apa sebenarnya yang kamu sembunyikan dari aku. Aku tidak pernah melihat sisi mu yang lain selama ini" monolognya sendiri.
"Selama aku menjadi sahabatmu, kamu tidak pernah bercerita banyak selain kepedulian mu kepada anak Dewi" lanjutnya lagi.