
Semakin malam semakin hangat dan panas, Charlie seperti nya masih belum puas dengan permainan malam ini.
Kini iya meminta Amira yang berperan dalam pelepasan yang kedua.
Tubuh Amira meliuk-liuk bagaikan penari balet. Charlie sampai mengerang, sungguh Amira sangat berbeda dengan Shania.
Semua miliknya masih terasa segar dan nikmat. Bagai bayi yang kehausan Charlie terus mengecap bagian terindah milik Amira.
Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan hingga, matahari menelusup lewat sela-sela jendela.
Kedua nya masih tertidur lelap. Dan betapa terkejut nya Charlie saat suara ponsel nya berbedering, iya segera menerima telpon karena Shania lah yang menelpon.
Iya meminta Charlie untuk segera mandi. Dan Shania akan menemui Charlie. Charlie menjadi bingung, " Shania akan menemui ku dimana? "
Amira yang baru saja selesai mandi. Menyiapkan sarapan pagi. Setelah mandi dan sarapan pagi Charlie duduk sambil menonton televisi.
Tak lama suara mobil berhenti persis di depan rumah Amira. Betapa terkejut nya Charlie.
Karena sudah tidak mungkin lagi iya menyembunyikan Amira istri kedua nya.
" Sayang kapan datang dari Jakarta? " suara Charlie bergetar
" Apa aku boleh masuk? " Shania berjalan masuk melihat ke arah Amira tersenyum manis.
" Iya sayang masuklah, Amira tolong buatkan air dingin, " Suara Charlie semakin bergetar.
" Iya aak, akan saya buatkan, " Amira segera ke dapur membuatkan minuman untuk Shania.
Sikap Shania biasa-biasa saja, iya malah mengoda Charlie memijat dan meremas bagian sensitif milik Charlie.
Kemudian mencium bibir Charlie secara intens.
" Kamu lagi ga bernapsu padaku sayang? " tanya Shania
" Ayo kita lakukan di dalam sayang ajak Charlie, " mengendong tubuh Shania ke dalam tempat kamar tidur.
" Suruh perempuan itu, masuk ke dalam kamar, " perintah Shania.
" Jangan sayang, " suara Charlie semakin bergetar.
" Minum ini dulu sayang biar kamu tenang ga deg-deg' an, "
" Amira bawa kesini air dinginnya, dan duduk lah di situ, jangan pergi sebelum aku yang meminta, "
Saat Amira akan keluar dari kamar karena tak tahan lagi melihat tontonan dewasa yang iya lihat.
" Jangan pergi mba! tunggulah sebentar lagi, " ucap Shania, "
Setelah pelepasan yang kedua Shania, akan beranjak dari tempat tidur, namun Charlie memohon " Sayang jangan pergi aku belum puas "
Air mata Amira yang sedari tadi menetes, kini semakin deras bercucuran.
" Kita rehat dulu sayang, aku mau bicara dengan wanita ini! "
Shania meneguk minuman yang iya bawa sendiri.
" Apakah kamu masih mau jadi istri simpanan? "
Amira masih menunduk dan terdiam.
" Jawab mba! Aku akan mengijinkan kalian tetap bersama, tapi bawa dia ke rumah kita di Jakarta sekarang juga, " Shania menuju kamar mandi membersihkan diri nya.
Lalu berpakaian, iya melihat Charlie dan Amira masih duduk terdiam di kamar.
" Sayang cepat lah bersiap-siap kita pulang ke Jakarta sekarang juga, dan kamu segera kemasi barang-barang mu! "
Amira hanya bisa pasrah, karena ini juga bagian dari kesalahannya mau menikah dengan suami orang.
" Kita pulang ke ke Jakarta pakai mobil ku? dan mobil mu nanti biar pak Maman yang bawa. "
" Iya sayang, " Charlie hanya bisa diam, iya tak tahu apa yang harus iya lakukan. Otak nya tidak bisa berpikir.
Setelah menempuh perjalanan selama 5 jam mereka pun tiba di rumah.
Shania menempatkan Amira di kamar persis bersebelahan dengan kamar Shania Charlie.
" Kalo butuh apa-apa tinggal ngomong ke saya, kamu tak perlu memasak atau pun melakukan hal apapapun di rumah ini, karena di rumah ini sudah ada yang bertugas mengerjakan apa pun. "
" Baik bu, " jawab Amira.
" Tolong jangan panggil Ibu, karena saya bukan ibu mu, "
" Iya maaf, Amira menunduk lemas, iya tak tau apa yang akan terjadi kedepan nya setelah ini.