
Hari ini Shania akan menemui keluarga Edward, sebelum berangkat menuju rumah Edward Shania akan menjemput Bu Sonya, sekaligus mengantar kan Jasmine untuk terapi, Jasmine di temani oleh kak Tina, sementara aku, Bu Sonya, Radith dan Kurnia akan mengunjungi rumah Edward.
Tiba di rumah terapi Shania segera menemui Bu Sonya, lalu mereka bergegas menuju rumah Edward yang tidak begitu jauh dari rumah terapi.
Mobil terpaksa di parkir di sebuah minimarket, mereka berjalan menyusuri lorong menuju rumah petakan yang di sewa oleh keluarga Edward.
" Assalamualaikum, ucap Bu Sonya
" Waalaikumsalam, mari silahkan masuk
ucap bu Marina dari dalam rumah
Bu Sonya, Shania, Kurnia dan Radith masuk ke dalam rumah petakan tersebut, meski kecil dan sempit rumah ini sangat bersih.
Bu Sonya memulai pembicaraan, Bu Marina lalu mengajak Edward keluar dr kamar nya dengan kursi roda, tubuh nya kurus sekali, muka nya bahkan sangat pucat, Edward meminta Radith untuk duduk di pangkuan nya, Radith pun mau mereka saling berbicara, sesekali terdengar gelak tawa kedua nya.
Edward memutuskan untuk segera melakukan operasi mata, iya sudah siap dan ikhlas memberikan kedua mata nya.
" Jika harus menunggu kematian ku, rasa nya sangat tidak adil untuk malaikat sekecil ini, aku sudah siap, biarkan aku melihat lewat Radith.
Semua yang mendengar perkataan Edward menangis, termasuk Kurnia iya memeluk anak laki-laki tampan itu seraya mengucapkan terima kasih.
Kurnia berkata kalau iya akan mengajak Edward dan keluarga nya pergi ke tempat mereka yang inginkan, kemana saja ucap Kurnia.
Edward ingin pergi ke pantai, menikmati keindahan laut bersama kedua orang tua nya dan adik nya.
Kurnia menyetujui nya tah iya sendiri yang menawarkan nya. Edward minta di foto bersama Radith. Kurnia menyetujui nya. Besok Kurnia akan membawa Edward dan Nara pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Terima Kasih Tuhan engkau sudah menjawab doa-doa ku, ucap Kurnia dalam hati.
Mereka pun pamit pulang dari rumah Edward, sepanjang perjalanan menuju rumah terapi semua diam tak ada yang bicara.
Shania mengucapkan banyak terima kasih pada Bu Sonya, karena berkat Bu Sonya Radith mendapat kan pendonor mata.
Jasmine sudah selesai terapi nya, lalu mereka pulang ke rumah.
.
.
.
Shakurra tidak ikut lantaran tadi pagi ada lomba basket di sekolah, sementara Kiano yang mengantar Shakurra, kedua nya adalah sepasang kekasih, namun kedua orang tua mereka tidak tahu hubungan mereka.
Dada Shakurra berdesir saat Kiano mencium pipi nya, mereka sudah sering kali berciuman bahkan terkadang tangan Kiano menjamah bagian dada Shakurra.
Kesempatan seperti ini sangat mereka nantikan, kedua nya bahkan sering mencuri-curi kesempatan setiap ingin memadu kasih.
Anak Remaja yang sedang di mabuk cinta, di mabuk asmara, peran orang tua memang sangat di butuhkan dalam memperhatikan anak, lengah sedikit maka terjadilah married by accident atau sering disebut pernikahan dini.
Shakurra dan Kiano masih menikmati kebersamaan nya, tanda kiss mark banyak bertebaran di bagian dada Shakurra. Mereka sengaja melakukan di bagian tersebut karena kalau di bagian leher sudah pasti akan terlihat jelas.
" Udahan aah mas, sebentar lagi pada pulang kalau ketahuan gimana?
" Sebentar lagi Sha, aku masih ingin melakukannya
" Tiiiin... Tiiin
Bunyi suara klakson mobil di depan rumah, Shakurra terlonjak kaget, tapi Kiano tetap mencium bibir Shakurra, memeluk nya dengan erat.
Hingga akhirnya menuntaskan nya dengan hembusan nafas yang kasar.
" Sha mandi sana, ucap Kiano lembut
Shakurra segera masuk ke kamar nya lalu mandi, Kiano berjalan menuju teras depan lalu membuka pagar.
" Tidur ya? kok lama sekali bukain pintu nya? Shakurra udah pulang belum? pertanyaan ibu tiada jeda
" Shakurra udah pulang ada di kamar nya
Kiano pun masuk ke dalam rumah menuju kamar nya dan merebahkan tubuh nya di tempat tidur sambil membayangkan jika Shakurra sekarang sedang bersamanya.