
Shania baru saja selesai mandi, Kurnia masih tertidur pulas.
Shania lalu keluar kamar, naik ke lantai atas untuk mengajak Jasmine makan. Jika sedang libur kerja Shania yang menyuapi anak-anak nya, belajar bersama dan bermain bersama.
Sambil menyuapi Jasmine, Shania memangku Radith, tubuh nya sudah tidak demam lagi, Panas nya sudah turun.
Alhamdulillah sudah normal suhu tubuh nya. Jasmine sangat bersemangat ketika disuapi mama nya.
Besok Shania akan mengunjungi tempat terapi untuk Jasmine. Mudah-mudahan cocok.
Radith merengek minta main di teras depan rumah, Shania pun mengajak anak-anak nya bermain di teras. Meski tak bisa melihat Radith bisa merasakan suasana di luar rumah dan di dalam rumah.
Semoga suatu hari nanti ada pendonor mata yang cocok untuk Radith.
.
.
.
Kurnia sudah bangun dari tidur nya, iya lalu keluar kamar menuju meja makan, sepeti nya Kurnia lapar, bik Tuti yang melihat Kurnia duduk di meja makan segera menyiap kan piring, sendok, garpu dan segelas air.
Kurnia menyantap hidangan yang di sediakan bik Tuti, terlihat lahap sekali, entah lapar atau karena masakan bik Tuti cocok di lidah Kurnia.
Belum selesai makan, Shania menghampiri, Shania mencium kening suami nya. Iya duduk di samping nya.
" Ayo makan Sha ", ajak Kurnia
" Aku masih kenyang Kur "
" Masakan siapa ini Sha? "
" Sepertinya masakan bik Tuti, bik Tuti memang pinter masak Kue, iya pernah kerja di restoran "
.
.
.
Selesai makan Kurnia dan Shania pergi ke teras, Jasmine langsung berlari menghampiri Kurnia, memeluk Kurnia.
Lalu Kurnia dan Jasmine menghampiri Radith mengendong Radith, Radith tersenyum senang karena di gendong papi nya.
Mereka bermain bersama di taman depan rumah, jarang sekali moment seperti ini, Shania pun mengabadikan nya dengan camera kesayangan nya.
Keesokan hari nya Kurnia sudah memulai aktivitas nya, kerja rutin dari pagi hingga sore, begitu juga dengan Jasmine sudah berangkat ke sekolah. Sementara Shania masih libur, iya ijin 2 hari tidak kerja karena Radith sakit.
Shania pun sudah bersiap-siap pergi ke tempat terapi untuk Jasmine, Radith ikut di temani kak Tina.
Tiba di tempat terapi Shania langsung bertemu dan berbincang-bincang dengan pemilik rumah terapi tersebut, setelah sepakat Jasmine akan di terapi setiap hari Sabtu dan Minggu pada pagi hari. Karena kalau terapi di hari biasa Jasmine tidak bisa, Jasmine sekolah full day dari hari Senin hingga Jumat.
Saat akan pulang pemilik rumah terapi ibu Sonya menanyakan apakah Radith buta, Shania menceritakan Radith buta sejak lahir dan sedang mencari pendonor mata.
Akhir nya ibu Sonya mengajak Shania berbicara lagi di ruangannya, iya menceritakan bahwa ada keluarga kurang mampu sedang butuh biaya untuk merawat anak nya yg sedang sakit, yaitu sakit kanker otak dan jantung.
Anak laki-laki tampan berusia 13 tahun sudah sejak lahir mengidap kanker otak, iya mau mendonor kan mata nya saat dia meninggal dunia nanti nya tapi dengan syarat adik perempuan nya yg mengidap sakit jantung harus di obati hingga sembuh.
Dan meminta uang untuk kelangsungan hidup untuk kedua orang tua nya. Shania yang mendengar cerita ibu Sonya menangis karena merasa sangat terharu dengan keadaan keluarga tersebut.
Akhir nya bu Sonya menelpon orang tua Edward anak laki-laki yang akan mendonorkan mata nya, mereka berjanji akan bertemu dengan Edward dan keluarga nya hari Sabtu nanti.
Apa yang di rasakan Shania sangat carut marut, ada sedih, terharu dan harapan kalau akhir nya nanti Radith dapat melihat.