
Seperti nya pembicaraan kala itu membuat Arga semakin marah. Ia semakin sering mengganggu Khansa meskipun lewat orang suruhan nya. Setiap hari nya adalah neraka bagi Khansa sekarang.
Ia masih sering di palak, di permalukan di depan banyak orang. Tapi, orang orang yang ada di sana hanya menonton dan tak ada satupun yang berani membuka mulut nya. Bahkan guru sekalipun tak melakukan apa apa hanya karena Arga memiliki koneksi dengan sekolah ini.
"Memuakan!" Khansa memukul pegangan besi yang ada di hadapannya.
Sore ini Khansa harus bertahan dengan pakaian nya yang basah. Lagi lagi ini terjadi karena Arga. Khansa hanya berjalan di halaman kelas nya, namun tiba tiba seseorang menjatuhkan sebuah ember dan air pada nya.
"Uuhh.. Gue udah ga tahan... Ini kelewatan!" Ucap nya geram. Ia melepas rompi nya dan memeras nya.
".. Arga...
Lihat aja. Suatu saat nanti, bakal gue hajar lo! Ya!" Ucap Khansa penuh amarah dan dendam.
Saat bel sudah berbunyi, ia kembali ke kelas dan melanjutkan pelajaran seraya menggigil kedinginan.
Keesokan harinya di kantin, ia duduk di bangku kantin dan memperhatikan, siapa yang kali ini akan datang. Dan yang datang selalu mereka para 'pesuruh'.
"Hai gadis, seperti biasa~ Berikan uang nya" Pinta salah satu dari mereka.
".. Saya tidak mau" Tolak Khansa.
"Hah.. Masih saja. Sudah, cepat berikan!" Paksa mereka.
"Panggil bos kalian, kenapa selalu kalian yang menagih uang? Hah? Apa dia takut?" Tanya Khansa menatap mereka.
"Heh? Apa yang lo katakan? Lo bakal menyesal" Ujar mereka.
"Tidak. Saya sudah yakin dengan apa yang akan keluar dari mulut saya. Jadi cepat, panggil dia. Urusan saya dengan nya, bukan kalian. Dasar sampah" Hardik Khansa.
"Perempuan ini!" Salah satu dari mereka maju dan hendak bermain tangan dengan Khansa.
Namun dengan cepat Khansa menepis pukulan itu dan memelintir nya. "Panggil dia atau aku akan melakukan yang lebih dari ini!" Gertak Khansa.
"Lo pikir gue takut cuma karena lo memelintir tangan gue? Gue bahkan bisa mematahkan tangan lo!" Ucap pria itu.
"Coba aja. Gue bakal menghilangkan masa depan lo" Ancam Khansa.
"Hah? Maksud nya?" Tanya pria itu bingung.
"Ow, apa perlu gue tunjukkan?" Khansa melepas tangan pria itu dan menendang sesuatu yang sangat sangat sensitif bagi para pria.
".. Uh..." Pria itu terjatuh masih memegangi bagian yang sakit. Teman teman nya membantu nya berdiri namun ia tak bisa.
"Ku-kurang ajar..."
"Bakal gue hilangin kalau lo berani malak gue lagi. Lo dengar?" Tanya Khansa puas.
Perempuan yang sedari tadi memperhatikan Khansa akhirnya maju dan menyerang Khansa, di ikuti dengan teman teman nya. Menyadari hal itu Khansa bersiap dan menjambak rambut perempuan itu sebelum ia terkena pukulan.
"Wah, keroyokan nih?" Tanya Khansa dengan tatapan membunuh.
"Argh! Perempuan s*alan! Lepasin gue! Apa ibu lo ga pernah ngajarin lo sopan santun?!" Bentak perempuan itu.
Khansa menjambak rambut perempuan itu semakin kuat, ia mendekatkan wajah nya pada wajah perempuan itu.
"Lo bilang apa? Hah? Lo ngatain gue wanita s*alan padahal lo sendiri lebih dari seorang yang s*alan!" Balas Khansa.
"U-ukh.. Tolong.. Lepasin gue!" Pinta perempuan itu lagi.
"Lo bilang ibu gue ga ngajarin sopan santun? Terus lo bagaimana? Ha? Jawab gue dengan benar!" Bentak Khansa.
".. Huhu.. Lepasin gue! Gue bakal balas lo!" Perempuan itu mulai meneteskan air mata nya.
Khansa memperhatikan teman teman perempuan ini yang sepertinya sedang bersiap untuk menyerang nya.
"Satu langkah saja kalian maju, gue bakal mencabut semua rambut nya" Gertak Khansa membuat semua saling menatap kemudian memilih diam.
".. Sampaikan pada bos kalian, kalau ada urusan sama gue datang sendiri. Jangan malah menyuruh bawahan nya. Dasar pengecut" Titah Khansa.
"Lo dengar?" Tanya Khansa seraya memperkuat jambakan nya.
"Ya! Gue dengar! Lepasin gue!"
Khansa menjauhkan tangan nya dari perempuan yang ada di hadapannya, dan membiarkan orang orang itu pergi. Keadaan kantin saat itu hening, benar benar sepi. Khansa menatap orang orang itu sebentar kemudian pergi dari kantin.
Khansa melewati koridor dengan perasaan aneh, semua orang menatap nya. Ia berusaha tak peduli dan meneruskan langkahnya.
"B-bela?!" Khansa terkejut, akhirnya ada orang yang mau memanggil namanya.
"Iya. Lo ada waktu? Gue pengen ngomong" Ujar Bela.
"Ada. Silahkan Bel" Khansa mempersilahkan.
"Jangan di sini. Ayo ikut gue" Ajak Bela seraya menarik tangan Khansa untuk ikut dengan nya.
Ketika sampai di tangga darurat, Bela menutup pintu nya kemudian mendekati Khansa yang sedang memandangi pemandangan.
".. Sa, apa lo.. Baik baik aja?" Tanya Bela.
"Ya, gue baik baik saja" Jawab Khansa.
"Gue.. Gue minta maaf. Selama ini gue cuma diam melihat lo di tindas, hanya menjadi penonton tanpa membantu apa apa" Ucap Bela sedih.
"..Hm, lo ga salah ko Bel. Gue ngerti kenapa lo begitu, gue ga mau lo kena juga. Seenggaknya lo masih mau menyapa gue. Terimakasih" Ujar Khansa.
"Mulai sekarang, gue akan di samping lo Sa. Gue bakal melindungi lo!" Ucap Bela yakin.
"Hahaha, terimakasih loh Bel"
"Jangan sedih ya Sa.. Semangat! Mereka pasti akan jera kok" Ucap Bela menyemangati Khansa.
"Iya Bel. Makasih ya"
"Terus sekarang, lo mau gimana?" Tanya Bela.
".. Gue bakal ketemu sama dia, manusia sampah yang udah bikin gue susah. Gue akan kasih dia sedikit pelajaran karena telah meremehkan orang kecil" Ucap Khansa yakin.
".. Yakin bisa Sa?" Tanya Bela tak yakin.
"Gue ga yakin juga sih.."
"Dia punya koneksi sama sekolah loh Sa, gue takut beasiswa lo bakal kenapa kenapa" Ucap Bela Khawatir.
"Hm, iya sih.. Kelakuan kan berpengaruh juga ya... Tapi, kan dia yang ganggu duluan. Mentang mentang gue siswa beasiswa, masa diem aja.." gerutu Khansa.
"Sabar ya.. Tapi kejadian di kantin tadi, bisa ngundang dia buat keluar ga sih?"
"Maksud nya?" Tanya Khansa tak mengerti.
"Dia jadi marah karena lo nantangin dia, kalau dia ngelakuin yang lebih dari ini gimana?" Tanya Bela Khawatir.
".. Lo tenang aja... Gue bisa jaga diri. Gue cuma perlu tertekan di sekolah dan pulang membawa senyuman untuk keluarga gue" Ujar Khansa dengan senyum tipis nya.
".. Lo masih bisa tersenyum setelah semua ini?" Tanya Bela kasihan.
"Mau bagaimana lagi? Gue juga ga mungkin kalah dan berhenti dari sini kan?"
".. Benar juga..."
"Dan lagi, keluarga gue benar benar senang gue dapat beasiswa di sini.. Ayah gue benar benar bangga... Bahkan ibu sampe nangis, haha.."
Bela memperhatikan wajah Khansa yang semakin lama semakin memerah.
"Ga mungkin kan, gue menghilangkan kebahagiaan itu cuma karena hal kecil kaya gini.." Lanjut Khansa dengan wajah yang benar benar sudah merah.
".. Kalau lo mau nangis, nangis aja Sa.. Lo bisa peluk gue" Ucap Bela seraya membuka tangan nya untuk Khansa.
Melihat itu, perlahan Khansa maju dan masuk dalam pelukan Bela. Air mata nya jatuh, ia menumpahkan semua nya. Bela mengusap punggung Khansa berusaha menenangkan nya.
"Lo kuat Sa.. Gue yakin lo bisa..." Tambah Bela.
Khansa melepas pelukan Bela dan menghapus air mata nya.
"Ke kelas yu Bel? Nanti keburu bel" Ajak Khansa.
"Masih 45 menit lagi loh Sa" Ujar Bela seraya melirik jam tangan nya.
"Wah, masih lama ya.. Ga papa deh, gue mau duduk di kelas aja.. Kalau lo masih mau di luar ga papa Bel" Ucap Khansa.
"Gue ke kelas juga aja, hehe" Jawab Bela.
BERSAMBUNG...