Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
30



"Sa, udah makan belom?"


"Udah. Lo?"


"Belom, tugas gue banyak nih:)"


"Rasain wkwkwkwk"


"Bukan nya nyemangatin"


"Iya iya, semangat ya, jangan lupa makan"


"Lo juga"


Dua bulan berlalu setelah Arga pergi ke Amerika. Alhamdulillah kami masih sering berkomunikasi, dia selalu mengirimkan pesan setiap hari. Semoga kami bisa bertahan walau terpisah oleh jarak.


Tapi.. Sepertinya berbeda dengan yang aku harapkan. Dia berhenti mengirimi ku pesan dan tidak bisa di hubungi, dia tiba tiba menghilang. Rafa dan Farhan juga tidak bisa menghubungi nya.


***


Sekolah


Aku tersadar dari lamunanku ketika Bela menepuk bahuku.


"Sa.. Ko Lo jadi sering ngelamun gini sih? Arga ya?"


"Hehe.. Iya Bel.."


"Mungkin dia lagi banyak tugas Sa, atau memang sibuk"


"Iya Bel, gue juga tau ko.. Gue ini egois ya? Padahal harusnya gue ngerti, gue paham kalau dia juga lagi susah"


"Lo ga egois ko.. Kalau gue jadi Lo juga bakal kepikiran, kalau cuma seminggu mah mending Sa, udah 3 bulan loh"


Aku melihat ponsel ku yang berkedip, ada pesan masuk. Aku segera membuka nya berharap itu dari Arga. Tapi ternyata dari Rafa:)


"Sa, ke taman mentari yu?"


"Siapa Sa?" Tanya Bela penasaran.


"Rafa"


"Wih, ngajak main tuh, jalan sudah"


"Gue jawab apa Bel?"


"Lah nanya gue, Lo mau ga?"


"Ga tau eh, gimana ya?"


"Ikut aja, Lo sekalian main, refreshing"


"..Gitu ya? Yaudah deh"


"Kapan?"


Dengan cepat dia membalas...


"Hari ini luang ga?"


"Luang"


"Yaudah, pulsek gue jemput"


"Di tunggu"


"Jangan sedih mulu Sa, ayo dong semangatttt"


"Iya iya, makasih yaa"


Pulang sekolah


Aku berjalan ke arah gerbang sekolah dan melihat Rafa sedang berdiri di sebelah mobil nya. Ketika mata kami bertemu, dia melambaikan tangan padaku.


"Udah lama?"


"Belum, yuk masuk? Kita ke rumah Lo dulu, ganti baju, oke?"


Aku membalasnya dengan anggukan.Rafa membukakan pintu untukku. Setelah mesin menyala, kami berangkat.


Rafa:


Taman Mentari


"Dah sampe"


"Udah lama ya ga ke sini.."


"Banget"


"Lo ga pernah ke sini lagi?"


"Belum. Terakhir sama Lo waktu itu"


Sekarang Khansa agak murung, diem mulu, sedih gue liat nya..


"Sa, main sepeda yu?"


"Boleh"


Kami menyewa sepedah untuk dua orang, dan berkeliling taman.


"Ihiiiyyy"


"Jangan ngebut ngebut Rafaaaa"


"Wahahahaha, awas awas"


Dia ketawa... Baguslah...


"Hadeeehh cape"


"Payah! Masa gitu doang cape, gue dong kuat"


"Lo kan cowo, beda sama gue"


"Oh jadi kita beda nih ya? Lawan jenis nih ya?"


"O jadi Lo banci selama ini?"


"Ya ga gitu"


"Hahahahaha"


"..Bagus deh Lo ketawa lagi"


"Hm? Maksud Lo?"


"Gue jarang liat Lo ketawa lagi, padahal kan Lo ceria orang nya"


"Masa seh?"


"Lo mau sesuatu? Es krim?"


"Boleh deh, traktir yak"


"Hm! Kesempatan"


"Mwuehehehehe"


"Bentar gue beliin dulu"


10 menit kemudian gue kembali dengan dua buah es krim di tangan gue. Dari jauh gue liat Khansa dengan wajah yang kembali sedih sambil melihat ponselnya.


"Sa"


Dia segera menaruh ponselnya ke dalam tas dan memasang raut wajah ceria.


"Udah tah? Gue yang coklat"


"Nih"


"Beeeh makasih loh ya"


".. Arga masih belum bisa di hubungin?"


"..Belum. Lo ga bisa juga?"


"Gue juga belum bisa. Si Farhan lagi coba tanya sama temen temen bokap nya yang ada di Amerika, siapa tau ketemu atau kenal kan?"


"Makasih ya Fa.. Gue beruntung banget ada Lo sama Farhan"


"Lo kenapa sih masih bertahan aja?"


"Maksud nya?"


"Kenapa ga minta putus aja sih? Tinggal kirim surat"


"Gue ga mau gitu Fa.. Gue masih sayang sama dia, mana tau dia nanti balik kan.. Kalau pun ga bisa sama sama, ya kita putus nya baik baik"


"Gimana kalau 5 tahun kedepan dia ga balik?"


"Gue ga tau.."


Kenapa ga Lo tinggalin aja sih Sa?!


"Lo ga mau coba cari yang lain gitu? Yang ada di sekitar Lo"


"Engga Fa.. Gue mau tunggu dia balik aja"


Gue berhenti bicara, gue ga ada harapan... Gue nyesel dulu ga nerima dia.. Gue nyesel Sa..


Dia merebahkan tubuh nya dan memejamkan matanya.


"Haaahhh jadi inget dulu, kangen sekolah ga Fa?"


"...Dikit"


Gue merebahkan tubuh gue di sebelah Khansa.


"Ngantuk gue Fa.."


"Begadang ya?"


"Iya, tugas banyak"


"Yaudah, tidur aja dulu, ntar gue bangunin"


"Bener nih ya?"


"Iya iya, tidur sudah"


Gue menatap langit selama beberapa menit, kemudian kembali menatap wajah Khansa. Dia sudah tertidur.


Gue menatap nya cukup lama, kemudian teringat aroma rambutnya yang manis. Gue mengambil beberapa helai rambut nya dan memainkan nya. Dia pulas sekali...


Sa.. Andai kita bisa lebih deket lagi ya.. Andai gue bisa gantiin posisi Arga di hati Lo.. Gue suka sama Lo Sa.. Gue sayang...


BERSAMBUNG...