Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
25



Arga:


Hiiih seneng banget gueee...


Gue masuk ke dalam rumah dengan wajah yang sangat bahagia.


"Aduh den.. Kenapa nih? Ko kayanya seneng banget?" Tanya Mbo Sun.


"Eh, ga papa mbo.."


"Oh iya den, di panggil sama ibu di ruangan nya"


"Bunda? Makasih ya mbo"


Gue sampe ga nyadar kalau bunda pulang. Gue bergegas ke ruangan kerja bunda.


"Permisi Bun.. Bunda panggil Arga?"


"Masuk Ar"


Aku duduk di samping bunda.


"Ada apa Bun?"


"Kamu masih dekat sama perempuan yang kamu ceritain waktu itu?"


"Masih bun. Malah ya Bun, hari ini kami resmi pacaran"


"Apa? Pacaran?


Kamu serius sama perempuan ini? Ga main main?"


"Engga Bun, kenapa?"


"Ar, sebelum nya bunda mau tanya. Kenapa kamu ga ngasih tau bunda atau ayah kalau kamu masuk rumah sakit?"


"..He?"


"Karena tertusuk pisau, dan itu karena kamu ngelindungin perempuan itu. Kenapa?"


"Itu.."


"Jawab yang jelas"


"Itu Bun.. Aku refleks"


"Kenapa kamu ga kasih tau bunda?!"


"Waktu itu kan bunda lagi kerja di luar kota. Lagian aku bisa ko sendiri. Bunda tau dari mana?"


"Kamu ga perlu tau. Dan.. Arga, dia ga level sama kita"


"Maksud bunda apa?"


"Bunda ga setuju kamu sama dia. Banyak anak nya temen bunda yang jelas status keluarga nya, terpandang"


"Bun, aku pikir dulu bunda ngomong gini cuma sekedar ngomong aja. Kenapa sih Bun? Dia anak nya baik ko, mandiri"


"Poko nya bunda ga suka. Tinggalin dia, masih banyak yang lebih baik dari dia Ar"


"Ga! Ga ada yang lebih baik dari Khansa. Aku cuma bakal sama Khansa. Bunda ga perlu ikut campur masalah percintaan aku, ini urusan aku Bun"


"Arga! Apa kata orang nanti kalau kamu sampe jadi dan nikah sama orang kelas rendah seperti dia"


"Bunda cukup! Bunda urus aja urusan bisnis bunda. Selama ini bunda selalu sibuk sama kerjaan. Walau udah baikan kaya kemaren kalian tetep sama, ayah tetep kerja, bunda tetep kerja, ga ada beda nya. Ga pernah mikirin aku. Poko nya, cuma Khansa perempuan yang akan aku nikahi"


"Nikahi? Sejauh apa sih pikiran kamu Ar? Hah?"


"Poko nya, aku bakal serius sama dia. Maaf Bun, tapi kali ini, aku ga bisa ngikutin kata bunda"


"Kamu serius?"


"Menurut bunda aku lagi becanda?"


"Arga, dengar. Pewaris selanjutnya adalah kamu, kamu harus pinter cari pasangan dong, biar ga bikin keluarga kita malu"


"Bunda cukup, stop. Aku ga mau bahas ini lagi, ini urusan aku, bunda ga perlu ikut campur. Itu aja kan yang mau di omongin? Aku permisi.."


Gue meninggalkan ruangan dan pergi ke kamar. Kenapa sih bunda selalu mikirin kerjaan nya, nama baik nya... Hah...


Beberapa bulan berlalu, dan hubungan gue dengan Khansa berjalan dengan baik. Gue berharap kami bisa terus seperti ini...


"Gue tunggu besok di taman sekolah jam istirahat pertama"


...


"Okidoki bosq"


Dia tidak menjawab lagi. Biasa nya masih membalas sampai kami berpamitan tidur. Kenapa ya? Mungkin dia sibuk.


Keesokan harinya...


Taman sekolah


Gue sampai di taman dan melihat gadis berambut coklat gelap sedang duduk di bangku taman.


"Khansaaa.. Dah lama?"


"..."


Dia hanya diam tak menjawab. Perasaan gue ga enak.


"Ko diem aja Sa? Sariawan?"


"..."


"..."


"Sa, kenapa si?"


"..Ar"


"Apa?"


"Kita akhirin yu?"


"Apa nya yang di akhirin? Game yang kemaren?"


".. Hubungan kita"


".. Maksud Lo apa sih Sa? Lo ada masalah apa? Cerita sama gue"


"Kita sampe sini aja.. Di luar sana banyak ko yang lebih baik dari gue"


"..Sa, sumpah ga lucu. Ultah gue masih lama"


"Lo pikir gue becanda? Gue serius"


"..Sa, Lo kenapa sih?"


"Gue pengen putus"


"Ya alasan nya apa? Selama ini kan kita baik baik aja"


"Nyokap Lo dateng ke rumah gue.. Ngehina hina orang tua gue.."


"..Bunda?"


"Iya.."


"Bunda bilang apa?!"


"Poko nya bunda Lo bilang kalau gue ga cocok sama Lo. Rakyat jelantah yang mimpi bisa pacaran sama pangeran"


"Sa.. Masa bunda gue-"


"Udah Ar. Ga usah bicarain ini lagi, kita akhirin aja.. Temenan kaya dulu lagi.."


"Sa.. Gue ga mau putus"


Air mata gue mulai mengalir.


"Dih apa sih, kenapa nangis? Emang Lo kalau putus selalu nangis ya?"


"Ga! Gue cuma sama Lo aja begini! Gue beneran suka sama Lo Saa.. Please jangan putusin gue.."


"Sorry Ar.. Kalau aja bunda Lo Ngehina gue dan bukan ortu gue, gue masih bisa berjuang buat dapetin restu nya.. Tapi sampe ortu gue.. Maaf ya Ar.."


"Sa.. Please.."


"Sorry Ar"


Dia berdiri dan melangkahkan kaki nya, pergi dari taman. Tapi dia berbalik, gue melihat wajahnya yang mulai memerah dan berkaca kaca.. Mencoba menahan tangisnya.


"Ar, jangan nangis. Masih banyak yang lebih baik dari gue.. Dan.. Bilangin sama bunda Lo, kalau gue sama Lo udah ga ada hubungan apa apa lagi.. Thanks buat selama ini.. Gue seneng, hehe"


Setelah mengatakan itu dia pergi. Aku menutup wajahku dan menangis.


Hari ini terasa begitu panjang. Biasa nya jam istirahat gue makan bareng sama Khansa, tapi cuma ada Bela doang. Kata nya Khansa ga mau keluar dari kelas. Hahh.. Bahkan kalau inget gue sama dia udah putus, jadi pengen nangis lagi...


Dan akhirnya gue pulang.. Sendiri..


Hujan turun, di saat gue bawa motor. Bener bener cobaan. Cocok lah buat gue yang lagi galau.


Rumah


"Loh Ar, kenapa kamu basah basah gini? Terus itu mata kamu kenapa? Merah, bengkak"


"..."


"Biasa nya bawa mobil, apa lagi rusak?"


"Bunda puas?"


"Puas apa?"


"Ngancurin semuanya.. Hal yang udah aku nanti nanti selama satu tahun lebih.. Bunda jahat"


"Maksud kamu apa sih Ar?"


"Bunda ga usah pura pura ga tau. Bunda ngapain ke rumah nya Khansa? Ga bisa bicara sama kita yang bersangkutan aja?"


"Tapi kalian putus kan? Dia bilang soal nya mau mutusin kamu. Bunda sih seneng"


"Bunda emang ga sayang aku"


Gue berjalan meninggalkan bunda dan menuju kamar gue.


"Ar! Ini demi kebaikan kamu!!"


"Kebaikan bunda!"


Aku masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar. Jadi ini ya, yang namanya galau... Pengen nangis terus sumpah... Nyesek...


BERSAMBUNG...