Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
28



Khansa:


"Waduh Sa, ini malah kemana?"


"Ga tau.. Ko malah kaya makin tersesat ya?"


"Haih, udah mau malam, gimana ini?"


"Gue takut Ar.."


Dia membuka tangan nya sangat lebar.


"Sini"


"Maksud nya?"


"Katanya takut, mana tau gue peluk jadi ga takut"


"Haa??? Ga ya!"


"Hehe~ Yaudah, ini kita istirahat di sini aja dulu, siapa tau yang di tempat kemah pada nyariin"


"Yaudah iya.."


Kami memutuskan untuk duduk dan beristirahat dulu. Arga membuat api dari kayu, untung dia bawa korek. Ingat ya, kalau mau buat api, jangan di dekat dedaunan atau pohon.


Hari berganti menjadi malam, suasana sangat mencekam. Angin berhembus kencang, rasa nya dingin sekali.


"..Ar.. Di-dingin..."


"Sini, pake jaket gue"


Dia memakaikan jaket nya padaku.


"Lo ga dingin?"


"Engga. Lo masih dingin ga?"


"...


Masih... Tapi makasih ya"


"Sini?"


Dengan keadaan duduk, dia melebarkan tangan nya lagi.


"Apa?"


"Gue bukan mau cari kesempatan, tapi kalau di peluk itu bisa ngilangin dingin, paling ga ngasih rasa hangat"


Tapi tetep aja Lo lawan jenis, ogah.


"Ayo weh"


"Tapi..."


"Ga mau? Dingin loh"


Tapi dingin banget.. Gimana dong?


"Yaudah iya!"


Aku berdiri dan duduk di pangkuan Arga, dia memelukku, mengusap usap tanganku.. Iya sih, hangat...


Rasa nya nyaman sekali..


Rafa:


"Ayo pak, coba ke sana, bawa obor nya"


"Iya, kita berpencar ya.. Semua bawa kompas?"


"Bawa pak"


"Ayo, langsung berangkat"


"Bapak ke sana ya, saya ke sini"


"Iya, kamu dan yang lain hati hati"


"Baik pak"


Kami masih mencari keberadaan Arga dan Khansa. Kami mencari di sekitar tempat mereka berpisah tadi. Semakin masuk ke dalam hutan...


"Cih, ga ada sinyal!"


"Fa, coba deh liat ke atas, ada ngebul ngebul. Mungkin mereka bikin api"


"Maybe. Ayo kita ke sana"


Kami berlari menuju api tersebut.


***


"Sa.."


"Hm?"


"Lo masih ada rasa ga sama gue?"


"Sayang?"


"Masih, kenapa?"


"Sebagai apa?"


"...Ga tau"


"Ko ga tau?"


"Emang kenapa?"


"..Balikan yu?"


"Balikan?!


Um, kayanya ga bisa Ar"


"Tenang aja Sa.. Orang tua gue udah ngerestuin. Tapi kaya nya bunda ku belum, jadi kita sama sama berusaha dapetin hati nya"


"M.. Gue takut Ar.."


"Ga perlu takut, ayah gue suka ko sama Lo"


"Kapan pernah ketemu? Oh atau yang acara bikin baikan itu?"


"Bukan. Dompet!"


"Dompet? Oh! Yang kemaren jatoh itu?!"


"Heem"


"Ga nyangka gue itu ayah Lo"


"Jadi gimana? Mau berjuang sama sama?"


Dia mengulurkan tangan nya padaku.


Masih sayang sih.. Tapi..Gimana ya?!


"Maaf Ar.. Gue emang masih sayang, tapi gue belum bisa terima perlakuan bunda Lo"


"Sa.. Atas nama bunda gue, gue minta maaf. Gue bakal berusaha buat bunda suka sama Lo, gue bakal jagain Lo, ga bakal gue biarin sesuatu terjadi lagi"


"..."


Aku memegang tangan Arga yang ia ulurkan padaku.


"Ar.. Maaf ya, gue ga bisa.. Kita temenan aja ya? Kaya dulu, temen rasa pacar, hehe"


"Oh.. Hehe.. Iya, begitu aja"


"..Maaf ya.."


"Ga papa Sa.. Santuy aja"


Aku mulai memejamkan mataku dan tidur.. Semoga hubungan ku dengan Arga bisa terus baik, walau tanpa status lebih..


***


Kami semakin dekat dengan asap, sedikit lagi, dan kami sampai... Gue melihat api yang mulai padam, dan.. Arga yang sedang memeluk Khansa. Rasa nya dada gue nyesek banget, ngeliat mereka bareng, pelukan di depan gue.. Omg, tapi gue siapa..


Hah! Bukan waktu nya mikirin yang begitu, ayo tolongin dulu.


"Nah ini dia"


"Buruan tolongin"


"Ar, woi bangun"


"Saa bangun"


Mereka perlahan bangun, dan seakan terkejut mereka langsung lompat dan berdiri.


"Akhirnya..."


"Ayo, kalian ko bisa sih nyasar?!"


"Sebenernya lebih jauh dari ini tadi, cuma kaya lebih ke sasar, jadi kita diem dulu di sini, mana tau di cariin?"


"Yaudah, yu balik. Eh kalian, coba kasih tau pak guru kalau mereka udah ketemu"


Gue yang sedari tadi diam, melangkahkan kaki berdiri di depan Khansa.


"Lo ga papa?"


"Hm! Ga papa"


"Bagus lah.. Lo Ar?"


"Sama, gue ga papa. Thanks ya"


Gue hanya mengangguk. Syukur lah mereka udah ketemu.. Gue seneng:D


Kami kembali ke tempat tenda. Saat kami kembali anak anak di sana hanya memanggil dan menanyai keadaan kami.


BERSAMBUNG...