
Khansa yang masih menggenggam tangan Rafa berjalan cepat menuju parkiran. Rafa hanya diam mengikuti sampai akhirnya mendengar suara tangisan dari orang yang sedang menarik tangannya. Ia menahan tangan Khansa, memegang bahu dan memutar nya membuat mereka berhadapan.
"..Lo kenapa?"
"..Hiks.. Kelilipaaan"
"Lo mau gue ngomong sama si Arga?"
"Ga usah, mau ngomong apa juga... Ini udah yang terbaik"
"Tapi gue ga mau liat Lo begini..."
"Gue bakal terbiasa ko, hehe.. Ini kan awal awal aja..."
"Lo ga mau coba cari pengganti?"
"Hm? Pengganti?"
"Pengganti si Arga"
"..Kaya nya engga dulu deh Fa, gue mau fokus kerja aja.. Adik gue masih harus sekolah. Lo kalau ada lowongan kerjaan cari gue ya, hehe"
"..Jangan terlalu sibuk, jaga kesehatan juga"
"Iyaa"
"..Lo sama Arga udah putus?"
"Gue ga tau.. Dia belum ngomong putus, tapi kalau gue udah ngelepas. Udah lah ya ga usah bahas itu, yu ah pulang"
".. Sorry"
Rafa tertunduk sesaat, ia sudah pasrah dengan percintaan nya, yang penting tetap bersama, itu sudah cukup. Ia membukakan pintu mobil untuk Khansa kemudian mengantar nya pulang.
Arga:
Arga di buat terkejut karena ayah nya yang tiba tiba menepuk bahunya.
"E ayam"
"Lah sekarang kagetan anak ayah"
"Kaget yah, hehe.."
"Kamu kenapa? Tumben tumbenan bengong"
"Ga papa yah.. Lagi ga ada kerjaan makanya ngelamun"
"Ga ada yang mau kamu ceritain sama ayah?"
"Hm? Ga ada"
"..Ayah minta maaf ya Ar"
"Kenapa yah? Oh tadi pagi itu ya? Yang minjem uang, udah yah ga papa"
"Bukan, itu kan udah di ganti tadi"
"Iya ya, hehe.. Terus kenapa yah?"
"Maaf, gara gara ayah kamu jadi pisah sama pacar kamu, kamu ngelamunin pacar kamu kan?"
"A-apasih yah? Engga laa masa aku ngelamunin dia"
"Ayah tau kamu ga bisa Ar.. Udah, kamu batalin aja, sebelum terlambat"
"Engga yah, masih banyak waktu juga ko buat belajar suka sama si Iren alay itu. Dan aku ga mau buat ayah susah, ga lagi"
"Ayah bisa cari jalan lain Ar, bisa pinjam keluarga atau teman, yang penting kebahagiaan anak ayah dulu"
"..Hah.. Udah terlanjur juga lah yah, ga papa"
"Ayah bisa ngomong sama bunda Ar.."
"Ga perlu yah, ini mau nya bunda"
Ayah tertunduk, merasa bersalah atas apa yang terjadi pada anaknya.
"Haih ayah.. Ga usah ngerasa bersalah kaya gitu ah, ini bukan salah ayah ko.. Mungkin ini emang jalan Tuhan, aku ga cocok sama Khansa.. Oke?"
"Kamu udah selesai sama dia?"
Arga terdiam beberapa saat, kemudian menjawab...
"Belum.."
"Tapi! Arga bakal buat dia benci sama Arga"
"Maksud kamu?"
"Kalau dia benci sama Arga, kita bakal mudah buat saling ngelupain.. Ya! Mungkin harus begitu"
"..Nak.."
"Lagian perempuan kaya Khansa pantas dapat yang lebih baik dari Arga yah, Arga ga papa.. Eh yah, hari ini ada film favorit ayah loh, Upin Ipin! Yu?"
Arga menarik tangan ayah nya dengan lembut masuk ke dalam rumah. Ayah nya bisa melihat mata Arga yanh berkaca-kaca, itu semakin membuat ayah nya merasa bersalah.
Keesokan harinya...
Tempat kerja Khansa
"Sa"
Khansa berbalik terkejut mendengar suara orang yang sangat familiar baginya.
"Lo? Lo mau apa?!"
"Ada yang mau gue sampein"
"Yaudah, apa?"
"Bisa kita duduk dulu?"
"Gue lagi istirahat sih, yaudah cepet"
Mereka duduk di salah satu bangku yang ada di depan restoran.
"Mau ngomong apa?"
".. Sebelumnya maaf karena gue ganggu kerjaan Lo.. Gue.."
"Iya Lo ganggu, jadi buruan"
"..Lo sama Rafa, gimana?"
"Ha? Maksud Lo apa?"
"Engga engga.. Gue ke sini, karena gue mau ngasih tau Lo sesuatu.. Tentang perasaan gue ke Lo"
"Perasaan Lo ke gue?"
"Gue mau minta maaf.. Gue sebenernya ga pernah suka sama Lo"
"Hm? Apa apa?"
"..Gue ga pernah suka sama Lo"
"Maksud Lo?!"
"..Gue cuma kasian, sorry"
"Jadi, Lo bukan suka sama gue tapi kasian? Maksud Lo apa sih Ar?"
"Ya! Gue cuma kasian, waktu itu gue cuma main main doan. Dan sekarang, saat dewasa.. Gue sadar kalau.. Kalau Lo ga pantes buat gue.."
Khansa terdiam merasakan sakit di hati nya, wajahnya mulai memerah dan mengeluarkan air mata. Ia mendengar perkataan yang sangat menyakitkan dari orang yang ia cintai, ia berharap ini hanyalah bohong.
Arga tertunduk melihat air mata Khansa mengalir membasahi wajahnya.
Sorry Sa.. Sorry...
"Gue ga nyangka.. Ternyata Lo.."
"Sorry"
"Dengan gampang nya Lo ngomong sorry.. Jadi selama ini, Lo mainin gue?!"
Arga hanya mengangguk.
"..Lo keterlaluan Ar.. Lo jahat.. Gue benci, benci banget sama Lo!!!"
Khansa berlari masuk ke dalam restoran, Arga menatap punggung Khansa yang semakin menjauh dan menghilang. Arga melangkahkan kaki nya meninggalkan restoran.
Sorry Sa.. Tapi cuma ini yang bisa gue lakuin, maaf...
BERSAMBUNG...