
Karena masih penasaran dengan soal soal yang ia dapat di perpustakaan tadi, Khansa kembali membuka buku dan membaca nya sembari berjalan. Namun ia menghentikan langkahnya saat melihat ada sepasang kaki di depan nya. Ia menutup buku nya dan menatap orang itu.
"Hah.. Lagi lagi mereka" Batin Khansa ketika melihat kakak kelas yang biasa mengganggu nya datang menghampiri nya, namun kali ini dengan ekspresi yang berbeda, mereka marah.
"Ada apa ya kak?" Tanya Khansa.
"Pakai tanya lagi! Apa yang kau lakukan dengan Arga di perpustakaan?! Hah?!" Tanya Karin, pemimpin kelompok nya.
".. Aku tidak melakukan apa apa kak" Jawab Khansa namun mereka tak percaya.
"Bohong! Aku melihat kau dekat dekat dengan nya! Kenapa juga Arga menyentuh rambut mu! Hah?! Kenapa?!" Tanya Karin sangat marah.
"Kenapa dia sangat marah? Memang apa yang aku lakukan?" Batin Khansa bertanya tanya.
"Dia hanya meminta saya untuk mengajari dia kak. Dia menyentuh rambut saya karena ada kotoran yang menempel di rambut saya. Itu saja kak" Jelas Khansa.
"Lalu? Kau senang kan di pegang pegang seperti itu?! Berlagak seakan kau membenci nya tapi tenyata kau malah mencari kesempatan ya! Mana duduk nya di pojokan lagi!" Bentak Karin.
"Iya! Apa yang kau lakukan pada Arga?!" Bentak yang lain.
"Kak, saya benar benar tidak melakukan apapun pada nya selain mengajari dia" Jelas Khansa lagi.
"Kau benar benar menguji kesabaran ku!!" Bentak Karin kemudian maju mendekati Khansa.
"A-apa yang mau kakak lakukan?!" Tanya Khansa saat Karin maju dan memegang leher nya.
Karin mendorong Khansa ke dinding dan memegang leher Khansa, perlahan Karin menekan leher Khansa dan mengangkat nya.
"Ap-apa?! Kenapa.. Kenapa kakak be-begini?!" Tanya Khansa merasakan sakit di leher nya, ia kesulitan bernapas.
"Ini akibatnya jika kamu melanggar apa yang aku katakan!!" Bentak Karin.
"Khansaaa!!!" Ujung mata Khansa menangkap sosok Bela sedang berlari ke arah nya penuh air mata.
"Ja-jangan.. Ke.. Mari..." Larang Khansa dengan suara kecil dan terbata.
"Eit! Mau ke mana?" Mereka mencengkeram tangan Bela dan menahan nya.
"Lepaskan aku! Lepas dasar s*alan!" Bentak Bela berusaha melepaskan cengkraman tangan para kakel itu.
"Berani sekali kau mengatai kami s*alan, kurang ajar!" Bentak mereka.
"Lepas! Aku akan melaporkan kalian!!" Jerit Bela.
"Laporkan saja, siapa yang akan percaya pada mu? Hah?" Balas mereka.
"Huhu.. Khansa.. Tolong lepaskan Khansa.. Jangan siksa dia seperti itu.." Isak Bela menatap Khansa mulai lemas.
"B-bela.." Panggil Khansa lemas.
"Aduh, kalian ini drama sekali ya.. Aku jadi sedih melihat nya hahahah" Ujar Karin tertawa.
"Jangan tertawa b*engsek!" Bentak Bela.
"Apa yang kau lakukan Karin?" Tanya seseorang membuat Karin menoleh dan menatap nya.
"A-ah.. Ini? Kami hanya main, hehe" Jawab Karin dengan cengirannya.
".. Lepaskan dia. Kau akan membunuhnya" Titah pria itu.
"K-kau.. Kenapa bisa ada di sini deh?" Tanya Karin mengalihkan.
"Hei bodoh, lepaskan dia. Kau mau dia mati?" Tanya pria itu.
Karin menatap Khansa kesal kemudian menjauhkan tangan nya dari Khansa, membuat Khansa jatuh ke lantai.
💨💨💨
Bela yang berhasil lepas dari cengkraman yang lain berlari dan memeluk Khansa yang terduduk di lantai.
"Khansa! Kau baik baik saja?! Apa kau bisa bernapas?! Hah?! Jawab aku!!" Tanya Bela khawatir.
"Uhuk.. Uhuk.." Khansa memegangi leher nya yang terasa sakit. Ia menatap Bela dalam dan menangis.
"Apa yang sakit?! Hah, b*jingan! Aku akan membalas mereka! Hiks.. Khansa, apa kau baik baik saja?!" Tanya Bela menatap Khansa yang masih memegangi leher nya sambil menangis.
"Hiks.. B-bela..."
"Apa?! Ada apa?!" Tanya Bela panik.
"Ke-kenapa.. Kenapa mereka memperlakukan ku seperti ini Bel? Apa salah ku pada mereka?... Aku bahkan tak mengenal mereka.. Hiks.." Tanya Khansa lemas.
"Kau bahkan tak pantas memanggil mereka 'kakak'! Ayo! Kita ke UKS! Kita periksa!" Ajak Bela.
"Tidak perlu Bel.. Aku... Aku baik baik saja" Tolak Khansa.
"Kau tak boleh menolak! Ayo ikut aku!" Titah Bela.
".. Baiklah..."
"Kau bisa berdiri?" Tanya Bela.
".. Bisa" Perlahan Khansa mencoba untuk bangun dan berdiri. Namun baru beberapa detik ia berdiri, ia sempoyongan dan hampir jatuh.
"Kau yakin kau bisa? Kemari, biar aku tuntun" Ucap Bela menahan Khansa yang hampir jatuh.
"Maafkan aku Bel.. Aku merepotkan mu..." Ucap Khansa tak enak.
"Hm" Khansa menganggukkan kepalanya.
"Biar aku bantu" Tawar seseorang yang ada di belakang Khansa.
Khansa berbalik dan menatap pria itu. "Terimakasih kak sebelumnya, tapi tidak perlu. Terimakasih banyak, sekali lagi kakak membantu ku" Ucap Khansa.
"Tak apa, biar aku bantu" Tawar pria itu lagi.
"Aku dengan Bela saja kak, kakak bisa pergi. Terimakasih banyak ya kak" Tolak Khansa lagi.
Pria itu maju mendekati Khansa, ia memegang bahu Khansa dan mengangkat nya.
"Kak! Apa yang kakak lakukan?! Aku baik baik saja.. Aku bisa berjalan! Turunkan aku!" Ucap Khansa minta di turunkan.
"Diam. Aku tak suka di tolak. Hei kau, maju lah duluan" Perintah pria itu pada Bela.
"Tapi kak-"
"Diam" Titah pria itu membuat Khansa akhirnya memilih untuk diam.
💊💊💊 UKS 💊💊💊
Bela membuka pintu UKS namun di sana kosong, tidak ada siapapun di sana. Pria itu mendudukkan Khansa di ranjang UKS, ia pergi membuka pintu kulkas dan mengambil sebuah kotak berisi es batu.
"Hei kau, minggir" Titah pria itu pada Bela yang sedang duduk di samping Khansa.
".. Baiklah" Ucap Bela seraya berdiri dan menjauh.
Pria itu duduk di samping Khansa dan membungkus beberapa es batu dengan handuk. Ia sedikit mendekat dan menempelkan handuk itu pada leher Khansa.
"Um.. Maaf kak, saya bisa melakukan nya sendiri. Kakak tidak perlu memegangi handuk nya" Ujar Khansa.
".. Baiklah" Ucap pria itu menjauh dari Khansa.
".. Sekali lagi terimakasih banyak kak.. Terimakasih" Ucap Khansa.
"Hm, sama sama" Jawab pria itu.
"Sa, apa aku perlu mengizinkan mu pada guru untuk tidak masuk kelas?" Tanya Bela.
"Tidak. Aku baik baik saja kan? Aku akan ke kelas sebentar lagi" Kata Khansa.
"Kau yakin?" Tanya Bela memastikan.
"Iyaaa"
".. Kau baik baik saja?" Tanya pria itu kini.
"Aku kan sudah bilang, aku baik baik saja" Jawab Khansa.
"Kau ada waktu? Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu" Tanya pria itu.
"Hal apa? Tidak bisa sekarang?" Tanya Khansa.
".. Tidak" Jawab pria itu singkat.
"Ah, apakah karena aku? Aku akan keluar sekarang" Ucap Bela.
"Tidak perlu. Lagi pula sebentar lagi bel masuk" Larang pria itu.
"Tapi, bukan kah akan semakin banyak orang yang mengganggu ku kalau aku dekat dengan kakak? Sekarang saja aku takut duduk di samping kakak" Ujar Khansa takut.
".. Kau tak perlu takut. Aku akan melindungi mu" Kata pria itu membuat Khansa bingung.
"Kenapa dia mau menjaga ku?" Batin Khansa bingung.
"Sudah, aku akan menjemputmu di kelas nanti sore. Jangan ke mana mana. Kau dengar itu anjing kecil?" Tanya Rafa menatap Khansa.
"Jahat sekali mengatai ku anjing..." Batin Khansa.
"..Iya" Jawab Khansa.
"Baiklah. Apakah aku perlu mengantar kalian ke kelas?" Tawar pria itu.
"Tak perlu, aku dan Bela akan baik baik saja" Tolak Khansa.
"Ya sudah. Oh ya, kau baru boleh berhenti mengompres leher mu setelah 10 menit. Oke?" Pesan pria itu.
".. Baik" Jawab Khansa.
Pria itu berdiri dan berjalan meninggalkan Khansa juga Bela. Khansa menatap kepergian pria itu dengan banyak pertanyaan di kepala nya.
"Sa, mau ke kelas sekarang?" Tanya Bela.
"Um, boleh.. Nanti aku akan mengembalikan handuk nya saat pulang" Balas Khansa.
"Biar aku yang mengembalikan nya nanti" Tawar Bela.
"Sama sama saja ya? Hehe"
Mereka keluar dari UKS dan kembali ke kelas.
🌱🌱🌱 BERSAMBUNG 🌱🌱🌱