Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
15



Selama pelajaran, Bela hanya diam dan sesekali melirik ke arah Khansa yang seperti nya masih marah. Bahkan sampai waktu pulang tiba Khansa tetap menekuk wajahnya.


".. Bel, aku pulang ya? Kamu hati hati" Ujar Khansa kemudian berdiri.


"Iya Sa, kamu juga hati hati ya.." Balas Bela.


Khansa keluar dari kelas dan melihat sosok Rafa sedang bersandar di pilar. Tanpa memperdulikan nya Khansa tetap melangkah dan melewati Rafa.


".. Berhenti" Titah Rafa membuat Khansa menahan langkahnya dan berbalik menatap Rafa.


".. Kau bicara pada ku?" Tanya Khansa.


"Ya" Jawab Rafa seraya berjalan menghampiri Khansa dan menatap nya.


"Anjing kecil, aku sudah menunggu mu sejak tadi. Tapi lihat, kau malah berlalu begitu saja?" Tanya Rafa.


".. Ada apa?" Tanya Khansa.


"Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu" Ucap Rafa.


"Tentang apa? Kejadian di kantin tadi?" Tanya Khansa menatap Rafa kesal.


"Ya" Jawab Rafa singkat.


"Apa kau akan memarahi ku juga kali ini? Karena aku memukul sahabat mu?" Tanya Khansa kesal.


Rafa diam memperhatikan wajah Khansa yang kian lama kian memerah.


"Apa kali ini aku salah lagi karena memukul nya? Dia menghina masakan ibu ku!" Bentak Khansa seraya menghapus air mata nya.


".. Hiks... Kenapa dia tidak berhenti mengganggu ku?! Aku lelah.." Keluh Khansa.


".. Kau bilang kau akan sabar dan berusaha diam saat di kerjai kan? Kenapa sekarang malah mengeluh?" Tanya Rafa.


"Dia mengganggu ku setiap hari tanpa henti! Setidak nya berikan aku waktu satu hari untuk beristirahat! Dan aku paling benci saat saat dia menghina keluarga ku!!" Bentak Khansa.


".. Ayo ikut dengan ku" Ajak Rafa.


".. Ke mana? Aku harus pulang" Balas Khansa.


"Bilang pada orang tua mu, kau ada tugas dengan teman di luar" Titah Rafa.


"Berarti aku bohong dong? Tidak boleh!" Tolak Khansa.


"Tak apa, cepat. Masih ada beberapa hal yang akan aku ceritakan padamu" Titah Rafa lagi.


".. Iya" Jawab Khansa kemudian merogoh tas nya dan mengambil ponsel nya.


Setelah mendapat izin dari orang tua Khansa, mereka masuk ke dalam mobil Rafa dan pergi ke suatu tempat.


Tak lama, mereka sampai di sebuah warung makan.


".. Kenapa kau membawa ku ke sini?" Tanya Khansa.


"Kau sudah pernah makan di sini?" Tanya Rafa.


".. Belum. Aku baru pertama kali ke daerah ini" Jawab Khansa.


"Kau harus sering ke sini ya, ayo masuk. Aku akan mentraktir mu" Titah Rafa.


"Kenapa kau selalu mentraktir ku saat bertemu dengan ku? Aku masih mampu membeli makanan" Tanya Khansa merasa tak enak.


"Sudah, tak usah banyak tanya. Kau pesan lah sesuai selera mu" Titah Rafa.


Seorang pelayan dengan buku kecil di tangan nya menghampiri meja mereka.


"Mas dan mba mau pesan apa ya?" Tanya pelayan itu.


"Saya level 3 ya, campur" Jawab Rafa.


"Um.. Saya juga campur, tapi tidak usah pedas ya" Jawab Khansa.


"Tidak usah pedas mba? Sama sekali?" Tanya Pelayan itu.


"Ya" Jawab Khansa.


"Baik. Di tunggu ya mas, mba" Ujar pelayan itu kemudian meninggalkan meja.


"Aku ga bisa makan pedas" Jawab Khansa.


"Kenapa? Padahal enak loh" Balas Rafa.


"Itu kan untuk mereka yang suka pedas" Balas Khansa.


"Apa yang akan terjadi jika kau memakan makanan pedas?" Tanya Rafa.


"Biasa nya sih sakit perut" Jawab Khansa.


"Begitu. Oh ya, aku bilang aku akan menceritakan sesuatu kan? Bagaimana kalau kau saja yang bertanya? Aku akan menjawab nya jika aku tahu" Tawar Rafa.


"Hm, baiklah. Aku ingin tahu, kenapa semua guru membiarkan Arga melakukan apa yang dia mau? Apa guru guru takut pada nya?" Tanya Khansa.


"Ya, bisa di bilang begitu. Tapi ada saja kok guru yang diam diam tak suka pada Arga tapi hanya memendamnya. Karena kepala sekolah memerintahkan para guru untuk memperlakukan Arga dengan baik.


Arga tak boleh mendapat perlakuan tak pantas seperti murid murid lain, tak boleh di marahi, tak boleh menentang Arga" Jelas Rafa.


"Kenapa sampai sebegitu nya sih? Harus nya kan tidak boleh seperti itu" Tanya Khansa tak suka.


"Karena orang tua Arga adalah donatur tetap di Indonesia High School. Termasuk orang tua ku dan Farhan. Mereka memberikan dana cukup besar untuk sekolah" Jelas Rafa.


"Ah, begitu rupa nya.."


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan?" Tanya Rafa.


"Sifat Arga memang dari dulu begitu ya?" Tanya Khansa.


".. Ya, sejak dia SMP lah" Jawab Rafa.


"Kenapa? Apa karena dia merasa punya banyak uang jadi bisa melakukan apapun yang dia inginkan?" Tanya Khansa.


".. Ya. Kurang lebih seperti itu" Jawab Rafa.


".. Kenapa kau tiba tiba mau menjelaskan ini pada ku?" Tanya Khansa penasaran.


".. Entahlah. Aku merasa harus membagi nya dengan mu. Dan masalah di kantin tadi, ku rasa kau pantas memukul Arga"


"Hee?"


"Kau tahu? Murid murid yang di ganggu oleh Arga biasa nya akan berakhir dengan keluar nya mereka dari sekolah. Dia juga tak pernah mengganggu perempuan, ini pertama kali nya dia mengganggu perempuan" Jelas Rafa.


"Jadi aku harus bagaimana? Apa aku akan terus seperti ini sampai lulus?" Tanya Khansa.


"Sabar saja, aku akan berusaha membantu mu" Ujar Rafa.


"Kenapa kau ingin membantu ku?" Tanya Khansa.


"Karena aku ingin" Jawab Rafa singkat.


"Itu saja?" Tanya Khansa memastikan.


"Ya"


"Satu lagi. Kenapa kau memanggilku anjing kecil?" Tanya Khansa penasaran.


"Ketika melihat mu aku teringat pada anjing kecil yang dulu pernah ku jumpai di rumah teman" Jelas Rafa.


"Tuh kan, dia menganggap ku anjing ಥ‿ಥ" Batin Khansa.


Tak lama, seblak yang mereka pesan datang. Tanpa mengatakan apapun lagi, Rafa mengambil sendok dan menyuapkan seblak berkuah merah itu ke mulut nya.


".. Lihat nya saja ngeri" Batin Khansa menatap seblak milik Rafa.


Khansa menatap seblak yang ada di hadapannya dan mulai menyantap nya.


🍶🍶🍶


Arga duduk di dalam mobil mewah nya dengan wajah datar memandang ke luar jendela.


Tak lama ia mengeluarkan ponsel dari jas nya dan menekan sebuah nomor.


".. Aku ada tugas untuk mu" Titah Arga masih memandang ke luar.


BERSAMBUNG...