
Sesuai perkataan nya, pria yang sampai saat ini belum di ketahui nama nya oleh Khansa itu menjemput nya ke kelas. Ia bersandar di pintu dan menjadi pusat perhatian karena gaya nya yang super cool.
"Luar biasa.. Siapa dia? Tampan sekali.."
"Iya! Apa dia sedang menunggu seseorang?! Ku harap itu akuuu" Bisik yang lain di belakang kelas.
"Sa, kau yakin akan pergi dengan nya? Aku takut kau akan mendapat masalah jika pergi dengan nya" Bisik Bela khawatir.
"Lalu aku harus bagaimana? Dia sudah di sana.." Jawab Khansa berbisik dan tak mau melihat ke arah pintu.
"Duh.. Bagaimana ya..." Ucap Bela bingung.
".. Tak apa Bel, aku akan pergi dengan nya.. Doakan aku ya? Aku pergi. Kau hati hati saat pulang" Ujar Khansa kemudian mengambil tas nya dan melangkahkan kakinya keluar kelas.
Hingga akhirnya ia berada di hadapan kakak kelas itu.
".. Ikut aku" Titah pria itu seraya pergi dari sana, di ikuti Khansa. Seketika kelas menjadi ricuh.
Khansa berjalan satu meter di belakang pria itu, Khansa harus merasa canggung dan tidak nyaman karena pria itu tidak mengeluarkan satu kata pun dari mulut nya. Hingga akhirnya mereka sampai di parkiran.
".. Kakak akan membawa ku ke mana?" Tanya Khansa melihat pria itu membuka pintu mobil nya.
"Ikut saja. Dan jangan panggil aku kakak, panggil nama ku saja" Perintah pria itu.
"Um.. Tapi aku tidak tahu nama kakak siapa" Jawab Khansa.
".. Rafa" Jawab nya seraya masuk ke dalam mobil.
Rafa melajukan mobilnya menuju sebuah cafe yang berada tak jauh dari sekolah. Mereka masuk ke dalam cafe dan duduk di bangku yang berada di dekat jendela.
"Pesan apa yang kau mau" Titah Rafa.
Khansa membuka buku menu yang ada di atas meja dan melihat daftar makanan yang tertera di menu. Betapa terkejutnya ia ketika melihat harga makanan di sana.
"Apa apaan ini? Masa air putih saja 15.000?! Lebih baik aku makan di tempat bibi Minah" Batin Khansa.
"Ada apa?" Tanya Rafa.
"Ah? Tidak, tidak papa.. Um, aku kenyang. Kau saja yang pesan" Ujar Khansa.
"KRUYUUUKKK" Khansa memalingkan wajahnya malu.
"Kenapa kau harus bunyi di saat seperti ini? Hah?" Batin Khansa malu.
"Um.. Itu tadi.. Suara apa ya? Haha.." Tanya Khansa mengalihkan.
".. Pesan lah, aku akan mentraktir mu"
"Hah? Apa? Kenapa? Kenapa kau mau mentraktir ku? Tidak perlu" Tolak Khansa.
"Cepat pesan, sebelum aku berubah pikiran" Titah Rafa.
".. Baiklah... Terimakasih banyak..."
Rafa memanggil pelayan yang ada di sana kemudian memesan. Setelah cukup lama menunggu dalam keheningan, akhirnya makanan datang. Mereka menikmati makanan mereka sampai habis dalam keheningan.
".. Kau sudah selesai dengan makan mu? Aku ingin bicara" Tanya nya seraya mengelap mulut nya dengan serbet.
"Sudah.."
"Memang nya kalau mau bicara harus selesai makan dulu ya?" Batin Khansa.
"Masalah dengan Arga, apa kau baik baik saja?" Tanya Rafa.
"Hm, aku baik baik saja" Jawab Khansa tersenyum kecil.
"Kau yakin?" Tanya nya lagi.
"Ya. Dia juga tak pernah muncul lagi di hadapan ku" Jawab Khansa.
"Dia memang tidak menggangu mu, tapi orang orang di sekitar nya, penggemar nya.. Mereka yang melakukan nya" Ujar Rafa.
"Tapi aku baik baik saja.. Kau tak perlu khawatir" Balas Khansa.
".. Anjing kecil, dari awal aku sudah bilang kan, jangan cari masalah. Kenapa kau malah menantang Arga dan bermain dengan nya?" Tanya Rafa menatap Khansa tajam.
".. Apa? Aku harus bagaimana saat dia menindas ku? Jika aku diam saja apa dia akan berhenti?" Tanya Khansa.
"Aku yakin dia pasti akan berhenti. Harus nya kau diam saja" Tambah Rafa.
"Aku harus diam saja saat dia menyiksa ku di atap? Saat dia merampas uang ku? Saat dia kurang ajar padaku? Harus kah aku diam? Kenapa aku tak boleh melawan?" Tanya Khansa.
".. Kau melawan orang yang salah"
"Ya. Aku memang salah melawan nya, aku yang biasa ini mana mungkin bisa melawan pangeran seperti dia, ya kan?" Balas Khansa.
"Tapi aku sudah terlanjur masuk dalam permainan nya, aku akan menerima semua permainan nya" Tambah Khansa.
"Kau melakukan ini demi apa? Kau murid beasiswa kan? Bagaimana dengan beasiswa mu jika kau macam macam? Kau juga akan menyusahkan orang lain, kau akan menyeret mereka yang tak bersalah masuk ke dalam masalah mu" Ujar Rafa.
".. Apa Bela akan jadi seperti aku juga?" Batin Khansa menundukkan kepalanya.
"Tidak. Aku tidak akan membiarkan apapun terjadi pada Bela" Tambah nya.
".. Kau benar. Aku hanya akan menyusahkan mereka yang baik pada ku.. Aku minta maaf ya sudah menyusahkan mu..." Ucap Khansa.
".. Bukan begitu-"
"Terimakasih karena selama ini kau selalu membantu ku. Sekarang kau tak perlu membantu ku lagi, aku akan melakukan nya sendiri" Ujar Khansa.
".. Bagaimana kau akan melawan nya? Apa yang bisa kau lakukan?" Tanya Rafa.
".. Tak ada. Aku akan berusaha untuk tetap sabar dan bertahan di sekolah saja. Untuk beasiswa ku, kau tak perlu khawatir. Aku akan diam dan menerima semua permainan nya. Aku ingin lihat, dia akan melakukan sejauh apa..
Terimakasih traktiran nya, makanan nya enak. Tapi aku permisi pulang, maaf aku duluan.." Ucap Khansa kemudian berdiri dan meninggalkan cafe.
Dari jendela, Rafa memperhatikan Khansa keluar dari cafe kemudian berlari menuju halte bus, ia duduk di sana dan menunggu bus selanjutnya tiba. Sesekali ia menyeka wajah nya yang basah karena air mata. Rafa hanya menatap nya dari jauh dengan wajah tanpa ekspresi nya.
BERSAMBUNG...