Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
39



Isi surat:


"*Untuk Khansa.


Halo Sa apa kabar? Udah dua bulan ya kita ga ketemu.. Sehat?


Lusa, hari Minggu gue tunangan sama Iren, cuma keluarga inti doang sih yang datang.


Sebelum gue bener bener sama Iren, ada hal yang mau gue sampein sama Lo.


Gue ga bisa buat kalimat yang bikin Lo tersipu atau terhura. Ini dari hati gue.


Terimakasih untuk waktu mu selama ini, aku benar benar minta maaf. Kau selalu cemas dengan orang seperti ku. Seharusnya aku membiarkan mu pergi dengan sedikit kalimat perpisahan. Bahkan ketika aku sudah berbalik, aku hanya meninggalkan perasaan bersalah yang mendalam. Kau berlinang air mata karena aku tak menjaga mu dengan baik. Dengan kejam aku selalu menyakiti mu, meskipun maksud ku bukan begitu. Aku memberi mu bekas luka yang dalam lalu pergi.


Dengan kalimat yang tidak ku mengerti, aku berbohong. Aku tak memiliki banyak hal untukmu. Aku tak layak untuk mencintai mu.


Sekarang hiduplah dengan bahagia dan lupakan aku. Pikirkan saja bahwa aku ini sudah mati. Jangan menghawatirkan aku, pergilah.


Ada Rafa yang siap menjaga mu, mengganti orang brengsek ini. Aku doakan kau bahagia, dan tidak pernah bertemu orang seperti ku lagi.


Dan satu lagi. Aku ingat pernah mengatakan kalau aku tidak mencintai mu dan hanya mempermainkan mu. Tapi itu hanyalah kebohongan yang ku ciptakan untuk membuat mu benci padaku. Membuat mu terpaksa melupakan ku. Maaf...


Sebenarnya aku mencintaimu...


Sangat mencintai mu...


Aku ada di taman dekat rumah mu besok, pukul 10 pagi. Temui aku untuk yang terakhir kalinya."


Arga Ganteng*.


"Apaan sih ni orang?! Ga jelas!"


Tanpa sadar Khansa menjatuhkan air mata nya. Ia kemudian melihat jam di tangan nya.


"Hah?! Udah jam setengah 11"


Ran berlari ke dalam rumah, bersiap dan berangkat menuju taman yang berada tak jauh dari rumah nya.


"Haduh.. Mana sih orang nya?!"


Ia melihat sosok Arga yang sedang duduk di bangku taman sambil memandangi langit. Ia berlari menuju tempat Arga.


"Woi!!"


"Eh udah dateng"


"Lo apa apaan sih?! Maksud Lo apa?!"


"Ya itu, gue minta maaf"


"Terus maksud Lo Rafa yang bakal gantiin Lo apaan?! Lo pikir gue barang yang bisa di kasih ke sana ke sini?!!"


"Sorry. Rafa kan suka sama lo, dia baik ko"


"Tapi gue ga bisa di paksa buat suka sama dia ngerti ga?!"


"Jadi Lo.. Ga ada perasaan apa apa sama dia?"


"Ga ada! Lo mikir apa sih?! Bahasa nya alay lagi! Belajar dari mana Lo?!"


Air mata mengalir membasahi wajah Khansa.


Arga maju satu langkah dan menghapus air mata di pipi Khansa.


".. Dari hati"


"Jangan pegang pegang! Lo kata nya ga cinta tapi sekarang bilang cinta! Maksud Lo apa?!"


"Gue mau bikin Lo lupain gue, gue mau Lo benci sama gue. Gue kira itu bakal bikin gue gampang buat lupain Lo, tapi ternyata sama aja. Gue ga bisa ngelupain Lo"


"Lo tau ga?! Ini gue hampir move on tau! Gara gara ngajak ketemu gue jadi suka lagi!!!"


"Sorry, abis kangen"


"Hiks.. By the way, selamat ya.."


"Hm, thanks.. Semoga Lo ketemu cowok yang baik ya, jangan kaya gue"


Khansa memukul dada Arga


"Aduh! Sampe akhir tetep mukul ya?"


"Hah!!!"


"Yaudah. Gimana kalau kita nge bakso? Gue traktir deh"


"Ga usah. Gue yang traktir!"


"Lah ko gitu?"


"Gue baru gajian, banyak duit!!"


"Hahahaha, lucu deh. Yu ah?"


Mereka berjalan ke tepi jalan dan memesan bakso. Setelah itu mereka berjalan jalan sebentar kemudian pulang.


Arga melihat ponsel nya dan melihat pesan masuk, dari Iren.


"Nanti malam kita ketemu di rumah gue. Ajak orang tua Lo"


Malam


"Assalamualaikum.. Permisi..."


"Waalaikumsalam.. Silahkan masuk.."


"Maaf pak, ada apa ya?"


"Saya kurang tau ya, ada yang ingin Iren sampaikan"


"Ayo langsung saja ke dalam"


Mereka duduk di ruang tamu. Di sana sudah ada Iren yang menunggu.


"Ada apa ya nak Iren?"


"Begini om, Tante.. Saya ingin perjodohan ini di batalkan"


"Apa?! Ada apa ini?!"


"Nak, jangan bercanda. Pertunangan kalian akan di laksanakan besok!"


"Maaf Dady, tapi sepertinya kami ga cocok. Kami punya kehidupan kami masing masing. Dan Arga seperti nya tidak bisa menerima Iren"


"Arga!" Bentak bunda Arga.


"Maaf Tante, tolong jangan menyalakan Arga, ini bukan salah Arga. Saya sadar, cinta tidak bisa di paksa, tidak bisa di beli dengan uang.


Awal nya memang saya yang ingin di jodohkan dengan Arga. Dady tolong ya, bantu mereka. Perjodohan ini di batalkan"


"Nak, apa kamu serius?"


"Serius dadyy"


"Aduh nak, kami tidak enak"


"Ga papa Tante, saya ga mau nanti Arga terpaksa hidup sama saya"


"..Maaf ya Ren.."


"Ga papa Ar.. Terimakasih selama ini udah berusaha suka sama gue..."


Sesaat suasana menjadi hening.


"Yah, kayanya cuma itu yang mau Iren sampaikan. Terimakasih semuanya"


"Kalau itu sudah menjadi keputusan kamu yasudah lah nak, Dady hanya mengikuti saja"


"Terimakasih Dady"


"Baiklah kalau begitu, kami permisi pulang pak"


"Baik pak, terimakasih. Saya akan tetap membantu perusahaan bapak, semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya!"


"Baik pak, terimakasih banyak sekali lagi pak terimakasih!"


"Hahaha santai saja pak"


Iren dan orang tua nya mengantar Arga dan orang tua nya sampai di depan rumah.


"M.. Anu, boleh bicara sebentar sama Iren pak?"


"Tentu saja. Silahkan"


Mereka sedikit menjauh dari orang tua mereka.


"Kenapa Ar?"


"Lo serius?! Kenapa tiba tiba?"


"Gue serius. Lagian kan gue ga bisa maksain, gue baru sadar. Gue juga tau ko Lo ketemu sama Khansa"


"Apa gara gara itu?"


"Engga. Gue akhirnya sadar, cinta Lo cuma buat Khansa, bukan gue. Dan gue ga bisa paksa itu, ga semua hal bisa di beli sama uang kan? Bahkan Lo ga pernah tertawa lebar kalau lagi sama gue"


"Hm, ya.. Terimakasih ya Ren.. Tapi gue jadi ga enak"


"Ga usah gitu ah. Gini aja, gimana kalau besok Lo traktir gue batagor?"


"Siap, besok kita jalan"


"Makasih Ar"


"Engga. Gue yang makasih sama Lo, makasih banyak"


"Yaudah, balik sana"


"Hahaha oke"


Arga berjalan meninggalkan Iren.


"Ah, Ar!"


"Hm?"


"Perjuangin Khansa ya!"


"Pasti!"


BERSAMBUNG...