
Khansa:
Jam istirahat kerja
Setelah makan, aku membuka ponsel ku dan mendapati pesan dari Arga.
"Sa masih kerja"
"Masih, kenapa?"
"Ntar gue jemput yak"
"Oke, thanks"
Kenapa ya? Biasa nya juga langsung aja jemput, ga bilang dulu.
Pulang
Setelah mengganti pakaian, aku bergegas ke luar dan melihat Arga sudah menunggu dengan mobil nya.
"Udah lama? Maaf ya"
"Ga papa, baru aja ko. Yu pulang?"
Aku mengangguk.
Arga membukakan pintu untukku, menyalakan mesin kemudian mengantar ku pulang.
"...Sa"
"Hm?"
"Ada yang mau gue omongin"
"Ngomong aja"
".. Gue cerita dari awal ya?"
"Iya"
Dia bercerita tentang perusahaan ayah nya yang sedang bangkrut, dan juga orang yang ingin membantu tapi dengan satu syarat, Arga harus menikahi anaknya.
Setelah mendengar itu, hati ku rasa nya sakit sekali. Baru saja bertemu dan berbaikan, kini harus siap untuk berpisah.
"..Jadi?"
"Gue juga bingung Sa.. Bunda bilang ga ada jalan lain"
".. Yah, mungkin itu yang terbaik... Gue ga papa ko"
"Tapi gue ga mau pisah sama Lo Sa"
"Gue ini orang lain Ar, Lo harus memprioritaskan keluarga Lo.. Lo ga mau kan mereka susah?"
"Tapi gue sayang sama Lo Saa"
"Coba deh, Lo ketemu dulu sama orang nya, mana tau suka"
Mati matian aku mencoba menahan air mata ku untuk keluar, menahan semua emosi yang bercampur aduk di dada, meminta nya mencintai wanita lain, bukan ini cinta yang aku harapkan...
"..Lo kalau mau nangis, nangis aja Sa..."
"Hm?! Siapa sih yang mau nangis? Gue seneng begini"
"Gue tau Lo bohong, hidung Lo udah merah, mata lo juga berkaca kaca"
Akhirnya aku melepaskan air mata ku.
"Maafin gue Sa.."
"Apaan sih? Kan bukan salah Lo, bukan salah siapa siapa ko"
"Jadi kita gimana?"
"..Gue ga tau"
"Masih mau lanjut?"
"Lanjut juga nanti bakal tetep putus kan? Akhirin dari sekarang aja, dari pada makin sayang kan?"
"Tapi.. Berat banget Sa..."
"Ga papa, Lo coba ketemu dulu aja sama orang nya, siapa tau lebih baik dari gue ya kan?"
"Tapi.."
"Udaahh ga usah tapi tapi, anterin gue pulang buruan"
Pembicaraan kami berkahir. Setelah sampai di rumah, Arga pamit pada ayah dan ibu kemudian pulang. Ini kah akhir dari kisah kita Ar?
Arga:
"Arga pulaaang"
"Arga, gimana nak? Kamu mau kan?"
"Apa sih Bun.. Aku baru pulang langsung di tanyain yang gitu"
"Hehe, maaf deh.. Jadi nya kamu gimana?"
Masih aja...
"Yaudah, nanti Arga coba"
"Serius Ar?! Ya ampun.. Makasih ya Ar, makasih! Hii mamah seneng banget! Kamu siap siap ya, nanti malam kita ketemu sama mereka"
"...Iya Bun.."
Gue masuk ke dalam kamar, mencoba menghubungi Khansa tapi ga bisa. Kenapa ya, percintaan gue begini banget.
Malam
Kami sampai di tempat yang sudah di tentukan, Whitening Restaurant.
Di depan gue ada seorang wanita dengan rambut panjang dan dress putih, calon gue. Gue hanya diam menyimak yang para orang tua ini bicarakan. Gue ngerasa sedikit risih karena cewe di depan gue ini terus ngeliatin gue, pengen pulang.
22.00
"Jadi gitu ya, acara nya tahun depan"
"Siap pak, terimakasih banyak ya pak"
"Kamu yakin nak?"
"..Yakin yah"
"Khansa?"
Gue hanya menggeleng kan kepala. Gue berterimakasih karena ayah selalu membantu dan mendukung hubungan gue sama Khansa, tapi mungkin ini yang terbaik.
"Um.. Arga"
Pak Bambang memanggil.
"Kenapa pak?"
"Mungkin kamu mau jalan jalan dulu sama Iren?"
Apa? Malam malam gini nyuruh anak cewe nya jalan sama cowo? Bapa ini waras?
"Um.. Ga usa pak, sudah malam.. Kapan kapan saja ya?"
"Aih ga papa ko, nanti kan pulang di antar kamu" Iren dengan nada sok imut tiba tiba memotong.
Ih alay
"Jalan sana Ar"
"Tapi Bun"
"Ga papa, sana"
"..Yaudah"
"Asyiiik"
Mereka semua pulang dan meninggalkan gue bersama cewe alay ini.
"Mau ke mana?"
"Jalan jalan aja, yu?"
Dia menggandeng lengan gue, risih sumpah, Khansa aja kaga pernah begini sama gue.
"Kamu bener mau nikah sama aku?"
Sebenernya sih ogah
"Hm"
"Ih ko gitu jawab nya?"
"..."
"Beb, ih"
"..Ren, denger ya... Gue tuh nikah sama Lo terpaksa, ngerti ga? Gara gara orang tua Lo mau bantuin orang tua gue"
"Hii ko gitu?"
"Ya emang gitu, padahal gue udab punya cewe, masih aja di paksa"
"Hm? Yang mana?"
"Udah lah Lo juga ga bakal kenal"
"Iiih"
Tak lama, Iren berhenti seperti terkejut kemudian berlari ke arah seorang pegawai yang sedang menyapu di luar.
"Ren! Mau ke mana dah"
Iren memeluk wanita itu dari belakang.
"Halooo"
Wanita itu berbalik dan saling bertatapan dengan Iren.
"Hah?! Lo... Ya ampun!!!"
Ko suaranya, kaya kenal?
Gue menghampiri Iren dan melihat mereka yang saling berpelukan, dan melihat wajah yang sangat tak asing sedang memejamkan matanya. Gue takut melihat ekspresi nya saat ia membuka matanya.
"Lo masih aja kerja Sa?"
"Hehe, iya Ren"
Ya, Khansa. Dia sedang tugas malam. Dia bergantian memandang gue dan Iren.
"Oh iya Sa, kenalin ini calon suami gue, Arga, cakep kan?"
Gue bisa melihat matanya yang berkaca-kaca, hidung nya yang mulai memerah.
"Ar, ini sahabat gue, Khansa"
Gue mengulurkan tangan gue untuk bersalaman dengan Khansa, dia membalas uluran tangan gue. Hati gue sakit liat dia sedih, dan gue benci sama diri gue sendiri karena penyebab dia sedih adalah gue.
"..Arga"
"...K-khansa"
Dia menarik tangan nya namun gue tetap memegang erat tangan nya, gue ga mau ngelepas Lo Sa, Tuhan tolong..
Namun Iren memisahkan tangan kami.
"Kelamaan guys, hehe"
"..Kalian kapan nikah?" Tanya Khansa dengan senyuman lebar, padahal gue tau, hati nya lagi nangis. Sorry Sa...
"Tahun depan, hehe"
"O-oh.. Selamat ya, gue ikut seneng"
"Thanks Saaa yaudah kita mau jalan lagi ya, bye"
"Hm, bye"
Iren menarik tangan gue dan pergi. Gue masih melihat ke belakang dan menatap wajah Khansa yang semakin merah, ia menunjukkan jempol nya, dan memberikan gue semangat. Gue makin berat buat ninggalin Lo Saaa
BERSAMBUNG...