
Kau tanya kenapa?! Kenapa sih kau suka sekali mengganggu orang?! Keterlaluan!" Bentak Khansa.
"Apa urusannya dengan mu? Enyah sana. Kau minta aku menghukum mu ya?" Tanya Arga.
"Berhenti mengganggu orang!" Khansa maju dan berdiri di depan Arga kemudian merampas botol minum yang ada di tangan Arga.
"Nih, ambil. Ke kelas sana" Titah Khansa pada Dion dan teman nya.
"Tap-tapi...."
"Ga usah tapi tapi. Sana ke kelas" Titah Khansa lagi.
Dion menatap Khansa sebentar dan tak lama mengangguk. Ia bersama teman nya pergi dari sana.
"Haiih... Sebenarnya apa sih mau mu? Aku sudah memberi mu waktu untuk istirahat, ya istirahat sana. Malah mengganggu!" Gerutu Arga.
"Menurut mu aku akan diam saja saat melihat teman ku di bully? Begitu?" Tanya Khansa menatap Arga sinis.
"Dia teman mu?" Tanya Arga.
".. Yaa bukan sih. Tapi kan satu angkatan!" Jawab Khansa.
"Ga usah sok pahlawan kaya si Rafa deh, jaga diri sendiri saja belum bisa" Ujar Arga.
"Kau.. Kenapa sih sangat menyebalkan? Hah? Benar benar deh..."
"Kenapa sih komen terus. Sudahlah. Siapkan diri ya, 3 hari lagi kau akan bertemu dengan ku di sini" Tambah Arga.
".. Untuk apa?" Tanya Khansa malas.
"Lupa? Kau harus melayani tuan mu kan"
"Ap- hah.. Iyaaa" Jawab Khansa malas.
"Begitu dong"
Khansa berbalik dan melangkahkan kakinya pergi dari taman. Lagi lagi Arga hanya memperhatikan punggung Khansa yang semakin menjauh dan hilang. Ia kembali pada teman teman nya.
Keesokan harinya...
Jam pulang sudah tiba, murid murid berdiri dan meninggalkan tempat mereka. Hanya tersisa beberapa siswa di kelas, termasuk Khansa dan Bela.
"Sa, ke loker bentar yu? Aku mau ambil buku" Ajak Bela.
"Boleh. Eh tapi, aku ke toilet sebentar ya? Kamu ke loker aja duluan"
"Oh gitu.. Oke deh. Tapi nanti nyusul ya"
"Iya Bel. Yu?"
Setelah selesai dengan urusan nya di toilet, Khansa segera keluar dan menyusul Bela. Ia masuk ke ruang loker dan berjalan menuju loker Bela. Sekolah ini menyediakan ruangan khusus loker, semua loker tertata dengan baik dan rapi.
"Bela.."
Khansa membelalakkan matanya melihat Bela terduduk di lantai, banyak sampah di sekitar nya. Ia berlari dan berjongkok di hadapan Bela yang sedang menundukkan kepalanya.
"Bela! Kenapa?! Kamu ga papa?!" Tanya Khansa khawatir.
Bela tak menjawab. Dan perlahan ia mulai menjatuhkan air mata.
"Bela! Ada yang sakit??" Tanya Khansa lagi.
Khansa berdiri dan menatap loker Bela. Ia jadi teringat dengan kejadian 'loker' nya dulu. Persis seperti dirinya, loker Bela di penuhi sampah.
"Kenapa Bela juga? Jangan Bela.." Batin Khansa menatap Bela merasa bersalah.
Khansa duduk di hadapan Bela dan mengusap wajah Bela yang penuh air mata.
".. Kamu ga papa?" Tanya Khansa lembut.
Bela diam sesaat, dan tak lama menganggukkan kepalanya.
".. Ayo pulang? Aku akan antar ke depan" Ajak Khansa lembut.
Bela memegang tangan Khansa kemudian memeluk nya erat.
"Hiks.. Aku akan... Cerita... Semua nya, ta-tapi..." Ucap Bela terbata.
"Ga papa, kamu bisa cerita kapan pun kamu mau. Kamu punya nomor ku dan kamu tau rumah ku. Ayo pulang?" Ajak Khansa.
Khansa menggenggam tangan Bela dan membawa nya keluar dari ruang loker. Namun, sebelum keluar dari sana ia menatap seseorang yang berdiri di samping pintu ruangan dengan tatapan membunuh.
"Jangan ke mana mana. Aku akan kembali" Titah Khansa pada orang itu.
Setelah mengantar Bela ke depan, ia menunggu sebentar sampai Bela di jemput. Setelah nya ia kembali masuk ke dalam sekolah.
🗄️🗄️🗄️RUANG LOKER🗄️🗄️🗄️
Khansa mengepalkan tangannya benar benar kesal, sampai sampai tubuh nya gemetar. Setelah masuk ke dalam ruang loker, ia menutup pintu ruangan. Setelah diam sebentar, ia menatap orang yang masih berdiri di sana dengan tatapan membunuh. Ia benar benar marah.
"Akhirnya datang juga~ Kenapa lama sekali sih? Aku sudah memerintahkan anak anak itu untuk keluar loh" Ujar pria yang sedang bersandar di salah satu loker.
Perlahan Khansa maju dan mendekati orang itu.
"Kenapa kau mengganggu Bela juga? Kenapa?" Tanya Khansa dengan suara tertahan.
"Memang kenapa? Aku memang memberimu kesempatan untuk beristirahat, tapi aku tidak bilang kan kalau aku akan berhenti mengganggu?"
"Kau boleh mengganggu ku, tapi jangan Bela!" Bentak Khansa.
"Yah, lagian.. Dia cepat sekali menyerah, tidak seperti mu. Aku lebih suka mengganggumu" Ujar Arga dengan wajah tanpa dosa nya.
"Ganggu saja aku! Tapi jangan teman teman ku! Aku bingung, sebenarnya tujuan mu apa sih melakukan semua ini? Hah? Hanya untuk kesenangan semata?" Tanya Khansa menatap Arga sinis.
"Ya. Hanya untuk itu" Jawab Arga singkat.
"Itu tidak akan terjadi-"
"Itu akan terjadi!" Potong Khansa.
".. Kau sangat membenciku ya?" Tanya Arga tiba tiba.
"Kenapa kau bertanya? Harus nya kau tahu apa jawaban nya! Apa yang kau lakukan pada Bela?!" Tanya Khansa kesal.
"Tak banyak. Seperti yang kau lihat, menghiasi loker nya, aku baik kan?" Tanya Arga tersenyum lebar.
".. Lalu?"
"Yah, aku rasa dia sedikit bau, seperti nya dia tidak mandi. Jadi, supaya dia mandi ketika pulang nanti, aku sedikit membuat nya kotor-"
Belum sempat menyelesaikan perkataannya, Khansa menarik kerah baju Arga dan mendorong nya keras ke arah loker.
"APA YANG KAU LAKUKAN P.A.D.A.N.Y.A?!" Tanya Khansa benar benar marah.
Arga diam sesaat kemudian tersenyum miring.
"Menumpahkan sampah di atas kepala nya tidak akan menimbulkan masalah besar kan?" Tanya Arga santai.
Khansa menarik kerah baju Arga dan menatap nya tajam. Kini tak ada jarak lagi di antara mereka, Khansa menatap mata Arga yang ada tepat di atas kepala nya penuh amarah.
"Jangan pernah kau sentuh orang orang di sekitar ku, kau paham? Kalau kau ingin bermain dengan ku, dengan sangat senang hati aku akan menerima permainan mu!" Bentak Khansa.
Khansa menatap Arga yang terdiam menatap nya.
"Apa? Kenapa kau diam? Kau takut aku akan memukul mu? Iya?!" Tanya Khansa kesal.
"Mana mungkin. Kau hanya perempuan lemah"
"Ya, aku perempuan lemah yang bisa membuat mu terjatuh berulang kali karena pukulanku" Balas Khansa.
".. Kenapa kau sampai semarah ini?" Tanya Arga.
"Dia orang yang berharga bagiku! Dia orang yang akan selalu ada di samping ku di saat semua orang menjauhi ku!" Jelas Khansa.
"Kau yakin dia masih mau berteman dengan mu? Setelah kejadian tadi?" Tanya Arga.
"Apa kau sengaja? Kau ingin dia menjauhi ku juga setelah Hana? Iya?" Tanya Khansa.
"Yah, sedikit menguji kan boleh" Jawab Arga santai.
".. Kurang ajar!" Bentak Khansa.
"Hey"
"Apa?" Tanya Khansa menatap Arga tajam.
"Sampai kapan kau akan seperti ini?" Tanya Arga.
".. Seperti ini apa nya? Ada apa dengan ku?" Tanya Khansa bingung.
".. Sampai kapan kau akan menempelkan tubuhmu itu pada ku? Hah? Aku ini laki laki biasa tahu!" Kata Arga.
"Eh?!"
Belum sempat melepaskan cengkeraman tangannya di kerah baju Arga, pintu loker terbuka dan terdengar suara 'CKREK'.
Khansa segera menjauh dari Arga dan memalingkan wajahnya menatap loker loker karena malu.
"A-anu.. Maaf kak, sa-saya mau ambil barang" Kata salah satu dari mereka.
"Ya tinggal ambil" Balas Arga.
Arga memperhatikan kedua siswa itu menghampiri loker mereka dan mengambil beberapa buku. Setelah itu mereka pamit dan keluar dari ruangan.
"Duh! Sumpah! Gimana kalau tadi mereka lihat?!" Gerutu Khansa.
"Udah lah, biarin" Balas Arga tak peduli.
"Enak banget kalau ngomong! Kalau kita di tuduh mau ngapa ngapain gimana? Mana aku yang di depan lagi, hah kena masalah lagi ini mah" Gerutu Khansa.
"Masalah?"
"Ya iyalah! Kalau fans gila mu sampai tahu, bisa modyarr aku" Tambah Khansa.
"Iya juga ya, aku lupa...." Batin Arga.
"Udah ya! Aku mau pulang! Gara gara kamu nih aku pulang jam segini! Lihat tuh di luar, udah mau gelap!" Bentak Khansa.
Khansa mengambil tas nya di lantai dan berjalan menuju pintu. Saat ia hendak membuka pintu, sebuah tangan besar menempel di pintu membuat nya terkejut.
".. Ap-"
"Jangan kaya barusan lagi ya, bisa bahaya loh" Bisik Arga.
Khansa bisa merasakan hembusan napas Arga di telinga nya, menggelikan. Ia mengangguk dan keluar dari ruang loker. Ia keluar dari gerbang sekolah dan duduk di halte bus menunggu bus terakhir tiba.
Ia mengambil sebuah amplop dari tas nya dan menatap nya dalam.
"Hm.. Harus cari kerja nih" Batin Khansa.
Belum sempat membuka amplop itu, seorang pria menyapanya.
"Khansa? Kenapa masih di sini? Ketinggalan bus?" Tanya pria itu.
"Eh, um.. Iya" Jawab Khansa seraya memasukkan amplop nya kembali ke dalam tas.
"Ikut aku. Aku akan mengantarmu pulang" Titah pria itu.
BERSAMBUNG...