
Kecelakaan kemarin rupa nya telah menjadi berita panas yang sudah tersebar di sekolah. Khansa benar benar jadi bahan gosip di sekolah. Dan siang ini ia harus bertemu dengan guru BK di ruangan nya.
"Permisi Bu.." Izin Khansa sebelum memasuki ruangan.
"Ya, silahkan masuk" Bu Risma mempersilahkan.
Khansa menarik kursi di depan nya dan duduk dengan baik.
"Khansa, ibu memanggil kamu ke sini karena ingin menanyakan sesuatu.. Tentang berita yang beredar di kalangan para siswa, apakah itu benar?" Tanya Bu Risma lembut.
".. Benar Bu" Jawab Khansa.
"Kenapa kamu melakukan nya sayang? Itu kan hal yang tidak baik.. Tidak bisa kah di bicarakan secara baik baik?" Tanya Bu Risma.
"Maaf Bu.. Tapi dia sudah keterlaluan... Dia mengganggu saya, apakah saya tidak memiliki hak untuk melawan nya?" Tanya Khansa.
"Nak, masalah lebih baik di selesaikan dengan kepala dingin, kamu tidak perlu menyakiti mereka" Lanjut Bu Risma.
"Lalu bagaimana dengan mereka yang menyakiti saya Bu? Semua hanya jadi penonton tanpa melakukan apa apa. Bahkan guru sekalipun tak melakukan apa apa, seakan ini tak ada. Kenapa?" Tanya Khansa sedih.
"Nak.."
"Kenapa hanya saya yang di panggil ke sini? Apa Arga di panggil ke sini juga?" Tanya Khansa.
"Dia kakak kelas mu sayang, panggilah dia dengan baik" Tegur Bu Risma.
".. Baik"
"Maaf ya sayang, ibu tidak bisa menjelaskan apa apa padamu.. Ibu hanya menyarankan, jangan mencari masalah dengan Arga.."
"Apa karena dia orang penting bagi sekolah ini? Karena dia punya koneksi dengan sekolah? Maka nya semua guru membiarkan nya bebas melakukan apapun yang dia suka?" Tanya Khansa dengan wajah datar nya.
".. Sayang.. Kamu tidak perlu tahu tentang itu.. Inti nya, ibu mohon.. Jaga sikap mu ya? Ini menyangkut beasiswa mu juga"
".. Saya tahu kenapa ibu tak bisa menjelaskan, dan saya tidak memaksa. Terimakasih" Ujar Khansa.
"Apakah masih ada yang ingin ibu katakan?" Tanya Khansa.
"Ah, tidak ada.. Kamu boleh keluar" Bu Risma mempersilahkan.
"Baik Bu. Terimakasih" Ucap Khansa seraya keluar dari ruangan BK.
Ia menutup pintu ruangan dan menghela napas.
".. Haruskah aku diam saja ketika dia mengganggu ku?" Batin Khansa dengan perasaan campur aduk di hati nya.
"Aku benci orang kaya" Tambah nya.
Tiba tiba seseorang menepuk bahu Khansa membuat nya terkejut. Ia segera berbalik, kemudian ia menghela napas lega karena itu hanyalah Bela.
"Bikin kaget aja Bel" Ujar Khansa seraya mengusap dadanya.
"Hehe, maaf maaf"
"Tapi kok, kamu di sini? Mau ke toilet? Udah bel loh, nanti kamu di marahin guru" Ujar Khansa khawatir.
"Tenang ajaa.. Guru nya ga masuk kok. Sakit kata nya" Jelas Bela.
"Oh gitu.."
"Ga papa deh, sakit aja terus. Bosen belajar" Gerutu Bela.
"Hus! Kok gitu? Ga boleh begituuu dasar jahat!" Ujar Khansa memukul pipi Bela pelan.
"Wakakak bercanda kalii" Ucap Bela memegang perutnya tertawa.
Belum hilang kesal di hati Khansa, kini ia harus kembali berhadapan dengan pria yang menjadi sumber masalah bagi nya. Kehidupan sekolah sekolah yang menyenangkan kini harus pupus karena pria yang tengah berdiri di hadapan nya.
".. Sa.." Panggil Bela seraya memegang bahu Khansa.
Perlahan Arga berjalan mendekati Khansa, ia berdiri di hadapan Khansa dan menatap nya.
".. Apa? Kau belum puas melihat ku menderita?" Tanya Khansa dengan wajah datar nya.
".. Apa maksud mu?" Tanya Arga yang sama sama menunjukkan ekspresi datar.
"Apa aku harus keluar dari sini baru kau tenang? Hah? Atau harus kah aku bersujud pada mu agar kau berhenti mengganggu ku?" Tanya Khansa geram.
".. Itu ide yang bagus" Jawab Arga menyeringai.
".. Kau lebih kotor dari sampah. Aku paling benci pada manusia seperti mu" Hardik Khansa.
"Membenci ku? Ku pikir kau malah menyukai ku setelah 'ciuman' kemarin" Ujar Arga memiringkan kepalanya.
"Ap- Hei! Kemarin kau hanya jatuh dan menimpa ku! Jangan di lebih lebihkan!" Elak Khansa.
"Kau benturkan kepala mu di mana? Kemarin kan-"
"Cukup! Aku tak mau dengar! Lebih baik kau menyingkir dan jangan pernah muncul di hadapan ku lagi, tolong" Pinta Khansa.
"Tidak bisa semudah itu kan? Aku kan sudah bilang, kau akan menyesal berurusan dengan ku. Tapi kau malah melawan, rasakan saja" Ujar Arga tak peduli.
"Hm, baiklah. Meski mulai saat ini aku tak akan melawan lagi, aku akan selalu siap menerima permainan mu" Jelas Khansa.
".. Kenapa? Akhirnya kau tak bisa apa apa ya?" Tanya Arga.
"Ya. Aku ini orang biasa yang tak bisa melakukan apa apa. Memang salah aku menantang mu yang punya kekuasaan ini. Tapi ya, mau bagaimana lagi? Aku akan selalu siap. Aku tunggu permainan mu, pecundang" Hardik Khansa kemudian berlalu meninggalkan Arga.
Arga berbalik dan memperhatikan punggung Khansa yang lagi lagi menjauh dan menghilang dari pandangan nya.
".. Kenapa susah sekali" Batin nya sebelum melangkahkan kakinya dan pergi dari sana.
🌸🌸🌸
"Sa, apa kamu baik baik saja?" Tanya Bela yang nampak nya khawatir.
"Ya. Aku baik baik saja.." Jawab Khansa.
".. Maaf aku tak bisa membantu apa apa.." Ujar Bela merasa bersalah.
"Hei, kenapa kau begitu? Aku baik baik saja.. Terimakasih ya" Ucap Khansa seraya tersenyum manis.
"Oh, ini ya orang nya" Ucap seseorang yang tiba tiba berdiri di depan Khansa.
".. Ternyata ga seberapa cantik ya? Biasa aja" Ujar salah satu dari mereka.
"Kalian siapa ya?" Tanya Bela.
"Kenalkan, saya calon pacar Arga" Ucap salah satu dari mereka dengan bangga.
"Masih calon aja bangga, heran" Batin Khansa.
"Hum, kamu musuh nya Arga kan? Tapi kok, kemarin di cium Arga mau aja?" Tanya mereka.
"Loh kak, itu ka-"
"Diam. Aku tidak bicara pada mu" Tegur mereka memotong perkataan Bela.
"Jawab" Lanjut nya.
"Itu kan kecelakaan kak, saya sama sekali ga tau akan begitu. Saya sendiri juga kaget" Jelas Khansa.
"Ga mungkin deh ya. Secara, siapa sih yang ga suka sama Arga? Kamu pasti cuma modus kan? Supaya bisa lebih dekat sama Arga?" Tuduh mereka.
BERSAMBUNG...