Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
20



Setelah nongkrong bertiga sama Rafa dan Farhan di cafe biasa, kami pulang ke rumah masing-masing.


Gue kira, setelah berbaikan kemarin keluarga gue bakal berubah jadi keluarga yang bahagia. Tapi ternyata sama aja, mereka tetep sibuk kerja. Mereka berangkat ke luar kota 1 bulan yang lalu. Tanpa kabar. Jadi ya seperti biasa, gue di rumah sama pembantu.


Karena merasa bosan, akhirnya gue bermain video game di kamar. Namun, saat sedang asik bermain, ponsel gue berdering. Dari Rafa.


"Kenapa Fa?"


"Ar, buruan ke rumah sakit sekarang! Khansa pingsan pas kerja"


"Hah?! RS mana?"


"Gue kirim lokasi nya"


Gue berlari mengambil baju dan kunci motor. Setelah itu berlari menuju parkiran dan berangkat menuju rumah sakit.


***


Rafa:


Sore ini gue lagi kepengen jalan jalan, bosen di rumah. Emang sengaja pengen lewat tempat kerja nya si Khansa, pengen liat aja.


Tapi pas sampai di sana, gue ngeliat si Khansa ga sengaja jatuh dan pingsan, kepala nya kena batu, ga terlalu besar sih. Gue segera turun dari mobil dan bawa dia ke rumah sakit. Setelah itu gue telepon Arga.


"Fa! Mana Khansa?!"


"Masih di dalem Ar, lagi di periksa dokter"


"Haih, emang kenapa sih?! Ko bisa pingsan?!"


"Tadi gue ga sengaja lewat tempat kerja nya, gue liat dia kaya nya emang kecapean sih, terus tiba tiba jatoh. Kaya nya kecapean"


"Duh, dasar bocah"


Tak lama, dokter yang menangani Khansa keluar.


"Dok, gimana?"


"Pasien cuma kecapean saja. Di biarkan dulu menginap di sini selama semalam, besok baru pulang. Agar kami bisa memantau keadaan pasien"


"Baik dokter, terimakasih"


"Silakan jika ingin masuk"


"Baik dok"


Setelah mendengar ucapan dokter, Arga berlari ke dalam ruangan. Gue rasa Arga ingin berdua dengan Khansa... Jadi gue nunggu di luar sambil memperhatikan mereka. Dari sini seperti nya masih bisa terdengar apa yang mereka bicarakan.


Arga perlahan mendekati ranjang Khansa.


Dia mulai meneteskan air mata. Baru kali ini gue liat dia nangis cuma karena temen nya sakit. Oh bukan, gebetan nya. Kaya nya dia bener bener suka sama Khansa.


Dia duduk di kursi tunggu yang berada di sebelah ranjang. Dan perlahan, Khansa membuka matanya.


"...Sa? Lo udah bangun?! Bentar gue panggilin dokter dulu"


Saat Arga hendak memanggil dokter, tangan Khansa memegang tangan Arga dan menahannya.


"Ga usah, gue cuma kecapean doang. Ga usah panggil dokter"


"Udah tau kecapean, malah maksain! Kalau cape bilang, berenti dulu!"


"Iya iya. Maaf ya bikin Lo khawatir"


"Maaf maaf, kalau Lo kenapa kenapa gimana?!"


"Udah ah. Sini, duduk. Bisa matiin AC nya ga? Gue dingin"


"Ha? Oh jadi ini pakai AC toh?"


"Lo ga ngerasa apa?"


"Engga, udah biasa soal nya"


"Dasar holang kaya"


"Bentar gue matiin"


Dia mengambil remot AC dan mematikan AC.


"Lo mau makan? Udah di anterin noh sama suster nya"


"Nanti aja, gue mau tidur ya. Ngantuk"


"Yaudah tidur sana"


Khansa mulai memejamkan matanya dan tertidur. Aku melihat wajah Arga yang tersenyum kecil. Kemudian dia menggenggam tangan Khansa.


"Cepet sembuh, my sweet heart"


Sweet heart...


Kenapa ya, rasa nya gue ga suka denger nya. Wajar aja kan ya padahal...


Setelah itu gue ngasih kabar ke Arga lewat SMS, kalau gue pulang duluan.


BERSAMBUNG...