
Dua hari telah berlalu, dan selama dua hari itu Arga sama sekali tak menunjukkan diri nya di hadapan Khansa. Khansa sama sekali tak mendapat gangguan. Khansa berharap, hari ini dan seterusnya pun ia tak akan di ganggu lagi.
Khansa dan Bela yang baru saja kembali dari perpustakaan harus menghentikan langkahnya. Harapan nya untuk tidak di ganggu pupus karena Karin and the geng sedang berjalan menghampiri nya.
"Is, mau apalagi sih mereka?!" Tanya Bela kesal.
Khansa hanya diam dan menatap Karin yang sedang berjalan ke arah nya.
"Aku dengar, kau bertemu dengan Rafa ya?" Tanya Karin menatap Khansa.
"Tidak-"
"Bohong. Kau pasti mau bilang tidak pernah bertemu dengan Rafa kan?" Tanya Karin.
"Tidak. Bukan seperti itu"
"Lalu seperti apa? Sekarang kau mendekati Rafa juga ya?" Tanya teman teman Karin.
"Kau mendekati Rafa agar dia melindungi mu kan? Agar Arga dan Rafa bertengkar? Itu kan tujuan mu?" Tanya Karin.
"Aww jahat sekali.." Balas yang lain.
"Aku sama sekali tidak ada niatan seperti itu, tolong jangan bicara sembarangan" Balas Khansa.
Sebuah tamparan berhasil Karin layangkan tepat di pipi Khansa.
"Khansa! Kau!!" Bentak Bela.
"Apa? Kau ingin di tampar juga?" Tanya Karin menatap Bela tajam.
"Kau ini kenapa sih?! Sibuk mengurusi hidup orang terus!!" Bentak Bela kesal.
"Tampar saja dia Rin!" Saran salah satu dari teman Karin.
"Hm, tapi aku tidak ada urusan dengan nya" Jawab Karin.
"Tapi dia kan membantu perempuan ini" Balas mereka.
"Benar juga ya. Baiklah, kalian yang minta ya~" Ucap Karin bersiap dengan tamparan nya.
"Hentikan" Titah seseorang dari belakang Karin.
Karin berbalik dan menatap orang itu dengan senyuman lebar. "Eh my prince! Kau bilang apa tadi?" Tanya Karin sok imut.
"Aku bilang hentikan" Titah Arga lagi.
"Kenapa harus berhenti?" Tanya Karin lagi.
"Kau ini bodoh atau bagaimana? Aku bilang hentikan!" Titah Arga lagi.
Karin menatap Khansa tajam kemudian berlalu meninggalkan nya. Khansa menatap Arga dengan wajah datar nya, begitupun Arga.
".. Ikut aku" Titah Arga kemudian berbalik.
".. Ke mana?" Tanya Khansa.
"Jangan banyak tanya dan cepat ikut!" Titah Arga lagi.
Khansa berjalan di belakang Arga dan mengikuti nya. Mereka sampai di kantin. Suasana kantin sangat ramai, banyak manusia berkumpul dan menikmati makanan mereka.
Khansa memperhatikan Arga sedang berdiri di samping sebuah meja. Arga menuangkan banyak sekali sambal serta saus ke dalam sebuah mangkuk bakso.
"Apa apaan itu?! Sambal nya.. Sambal nya 8 sendok?! Lalu saus nya.. Hampir setengah botol?! Apa dia akan memakan makanan yang tak layak untuk di konsumsi itu?!" Batin Khansa.
Arga meletakkan botol saus dengan kasar ke meja, hampir membanting nya. Membuat semua terkejut dan akhirnya terciptalah keadaan yang hening.
".. Duduk dan habiskan ini" Titah Arga menatap Khansa masih dengan ekspresi yang sama.
".. Apa?" Tanya Khansa tak mengerti.
"Aku bilang, duduk dan habiskan ini" Titah Arga lagi.
"Apa maksudmu?" Tanya Khansa.
"Aku sudah memberi mu waktu untuk beristirahat, bahkan dua hari. Jika kau bisa menghabiskan ini, aku akan meringankan hukuman untuk mu. Bagaimana?" Tawar Arga.
".. Kau... Kapan kau akan melepaskan ku?" Tanya Khansa.
".. Aku kan sudah sering bilang, kau tidak akan mudah lari dari ku. Paling tidak aku akan memberi mu waktu dan membiarkan mu berisitirahat. Itu kan yang kau mau? Habiskan." Titah Arga.
Khansa menatap mangkuk bakso yang ada di meja, ia terdiam dan menelan ludah nya.
".. Kau tidak mau?" Tanya Arga.
"Ah?! Tidak! Aku akan memakannya" Perlahan Khansa maju dan duduk. Ia mengambil sendok serta garpu nya kemudian menyuapkan bakso merah itu ke mulut nya.
Khansa mengernyitkan dahinya dan memejamkan matanya. Ia merasa seperti ada sesuatu yang membakar mulut nya.
Khansa berusaha kuat dan kembali menyuapkan bakso itu ke mulut nya. Hingga bakso tersisa setengah mangkuk.
"Uuh.. Kenapa ga habis habis sih?!" Batin Khansa kesal.
"Apa apaan ini? Hei, hentikan" Titah seseorang, membuat semua orang menatap nya, termasuk Arga.
".. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Arga.
"Seharusnya aku yang bertanya! Apa yang kau lakukan?!" Tanya Rafa menatap bakso yang ada di hadapan Khansa.
"Khansa! Cukup, minggir. Biar aku yang memakan nya" Titah Rafa.
".. Kenapa kau mau melakukan nya? Kau menyukai nya ya?" Tanya Arga.
"Apa? Aku tidak mung-"
"Dia tidak mungkin menyukai ku. Kenapa pembicaraan mu jadi ke mana mana sih?! Fa, aku tak apa. Ini enak kok, serius.. Sudah ya, jangan khawatir" Jelas Khansa.
"Kau baik baik saja? Tidak mungkin!" Ujar Rafa melihat wajah Khansa yang merah dan air mata yang mengalir di pipi nya.
"Aku akan membiarkan nya beristirahat jika dia berhasil menghabiskan bakso itu. Kau mau perjuangan nya sia sia? Sudah setengah mangkuk tuh" Tanya Arga.
".. Hanya istirahat? Kapan kau akan melepas nya?" Tanya Rafa kesal.
".. Itu urusan ku, kau tidak perlu ikut campur" Jawab Arga ketus.
"Apa ini? Aku sahabat mu, aku juga berhak menegur mu ketika kau salah!" Bentak Rafa.
"Memang apa yang aku lakukan? Aku kan sedang bermain. Sudah lah, diam saja. Aku tidak ingin berdebat. Biarkan dia makan" Balas Arga seraya menatap Khansa.
"Sa, kalau memang sudah tidak kuat, bilang saja ya?" Titah Rafa seraya mengusap kepala Khansa dan di balas anggukan oleh Khansa.
30 menit berlalu... Akhirnya Khansa berhasil menghabiskan bakso nya.
"Habis!" Ucap Khansa senang.
"Ini kan yang kau mau?! Ingat janji mu dan biarkan dia beristirahat" Rafa mengingatkan.
"Ya" Jawab Arga singkat.
"Kau bahkan tak memberi nya air, keterlaluan" Ucap Rafa seraya memberikan botol minum pada Khansa.
"Terimakasih Fa" Ucap Khansa mengambil botol air dari tangan Rafa.
".. Waktu mu 5 hari" Ucap Arga menatap Khansa tajam.
Khansa menatap Arga lega. Meskipun hanya 5 hari, setidaknya ia bisa istirahat sebentar. Arga membalas tatapan Khansa selama beberapa detik kemudian melangkahkan kakinya pergi meninggalkan kantin.
"Kau baik baik saja?" Tanya Rafa.
".. Iya" Jawab Khansa masih merasakan panas di bibir nya, dan kini berpindah ke perut nya.
"Kenapa wajah mu seperti itu? Apa ada yang sakit?" Tanya Rafa.
"Tak ada. Kau susul Arga saja, terimakasih ya"
"Kenapa aku harus menyusul nya?" Tanya Rafa.
"Aku rasa hati nya sedang tidak baik, susul sana" Titah Khansa.
".. Kenapa kau peduli pada nya?" Tanya Rafa.
"Siapa yang peduli? Aku sama sekali tak peduli pada nya" Balas Khansa.
".. Kau kembalilah ke kelas" Titah Rafa.
"Hm, iya"
Rafa berbalik dan keluar dari kantin. Khansa pun berdiri dan keluar dari sana.
"Tunggu... Di mana Bela?" Batin Khansa baru menyadari kalau Bela tak ada di sana.
"Uh.. Mulut ku panas..." Tambah Khansa.
Khansa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mencuci wajah nya. Namun saat masuk ke kamar mandi, ia mendengar teriakan seseorang.
"Woooyy!! Bukaaa!! Dasar perempuan perempuan sampaaah!!!" Bentak seseorang yang seperti nya familiar bagi Khansa.
".. Halo? Ada orang di dalam?" Tanya Khansa.
"Khansa! Khansa kan? Sa tolong bukain ini!!" Pinta Bela.
BERSAMBUNG...