
Khansa menarik kursi nya kemudian duduk. Ia masih memikirkan perkataan Rafa kemarin, apakah Bela akan ikut terseret ke dalam masalah nya juga jika terus membantu nya?
Ia tersadar dari lamunannya saat Bela menepuk bahu nya.
"Selamat pagi zheyeeng" Sapa Bela.
".. Pagi..." Jawab Khansa.
"Ada apa? Ada yang menyakiti mu lagi?" Tanya Bela menatap Khansa serius.
"Um, tidak.."
"Jadi? Ada apa?" Tanya Bela penasaran.
".. Bel, mungkin.. Mulai sekarang lebih baik kau jangan dekat dekat dengan ku, ya?" Pinta Khansa.
"Apa maksudnya?" Tanya Bela tak mengerti.
"Kau akan lebih baik jika jauh dariku, jangan pedulikan apa yang terjadi padaku. Anggap saja kita ini tidak kenal, ya?" Pinta Khansa lagi.
".. Ada apa dengan mu? Kenapa tiba tiba bicara hal aneh? Apa yang terjadi? Cepat ceritakan" Titah Bela.
"Kau.. Akan terkena masalah juga jika dekat dengan ku, kau akan terluka juga.. Aku tak mau itu sampai terjadi.. Kumohon, jangan dekat dekat dengan ku" Pinta Khansa.
"Sejak kapan kau berpikir begitu? Apa ada seseorang yang mengatakan itu pada mu?" Tanya Bela.
".. Tidak. Aku memikirkan ini semalaman, dan aku yakin untuk menjauhi mu. Aku mohon Bel, cukup aku yang merasakan ini, jangan kau" Ujar Khansa.
".. Apapun yang akan terjadi, aku akan di sini, di samping mu.. Apapun yang akan terjadi padaku, aku tak akan meninggalkan mu" Tolak Bela.
"Tapi aku tak mau itu terjadi.. Kau anak baik, sangat baik.."
"Lalu kenapa? Aku bersedia untuk menderita bersama dengan mu" Ucap Bela.
".. Kenapa kau sampai seperti ini? Padahal yang lain menjauhi ku..." Tanya Khansa.
"Aku berbeda dengan sampah seperti mereka, berteman dengan tujuan tertentu. Teman nya susah bukan nya di bantu malah di tinggalkan. Benar benar deh..." Jelas Bela.
Bela mendekat pada Khansa dan memeluk nya.
"Jangan bicara begitu lagi ya? Kita hadapi sama sama" Kata Bela mengusap punggung Khansa.
Khansa memeluk erat Bela dan menangis di pelukan nya. "Terimakasih Bel.."
🍁🍁🍁
Semenjak hari itu Khansa berusaha tegar, kuat, dan sabar saat di ganggu. Ia tak pernah melawan lagi, baik dari perkataan atau pukulan, tak pernah ia tunjukkan lagi.
Siang ini ia duduk bersama Bela di kantin untuk menyantap bekal nya, seperti biasa.
"Sa, kenapa kau terus datang ke kantin? Mereka akan mengganggu mu lagi.." Tanya Bela.
"Kalau aku di kelas, mereka akan mencari ke kelas. Aku tak mau anak kelas sampai tahu" Jelas Khansa.
"Mereka kan sudah tahu. Apalagi kemarin kau di kerjai dan di kunci di kamar mandi, mereka masih membicarakan nya tahu. Padahal aku baru meninggalkan mu sebentar, tapi mereka sudah main seret saja!" Tambah Bela.
".. Biar saja lah..."
".. Apa kau lelah?" Tanya Bela.
".. Sedikit?" Jawab Khansa tersenyum kecil.
Khansa menundukkan kepalanya dan melihat sepasang sepatu di samping meja nya.
".. Hah... Apakah sekarang?" Batin Khansa.
Khansa mengangkat kepalanya dan menatap siapa yang berdiri di samping nya. Sosok yang sudah lama tidak ia lihat, sedang menatap nya tanpa ekspresi.
Arga, setelah sekian lama ia tidak muncul di hadapan Khansa, akhirnya kini ia datang dan berdiri di hadapan Khansa. Ia membuka tutup botol minuman nya dan menumpahkan separuh air nya ke lantai.
".. Bersihkan itu" Titah Arga menatap Khansa masih dengan ekspresi yang sama.
"..Sa... Jangan!" Bisik Bela.
Khansa diam selama beberapa detik, kemudian perlahan menunduk dan akhirnya duduk di bawah membersihkan tumpahan air menggunakan sapu tangan nya.
Belum selesai membersihkan lantai yang basah, Arga kembali menumpahkan air nya di kepala Khansa. Khansa hanya diam dan membersihkan lantai dengan tenang.
"Hei! Apa apaan kau?! Kenapa kau tak pernah berhenti mengganggu Khansa?!" Bentak Bela.
".. Dia pantas mendapatkan nya bukan?" Jawab Arga menatap Khansa.
"Apa kau gila?! Dia tidak pantas di perlakukan seperti ini!!" Bentak Bela.
"Lebih baik kau diam saja, kau ingin menjadi seperti dia?" Tanya Arga menatap Bela tajam.
"Ap-"
"Aw, ada apa dengan kalian? Aku terharu" Ujar Arga membuat Bela semakin geram.
Tangan Arga tak diam setelah air di botol nya habis. Ia mengambil kotak makan Khansa dan memperhatikan nya.
".. Hah~
Apa ini? Kau membawa ayam kali ini? Biasa nya hanya tahu tempe dan sayur. Bergaya sekali kau ya sekarang" Ujar Arga.
"Kau ingin bergaya seperti kami juga? Ingin seperti orang kaya juga rupa nya.." Tambah Arga.
Arga menatap Khansa yang seperti nya tak menghiraukan apa yang ia katakan.
".. Heh, cuma di goreng biasa lagi. Ini tak lebih dari sekedar sampah!" Ujar Arga seraya membanting kotak bekal Khansa ke lantai membuat semua orang terkejut, termasuk Khansa.
Khansa melirik kotak bekal nya yang pecah dan mengambil nya, ia melihat ke sisi yang lain, makanan nya berhamburan dan kotor.
"K-khansa.." Panggil Bela namun dengan suara yang sangat kecil.
Arga diam dan memperhatikan reaksi Khansa, ia berharap Khansa akan melawan nya seperti dulu. Namun Khansa hanya diam tak melakukan apa apa.
🍂🍂🍂
Khansa masuk ke dapur dan menghampiri sang ibu yang sedang menyiapkan bekal untuk nya.
"Ibu.. Kenapa ibu menyiapkan Khansa bekal lagi? Khansa bisa melakukan nya sendiri.." Tanya Khansa tak enak.
"Tak apa nak, ibu juga tidak ada kerjaan. Semua sudah kamu lakukan, hahaha" Jawab Bu Ani tertawa.
".. Ibu, apa Khansa salah lihat? Kenapa Khansa melihat ayam di kotak bekal?" Tanya Khansa tak percaya.
"Ini betulan ayam kok nak, kemarin ibu belikan di pasar. Di habiskan ya?" Jawab Bu Ani mengelus pipi Khansa.
"Tapi Bu, kenapa ibu beli ayam? Kalau untuk membeli tahu, kita bisa dapat 4 atau 5 bungkus kan?" Tanya Khansa.
"Tak apa, sesekali kamu makan enak" Jawab Bu Ani.
"Ibu dan ayah juga harus makan ayam nya ya! Harus!" Ujar Khansa.
"Iya sayang.. Ayo cepat ke meja makan, kita sarapan. Nanti kamu terlambat" Titah Bu Ani.
"Baik Bu. Ah ya, Khansa panggil ayah dulu ya Bu? Seperti nya ayah masih bersiap" Ujar Khansa seraya meninggalkan dapur.
🍂🍂🍂
Khansa menatap makanan nya yang tumpah dan berserakan di lantai. Perlahan ia mengumpulkan nya dan memasukkan nya kembali ke dalam kotak bekal. Namun, saat ia memungut ayam goreng, ia teringat pada ibu nya.
"Ibu.. Khansa minta maaf..." Batin nya.
Khansa meneteskan air mata nya. Sedih, kesal, semua rasa itu bercampur dalam hati nya.
"Ibu dan ayah susah payah menabung agar aku bisa makan ayam, karena aku suka ayam.. Tapi.. Tapi lihat, apa yang aku lakukan? Aku malah menyia nyiakan nya seperti ini..." Batin Khansa.
Khansa menatap sepasang kaki yang berdiri di depan nya. Ia mengangkat kepala nya dan menatap sosok Arga. Ia benar benar kesal, kini ia benar benar marah. Ia berdiri dan menatap Arga dengan tatapan membunuh.
"Oh? Lihat ini, kau menatap ku seperti itu lagi?" Ucap Arga tersenyum simpul.
".. Ternyata selama ini aku diam belum cukup ya? Apalagi yang kau inginkan? Kau ingin aku keluar dari sini?" Tanya Khansa menahan suara nya.
"Jika itu bisa kau lakukan, lebih baik kau lakukan. Aku akan sangat senang kalau akhirnya aku akan berhenti melihat mu" Balas Arga.
".. Aku tak akan pernah melakukan nya" Jawab Khansa tegas.
"Apa perlu aku yang melakukan nya?" Tanya Arga.
".. Apa maksud mu?" Tanya Khansa.
"Aku bisa membuat beasiswa mu di cabut dan kau keluar dari sini. Lagi pula di sini adalah lingkungan bagi mereka yang kaya, kau tak pantas. Maka nya aku-"
PLAK
Sebuah tamparan berhasil Khansa layangkan pada Arga. Arga terdiam sesaat kemudian menatap Khansa tajam.
".. Berani nya kau menampar ku?! Berani sekali kau, dasar orang rendahan! Kau pikir kau siapa?! Kau lupa dengan siapa kau berhadapan?! Hah?!"
Khansa mengepalkan tangannya dan mengarahkan nya pada wajah Arga. Mendapat serangan tiba tiba dari Khansa membuat Arga terkejut dan akhirnya jatuh ke lantai.
"Aku berusaha diam selama ini berharap kau akan berhenti, tapi apa? Kau malah semakin menjadi. Aku tak mengerti, kenapa tuhan menciptakan manusia macam kau!" Bentak Khansa.
"Aku tak peduli kau siapa, sekalipun kau anak presiden, kau tetaplah sama di mataku, bagi ku kau hanyalah pecundang, pengecut yang bisa nya hanya mengandalkan harta orang tua mu. Kau sendiri bahkan tak bisa mencari uang kan?! Jadi jangan sombong!!" Bentak Khansa benar benar marah.
Khansa mengumpulkan sisa sisa makanan yang ada di lantai dan memasukkan nya ke kotak bekal. Setelah itu ia menatap Arga yang masih terduduk di lantai yang juga sedang menatap nya. Setelah beberapa detik menatap Arga, ia melangkahkan kakinya berlalu dan pergi meninggalkan kantin, di ikuti Bela di belakang nya.
BERSAMBUNG...