
Arga:
Gue merasakan ada tangan yang mengelus rambut gue.
"..Ar.."
Terkejut mendengar suara Khansa, gue pun terbangun. Masih memegang tangannya.
"Lo mau makan? Atau mau ke kamar mandi?"
"Engga, ga mau apa apa. Jam berapa sekarang?"
"Sekarang? Hm, jam 9. Kenapa?"
"Pagi?"
"Iya, pagi"
"Ya ampun Ar! Orang tua gue! Kerjaan gue! Terus Lo ngapain ga pulang?!"
"Eh iya ya, gue belum telepon orang tua Lo, gimana dong?! Bentar gue tanya Rafa dulu"
"Lah kenapa dia?"
"Dia yang bawa Lo ke sini soal nya"
"O.. Gitu. Gue belum bilang makasih"
"Ntar aja"
Gue mengirimkan pesan kepada Rafa, tentang orang tua Khansa. Dan dengan cepat dia membalas kalau dia memberitahu orang tua Khansa bahwa Khansa sedang kerja lembur. Kata nya supaya orang tua nya ga khawatir.
"Hm, gitu..."
"..Heem"
"Terus kenapa Lo ga pulang?"
"Jagain Lo"
"Orang tua Lo gimana? Ngebolehin?"
"Ga tau. Gue ga bilang"
"Lah kenapa?"
"Mereka kaya dulu lagi, asik kerja. Ga ada sama sekali ngehubungin gue"
"Sabar ya, mereka kan kerja buat Lo juga"
"Masa nelpon 5 menit aja ga bisa"
"Udah, mending Lo pulang. Siapa tau mereka pulang. Terus ini gue bisa pulang kapan?"
"Bentar, gue tanya dokter"
Ternyata sekarang ini Khansa sudah bisa pulang. Jadi gue bantu dia buat beres beres dan nganterin dia pulang.
"Makasih ya Ar, maaf ngerepotin"
"Ga papa lah Sa, santai aja"
"..Lo jangan sedih ya.. Kalau ada yang mau di ceritain gue siap ko dengerin. Lo hati hati"
"Makasih ya"
Gue mengusap kepala nya dan mencium keningnya.
"Cepet sembuh. Jangan maksain kerja dulu, ijin aja dulu. Besok sekolah loh, ujian"
"Iya iya.. Makasih ya"
"Yaudah, gue balik ya"
"Hati hati"
Saat sampai, gue ngeliat ada mobil yang biasa di pake bunda. Dan saat gue masuk...
"Aduuhh Ar, dari mana kamu?"
"..Bunda pulang?"
"Iya, maaf ya bunda baru bisa pulang sekarang"
Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi.
"Kamu dari mana?"
"Rumah sakit"
"Hah?! Kamu sakit apa? Mana yang sakit?!"
"Bukan aku, temen ku"
"Siapa? Rafa? Atau Farhan?"
"Bukan mereka juga Bun. Ada temenku, nama nya Khansa"
"Khansa? Cewek ya?"
"Iya cewe"
"Wiiih siapa nih? Kenalin dong, pacar ya??"
Bunda meledekku.
"Bukan pacar buuun.. Gebetan"
"Ihiiiyyy kenalin dooong. Eh tapi, kerjaan ayah nya apa?"
"Karyawan di perusahaan ayah, kenapa Bun?"
"Karyawan? Ga ada yang lain?"
"Ga ada, emang kenapa Bun?"
"..Kamu serius sama cewe ini?"
"Serius"
"Maaf ya Ar.. Tapi, bisa ga kamu cari cewe lain aja?"
"Loh kenapa Bun?"
"Kita ini keluarga terpandang, masa nanti bunda besanan sama karyawan biasa?"
"Bun, aku sama dia ga mandang apa apa"
"Tapi dia yang mandang apa apa sama kamu"
"Bun, dia ga kaya gitu. Dia anak baik baik"
"Aduh Ar, apa kata temen temen bunda nanti?"
"Bun, cukup. Selama ini aku selalu nentuin apa yang bakal aku lakuin. Ga ada yang bisa larang, termasuk bunda"
"Kamu ko jadi ngelawan sama bunda?! Pasti gara gara cewe ini nih, kamu kan ga pernah ngelawan bunda"
"Bunda cukup. Jangan bawa bawa Khansa lagi. Aku serius sama dia, dan ga ada yang bisa halangin aku. Aku mau ke kamar dulu"
"Arga! Dengerin bunda dulu, ini yang terbaik buat kamu!"
"Terbaik buat bunda, bukan buat aku"
"Arga!"
Gue meninggalkan bunda dan menuju kamar. Padahal awalnya kita hanya ngobrol santai, tapi akhirnya malah jadi bertengkar. Hah...
BERSAMBUNG...