Rich Man And Poor Woman

Rich Man And Poor Woman
38



"Lo.. Dari tadi?"


"Iya"


"Yaudah mau ngomong apa?"


"Kamu sama Khansa masih pacaran?"


"Ga. Barusan putus"


"Tapi ko kamu cium pipi nya?"


"Ya ga papa, terakhir kalinya"


"Murahan ya emang! Mau aja seenaknya di cium sama cowo"


"Jaga mulut Lo ya! Dia cuma gitu sama gue, lagian sebelum nya gue ga pernah minta yang aneh aneh ko. Ini pertama kalinya. Udah deh ga usah jelek jelekin dia terus"


"Coba sekarang kamu cium aku! Cepet!!"


"Ha? Apaan?! Ogah!!"


"..Kenapa sama aku ga mau?!"


"Ya gue ga mau poko nya! Lo kenapa sih ah!"


"..Ar! Aku ini calon istri Kamu!"


Arga memalingkan pandangannya ke arah lain.


"Ar! Sekarang gue tanya, Lo sebenernya ada rasa ga sama gue?"


"Lo mau gue jujur?"


"Ya"


"Gue ga ada perasaan apa apa sama Lo"


"Sedikit pun ga ada?"


"Ya"


"Lo kemana aja Ar?? Dari awal kita ngedate sampe sekarang Lo ga ngerasain apapun sama gue?"


"Engga"


"Kenapa sih Ar kenapa?!"


Iren memukul dada Arga. Air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Lo bahkan biasa aja liat gue nangis begini! Kenapa Lo ga bisa perlakuin gue sama kaya Khansa?!"


"Ya beda lah! Gue ga bisa nyamain Khansa sama Lo"


"Kenapa?!!"


"Gue suka semua tentang Khansa! Dan itu ga ada di Lo"


"Apa? Apa yang ga ada? Gue cantik Ar!"


"Gue ga butuh muka Lo, sorry"


"Jadi gue harus gimana biar Lo bisa nerima gue?!"


"Ga ada. Lo berdoa aja, supaya Tuhan ngasih keajaiban gue bisa suka sama Lo. Semoga. Gue balik ya, gue ga mood. Nanti gue suruh supir buat jemput lo"


Arga melangkahkan kaki nya menuju motor. Biasa nya ia akan memaksakan dirinya untuk terus ada di samping Iren, tapi kali ini ia benar benar tidak mood.


2 bulan telah berlalu...


Semua persiapan acara pertunangan Arga dan Iren sudah siap. Lusa akan di laksanakan. Selama ini mereka sudah sering bertemu dan kencan. Namun Arga tetap tidak memiliki perasaan apapun pada Iren. Kini, mereka sedang duduk di bangku taman yang ada di belakang rumah Iren.


"Ar.. Gue tanya sekali lagi sama Lo. Lo udah suka sama gue?"


"..Belum"


"Kita harus gimana lagi sih Ar? Kencan udah, semua udah.. Lo bahkan ga pernah ngobrol sama gue pake 'aku kamu'. Pertunangan kita lusa loh Ar"


"Gue sama Khansa aja ga pernah pake aku kamu"


"Hm. Khansa lagi.."


Tanpa sadar Arga menyebut nama Khansa di depan Iren, lagi.


"Sorry"


"Lo selalu sebut sebut dia, Lo selalu inget sama dia. Lo ga mikirin perasaan gue apa?"


"..Sorry Ren.. Tapi gue emang ga ada perasaan apa apa sama Lo.. Gue ga bisa di paksa buat suka sama Lo"


"Terus kita gimana?"


"Jalanin aja lah, udah begini juga"


Obrolan mereka berakhir. Iren masuk ke dalam rumah dan meminta Arga untuk pulang. Kata nya ia sedang lelah.


Rumah Arga


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam.. Udah pulang Ar?"


"Iya yah.."


"Kamu kenapa? Ko gitu muka nya?"


"Hm? Ga papa yah. Aku lagi cape aja"


"..Kamu bener mau tunangan sama Iren?"


"Iya.. Udah sampe sini juga yah.. Aku ga mau kecewain bunda lagi.. Arga masuk kamar ya yah? Badan sakit sakit, hehe"


"..Yasudah, istirahat ya nak"


"Siap yah"


Arga mengunci pintu kamar nya dan duduk di jendela kamarnya. Lagi lagi ia terpikir sosok Khansa. Lusa ia akan bertunangan dengan Iren. Hanya keluarga inti yang di undang.


Ia terpikir untuk menuliskan sesuatu untuk Khansa. Sebuah surat. Ia berlari menuju meja belajar nya, mengambil kertas dan pulpen. Ia mulai merangkai kata kata.


Keesokan harinya...


Hari ini Khansa libur bekerja, jadi dia hanya di rumah dan membantu orang tua nya membersihkan rumah. Saat ia sedang menyapu halaman rumah, datang seseorang memberikan surat pada nya.


"Permisi.. Apa benar ini rumah nya Fariza Khansa Yuan?"


"Ya benar. Ada apa ya pak?"


"Ini mba, ada surat"


"Dari siapa ya pak?"


"Ga ada nama pengirim nya mba, maaf"


"O.. Iya.. Terimakasih ya pak"


"Baik mba. Saya permisi ya mba"


"Iya pak, terimakasih"


"Mari.."


"Tumben.. Dari siapa ya?"


Khansa membuka surat itu dan melihat tanda tangan di akhir surat. Tanda tangan seseorang yang sangat familiar.


Ia pun membaca nya...


BERSAMBUNG...